Breaking News:

Cukup Donasi Rp2 T dari Akidi Tio Saja yang Permalukan Elite

Virus baik rupanya juga bisa membuat napas banyak orang tiba-tiba menjadi sesak seketika meski tidak sedang terpapar Covid-19.

Cukup Donasi Rp2 T dari Akidi Tio Saja yang Permalukan Elite
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

SESAK napas rupanya tak hanya disebabkan oleh virus Covid-19 belaka. Virus baik rupanya juga bisa membuat napas banyak orang tiba-tiba menjadi sesak seketika meski tidak sedang terpapar Covid-19.

Inilah virus yang disebarkan oleh Akidi Tio, warga Sumatera Barat yang mendonasikan dana hingga Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19.

Bukan Akidi Tio langsung tentunya yang mendonasikan duit sebanyak itu untuk penanganan Covid-19 karena Akidi Tio sudah almarhum. Kebaikan Akidi Tio ini dilakukan oleh keluarga besarnya lantaran menjalankan amanah pengusaha sukses ini.

Sekadar mengulangi sekaligus mengingatkan kita semua, sebelum meninggal pada 2009 lalu, Akidi Tio sempat memberikan wasiat kepada keluarga yang ditinggal untuk menyalurkan uang sebesar Rp2 triliun untuk kepentingan umat.

Uang dengan jumlah cukup fantastis untuk ukuran bantuan ini adalah tabungan pribadi milik Akidi Tio yang dikumpulkan saat mendiang masih hidup. Kepada anak cucunya, Akidi Tio berpesan agar uang tersebut disalurkan saat keadaan sulit.

Fixed, kita tak perlu membahas bagaimana uang tersebut akan dimanfaatkan oleh mereka yang menyalurkan. Kita hanya bisa berharap agar siapa pun yang menerima amanah untuk menyalurkan donasi tersebut memiliki kekuatan dari segala godaan.

Kita hanya tahu, donasi Rp2 triliun dari keluarga Akidi Tio ini seperti sebuah tamparan keras bagi pemerintah yang oleh sebagian kalangan dinilai tak konsisten.

Langkah Akidi Tio ini membuat elite-elite kita di pemerintahan diam seribu bahasa. Di saat ketidakpercayaan publik mulai muncul terkait kebijakan penanganan covid, muncul langkah sederhana dari seorang Akidi Tio melalui keluarga besarnya.

Saat publik mulai curiga ada elite yang diuntungkan di belakang kebijakan vaksin, APD, obat-obatan dan sebagainya, munculah Akidi Tio. Langkah Akidi Tio yang sederhana namun tak mudah ini seolah mampu membungkam elite-elite yang belakangan sok bersikap tegas.

Donasi Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 ini adalah tamparan cukup keras bagi pemerintah yang belakangan mulai dipertanyakan keseriusan dan strateginya dalam mengambil langkah menyelesaikan pandemi.

Atas tamparan tersebut, semua diam dan nyaris kehilangan kata-kata. Tak banyak elite kita yang memiliki kepercayaan diri untuk menanggapi secara pribadi langkah yang diambil Akidi Tio ini.

Perlu dicatat, jika kebaikan Akidi Tio ini adalah sebuah tamparan yang sangat keras, maka ini bukanlah kali pertama tamparan ini diterima pemerintah kita.

Meski tak begitu keras, tamparan serupa pernah diterima pemerintah kita dan itu dilakukan oleh Juliari Batubara. Dengan cara berbeda, Juliari, mantan Menteri Sosial ini juga pernah memberikan tamparan keras kepada pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Tamparan itu diberikan Juliari kepada pemerintah lantaran ia diduga menerima suap sebesar Rp32 miliar terkait dana bansos Covid-19.

Belum lagi, kasus Bansos Covid-19 yang menyeret Juliari ini penyelidikannya juga terkesan dilokalisir. Aparat penegak hukum seolah bermain aman dan tak mempeluas kasus ini yang konon diduga juga melibatkan elite-elite kekuasaan.

Akidi Tio memberikan donasi Rp2 triliun dengan inisiatif sendiri. Akidi bahkan menyalurkan donasi tersebut melalui perantara.

Sikap santun keluarga Akidi Tio ini makin membuat pemerintah seakan dibuat malu apalagi jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa pemerintah kita makin kehabisan energi (baca: anggaran) untuk mengatasi Covid-19 ini.

Beruntung, entah kebetulan atau memang karena kondisinya yang sama-sama sulit, masyarakat kita seakan tahu bagaimana cara bersikap terhadap pemerintah.

Masyarakat kita seolah-olah paham dengan suasana psikologis pemerintah bahwa saat mereka melakukan penggalangan dana untuk mengatasi Covid-19 adalah bentuk 'penghinaan' sekaligus stempel bahwa pemerintah kita sudah benar-benar tidak mampu.

Untuk itulah hingga sejauh ini kita tidak melihat secara masif ada bentuk-bentuk penggalangan dana untuk penanganan Covid-19. Selain kondisinya yang sama-sama tak baik, publik paham bahwa menggalang dana untuk covid adalah sindiran, tamparan sekaligus stempel pengakuan bahwa pemerintah kita sudah tak mampu.

Kalaupun ada upaya penggalangan dana, sejauh ini kita melihat ini dilakukan untuk kasus-kasus khusus yang menyebut by name by case dan yang disasar adalah kedekatan emosional dengan kasus.

Ini barangkali juga terkait dengan kenyataan bahwa kepercayaan masyarakat kita mulai terkikis, baik kepada pemerintah maupun lembaga-lembaga penggalangan dana. (*)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved