Breaking News:

WAWANCARA KHUSUS

Moeldoko Ungkap di Balik Penunjukan Luhut Jadi Panglima Perang PPKM Darurat Jawa-Bali

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko bercerita peran Kantor Staf Presiden (KSP) dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19.

Editor: khamelia
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko memberikan keterangan pers di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (3/2/2021). Keterangan pers tersebut untuk menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono terkait tudingan kudeta AHY dari kepemimpinan Ketum Demokrat demi kepentingan Pilpres 2024. (TRIBUNNEWS/HERUDIN) 

Apa peran KSP terkait upaya pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19?

Secara umum, tugas pertama memastikan bahwa program atau Proyek Strategis Nasional tersampaikan dengan baik. Kalau ada hambatan di lapangan, kita yang membantu menyelesaikan. Misal persoalan tanah, atau persoalan lintas koordinasi antar kementerian dan kelembagaan kita ikut membantu. Sehingga bisa berjalan sesuai.

Berikutnya komunikasi politik dan publik, supaya masyarakat memahami. Karena disinformasi sungguh luar biasa. Berita yang salah berulang-ulang jadi seolah benar. Tugas kami meluruskannya.

Tugas lain gimana persoalan komunikasi, itu mudah diucapkan tapi tidak mudah dilakukan. Pak Jokowi punya program tentang bagaimana gaya bekerja dengan pendekatan melayani. Pak Presiden concern bagaimana birokrasi bisa melayani.

Kami membuka kantor KSP selebar-lebarnya agar terjadi komunikasi yang baik antara masyarakat dan kantor kepresidenan. Biasanya komunitas, asosiasi datang ke kantor kami. Mereka menyampaikan keluhan, kadang marah di sini, kami mendengarkan saja. Karena KSP tempat terakhir pengaduan. Setidaknya kami menyampaikan kepada lembaga terkait.

Itu lah peran-peran yang kami jalankan. Bagaimana kami ingin mendekatkan masyarakat dengan Istana. Apa yang saya dengarkan, catat, kalau Presiden perlu mendengarkan, kami sampaikan.

Kabinet kita dinilai tidak kompak menghadapi Covid-19?

Sebenarnya bukan itu. Kalau soal penanganan Covid itu, hampir tiap Minggu 2-3 kali Presiden rapat terbatas. Memonitor dan evaluasi langkah menteri. Lalu Presiden membuat keputusan. Itu langsung presiden. Kenapa tidak mudah dipahami, bahwa persoalan Covid semua kepala negara tidak ada yang siap.

Sehingga memang orang di luar melihatnya seolah penanganan tidak terkoordinasi dan harmonis. Covid ini persoalan kayak balon, pencet di sini problem di sana. Negara kita luas, mobilitas tinggi. Tidak bisa kita apple to apple dengan Singapura.

Kelompok menengah ke atas mungkin oke, tapi masyarakat di bawah kalau ditutup bagaimana. Ini memang problema tidak mudah. Karena itu presiden mengambil jalan tengah. Begitu Covid naik, ekonomi direm.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved