Breaking News:

Berita Sunagiliat

Di Masa Pandemi Covid-19 Banyak Suami Kehilangan Pekerjaan, Perceraian Didominasi Cerai Gugat Istri

Pengadilan Agama (PA) Sungailiat di masa wabah pandemi Covid-19 sejak Januari hingga Juli 2021 sudah menerima sebanyak 562 perkara perceraian.

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Edwardi
Anshori, Humas PA Sungailiat 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pengadilan Agama (PA) Sungailiat di masa wabah pandemi Covid-19 sejak Januari hingga Juli 2021 sudah menerima sebanyak 562 perkara perceraian.

Di mana perkara cerai gugat (pihak istri yang menggugat) sebanyak 428 perkara dan cerai talak (pihak suami yang menalak) sebanyak 134 perkara.

Sedangkan jumlah perkara yang sudah diputuskan PA Sungailiat sebanyak 483 perkara dengan rincian, perkara cerai gugat 370 perkara dan cerai talak 113 perkara sudah dersidanganiputuskan pengadilan, dan tersisa 79 perkara masih dalam proses persidangan.

Diketahui PA Sungailiat membawahi wilayah hukum Kabupaten Bangka, Bangka Tengah dan Bangka Selatan.

"Dari ketiga wilayah hukum PA Sungailiat ini kasus perceraian terbanyak terjadi di Kabupaten Bangka sebanyak 296 perkara, Bangka Tengah 141 perkara dan Bangka Selatan 125 perkara," jelas Anshori, Humas PA Sungailiat mewakili Ketua PA Sungailiat, Muhammad Aliyuddin di kantornya, Jumat (30/07/2021).

Diungkapkan Anshori pada masa pandemi Covid-19 saat ini perkara perceraian yang didaftarkan masyarakat cukup tinggi, sedangkan untuk pelayanan di PA Sungailiat tetap harus menetapkan protokol kesehatan pencegahan penularan wabah Covid-19 secara ketat.

"Saat pandemi ini kita membatasi hanya melaksanakan 8 kali persidangan perkara dalam satu hari, untuk sisa perkara lainnya dilanjutkan pada hari berikutnya," ungkap Anshori.

Diakuinya pihak PA Sungailiat sudah membuka pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) untuk memudahkan masyarakat yang ingin mendaftarkan pelayanan perkara, bisa mendaftarkan langsung maupun lewat sistem online e-cout.

"Kita saat ini membatasi satu hari hanya 8 perkara yang disidang, bila saat ini baru mendaftar kemungkinan awal September nanti baru bisa disidangkan," kata Anshori.

Ditambahkannya memang masyarakat ingin secepatnya bisa menyelesaikan persoalan dalam rumah tangganya, namun karena kondisi pandemi Covid-19 saat ini hanya bisa melaksanakan persidangan sebanyak 8 perkara saja, untuk menghindari jangan sampai banyak masyarakat berkerumun.

"Kita khawatir kalau terlalu banyak masyarakat berkerumun nanti terkesan kita tidak mematuhi prokes pencegahan penularan wabah Covid-19, karena itu kita lakukan pembatasan dalam rangka menjaga jarak namun PA Sungailiat tetap harus memberikan pelayanan secara prima kepada masyarakat," jelas Anshori. 

Diungkapkannya, faktor penyebab tingginya kasus perceraian saat ini karena faktor ekonomi yang terganggu, di mana akibat wabah pandemi Covid-19 ini banyak orang kebanyakan PHK.

"Karena sang suami banyak tidak punya pekerjaan sehingga tidak ada penghasilan menyebabkan istri banyak mengugat cerai akibat dapur rumah tangga berantakan, hal ini juga menjadi faktor pertimbangan yang berat bagi para hakim untuk membuat keputusan perkara ini," beber Anshori.

Selain itu juga menurutnya, ada disebabkan faktor sakit, perselingkuhan dan lainnya.

(Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved