Breaking News:

Penanganan Covid 19

Untuk Putuskan Dilanjut Atau Tidak PPKM, Data Penularan di Masyarakat Sebagai Acuan Pemerintah

untuk bisa memutuskan melanjutkan atau menghentikan aturan PPKM, maka pemerintah perlu mengacu data epidemiologi/penularan

Editor: Agus Nuryadhyn
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Ilustrasi - Sejumlah kendaraan pada masa penerapan PPKM Darurat dan PPKM level 4 terpaksa harus diputar balik, Rabu (7/7/2021). 

BANGKAPOS.COM -  Pemerintah diminta untuk menganalisa dan bandingkan angka pada 3 Juli 2021 saat PPKM darurat dimulai. 

Untuk data pada 3 Juli bukanlah angka yang akan dicapai sesudah PPKM dilakukan hingga kini.

Akan tetapi pada 3 Juli itu justru angka yang tinggi sehingga pada waktu itu diputuskan keadaan PPKM darurat.

"Jadi kalau angka hari-hari ini masih sama dengan angka 3 Juli, apalagi kalau lebih tinggi maka artinya keadaan belumlah teratasi baik," ungkap Guru besar FKUI Prof Tjandra Yoga Aditama,  dalam pesan tertulis yang diterima Tribunnews, Senin (2/8/2021).

Menurut Guru besar FKUI, untuk bisa memutuskan melanjutkan atau menghentikan aturan PPKM, maka pemerintah perlu mengacu data epidemiologi/penularan di masyarakat yang dilaporkan setiap hari.

Jumlah kasus baru, jumlah tes yang dilakukan, angka kepositifan dan jumlah yang meninggal.

"Untuk menilai apakah memang angka-angka itu sudah membaik atau belum maka kita dapat menganalisanya dengan membandingkannya dengan data tanggal 3 Juli 2021 ketika PPKM darurat dimulai," ujarnya dalam pesan tertulis yang diterima Tribunnews, Senin (2/8/2021).

Prof Tjandra menerangkan, pada 3 Juli 2021 ada 27.913 kasus baru dan 1 Agustus kemarin angkanya naik menjadi 30.738.

"Harus diingat bahwa pernah ada target agar sesudah PPKM angka dapat turun dibawah 10 ribu per hari, jadi masih jauh nampaknya," jelas Prof Tjandra.

Kemudian, pada 3 Juli 2021 angka kepositifan totalnya adalah 25,2 persen dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 36,7 persen.

Dan pada 1 Agustus angkanya naik menjadi angka kepositifan totalnya adalah 27,3 persen dan kalau berdasar PCR/TCM adalah 52,8 persen.

"WHO mengambil angka kepositifan di bawah 5 persen untuk menyatakan situasi sudah terkendali, sedangkan angka Indonesia masih lima kali lebih besar dari patokan aman 5 persen itu. Mudah-mudahan angka kepositifan kita juga bisa turun 10 kali juga sehingga kasus di masyarakat juga akan turun dengan bermakna," harap Mantan Direktur WHO Asia Tenggara.

Baca juga: Dirjen Kemendagri Beri Bocoran Terkait Pengumuman PPKM

Baca juga: Fawaid: Perpanjangan Atau Penghentian PPKM, Pemerintah Ambil Keputusan Terbaik dan Terukur

Kemudian, pada 3 Juli 2021 jumlah tes adalah 110.983 orang dan 157.227 spesimen.

Dan 1 Agustus angkanya naik menjadi 112.700 orang. Pemerintah pernah mentargetkan pemeriksaan 400 ribu sehari, yang jelas masih jauh dari tercapai.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved