Breaking News:

Opini

Pandemi Covid‑19 Memicu Kerentanan Sosial

Perlahan wabah tersebut pun merebak hampir ke seluruh penjuru dunia, begitu juga negara kita Indonesia.

Editor: Agus Nuryadhyn
kompas.com
ilustrasi Virus Corona 

Liwistri, S.Sos. ‑ Guru Sosiologi SMAN 1 Kelapa Kampit

AKHIR tahun 2019 lalu, dunia dikejutkan dengan munculnya virus jenis baru bernama Corona Virus Disease (Covid‑19) di Wuhan, China. Virus tersebut perlahan menyebar dalam waktu yang cepat dengan skala luas di seluruh dunia, yang kemudian oleh dunia disebut pandemi.

Hal ini menyebabkan perubahan berbagai tatanan kehidupan dalam waktu yang singkat. Perubahan sosial budaya di masyarakat ini terjadi secara spontan, tidak direncanakan oleh siapa pun, terjadi di luar jangkauan masyarakat serta berpotensi menimbulkan akibat‑akibat sosial yang tidak diinginkan masyarakat.

Perlahan wabah tersebut pun merebak hampir ke seluruh penjuru dunia, begitu juga negara kita Indonesia. Masyarakat Indonesia merespons fenomena global ini dengan berbagai reaksi. Ada yang merespons dengan tenang, serius, cemas, sampai ada yang merespons dengan berbagai candaan.

Hingga akhirnya pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi menyatakan bahwa ada dua warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona. Pernyataan Presiden Jokowi tersebut rupanya memengaruhi situasi dan kondisi psikologis dan sosiologis masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di wilayah korban yang positif terjangkit virus corona yakni berupa perasaan cemas dan takut.   

Baca juga: Kepala BPS : Laju Pertumbuhan Ekonomi Babel Tertinggi Ke 2 se Sumatera

Akibat kasus Covid‑19 ini, pemerintah Indonesia mulai melakukan berbagai kebijakan seperti mengeluarkan imbauan social distancing, mengeluarkan imbauan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh bagi semua sekolah, bekerja dari rumah bagi pegawai, memberlakukan pembatasan wilayah, membangun rumah sakit khusus untuk penanganan Covid‑19, dan lain‑lain.

Dengan adanya kebijakan pemerintah ini serta situasi yang makin genting, tentunya memberikan dampak bagi masyarakat, baik masyarakat menengah ke bawah hingga kalangan menengah ke atas. Berbagai masalah sosial ekonomi muncul dan dampaknya langsung terasa oleh masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengubah istilah social distancing menjadi physical distancing. Meskipun demikian masih banyak orang menggunakan istilah social distancing. Pengubahan istilah ini dimaksudkan agar interaksi antarmasyarakat tetap berlangsung walaupun berjauhan fisik.

Tentu hal ini lebih baik, mengingat konsep social distancing telah membatasi interaksi sosial masyarakat.

Dalam penerapan physical distancing, masyarakat diminta agar tetap terhubung dan menjalin interaksi sosial dengan cara yang lain.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved