Breaking News:

WIKI BANGKA

Lezat dan Nikmatnya Durian Cumasi dari Kebun Athung, Isinya Tebal Berwarna Kuning Menggoda

Petani kelapa sawit sukses, Athung warga Kelurahan Lubuk Kelik Sungailiat Kabupaten Bangka ternyata juga memiliki koleksi tanaman pohon durian unggul.

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Edwardi
Athung menunjukkan buah Durian Cumasi di kebunnya 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Petani kelapa sawit sukses, Athung warga Kelurahan Lubuk Kelik Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka ternyata juga memiliki koleksi tanaman pohon durian unggul khas Pulau Bangka, yakni Durian Cumasi atau Durian Namlung atau yang dikenal dengan nama Durian Tai Babi asal Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat.

"Saat ini ada sekitar 50 lebih pohon Durian Cumasi di kebun saya, namun yang sudah berbuah sekitar 20 batang, saat ini pohon Durian Cumasi ada beberapa pohon yang sedang panen," kata Athung ditemui Bangkapos.com, Sabtu (07/08/2021) di kebunnya.

Baca juga: RESMI Ini Jadwal SKD CPNS 2021 dan Ketentuan Pelaksanaannya Mulai dari Jumlah Soal dan Passing Grade

Baca juga: Aturan Baru CPNS 2021, Kelulusan Tidak Berdasarkan Ranking Tertinggi, Tetapi Berdasarkan Ini

Diungkapkannya, awal menanam pohon Durian Cumasi hanya sekitar 20 pohon, karena awalnya ragu apakah benar bibit durian yang dibelinya waktu itu memang benar Durian Cumasi atau bukan.

"Setelah ditanam dan dipelihara beberapa tahun akhirnya pohon durian ini berbuah dan ternyata memang benar pohon durian ini asli Durian Cumasi, lalu saya kembangkan lagi dengan cara stek batang pucuk untuk menanam lebih banyak lagi," ungkap Athung.

Pohon Durian Cumasi di kebun Athung
Pohon Durian Cumasi di kebun Athung (Bangkapos.com/Edwardi)

Diakui Athung, awalnya lahan kebun ini ditanami lada dan tumpang sari dengan tanaman buah-buahan Durian Cumasi, duku dan alpokat.

"Pohon duku dan alpokat juga sedang berbuah, meskipun buahnya agak kurang karena faktor cuaca saat ini," ujar Athung.

Menurutnya Durian Cumasi sangat potensial untuk dikembangkan para petani, karena peminat durian ini cukup banyak hingga keluar Pulau Bangka, meskipun harga jualnya cukup mahal namun pembelinya tetap ada, bahkan masih kekurangan stoknya.

"Durian Cumasi ini  dijual sistim timbang per kg, saya jual Rp150.000 per kg, kalau dijual di Pangkalpinang bisa Rp250.000 - Rp300.000 per kg. Kalau isi durian ternyata tidak bagus maka pembeli bisa komplain dan bisa dikembalikan atau ditukarkan dengan durian lainnya, saya juga tidak enak kalau pembeli tidak puas dengan isi duriannya karena dua sudah membeli dengan harga mahal," imbuh Athung.

Baca juga: Satu Bulan bisa Panen 30 Hingga 40 Ton, Athung Petani Kelapa Sawit Sukses Kuliahkan Anak Jadi Dokter

Buah Durian Berujung Hoki, Bak dapat Durian Runtuh Ucok Baba Dihadiahi Sultan Andara Mobil Baru

Diungkapkannya, ciri khas isi Durian Cumasi dari kebunnya di mana warna daging durian kuning, dagingnya tebal dan bijinya gepeng/tipis, rasanya gemuk manis dan lezat.

"Peminat Durian Cumasi ini bukan hanya orang  di Pulau Bangka saja, tetapi banyak juga yang meminta dikirimkan ke Jakarta dan lainnya.

Buah Durian Cumasi dari kebun Athung
Buah Durian Cumasi dari kebun Athung (Bangkapos.com/Edwardi)

Selain Durian Cumasi, Athung juga memiliki 200 pohon duku dan 300 lebih pohon alpukat.

"Untuk buah duku saat ini diambil pedagang pengepul Rp 10.000 per kg di kebun, sedangkan buah alpokat diambil orang Jakarta dengan harga antara Rp10.000-20.000 per kg, kalau di Pulau Jawa lagi tidak panen harga alpokat bisa Rp20.900 per kg," beber Athung.

Baca juga: Bikin Umi Kalsum dan Ayah Rozak Murka, Ini Isi Hinaan KD Kepada Anak Ayu Ting Ting

Baca juga: Pakai Surat PCR Bodong Berlogo RSBT Pangkalpinang, Wanita Asal Jabar Ditetapkan Tersangka

Menurut Athung, untuk buah alpukat lebih baik menanam bibit unggul yang berasal dari Pulau Bangka sendiri, karena jenis ini lebih tahan terhadap serangan hama dan  penyakit.

"Bibit unggul lokal biasanya berbuah lebat dan banyak hasil panennya, serta rajin berbuah, kalau bibit luar biasanya sering kena penyakit, meskipun buahnya besar namun jarang berbuah jadi kurang produktif hasilnya," jelas Athung.

(Bangkapos.com,/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved