Horizzon
Angka dan Ketakutan yang Membekukan Logika
Angka-angka statistik tersebut seakan menghipnotis kita semua bahwa Covid-19 adalah sesuatu yang harus mendapat prioritas
SEPERTI biasa, setiap malam meja redaksi selalu menerima data perkembangan kasus Covid-19 harian, baik itu perkembangan kasus secara nasional, provinsi, maupun detail di kabupaten/kota di Provinsi Bangka Belitung.
Kebiasaan ini sudah berlangsung cukup lama, hingga lantaran terlalu sering dan rutin, detail angka dalam laporan tersebut tak lagi menjadi perhatian khusus.
Sebagai media, tugas media adalah menyampaikan fakta (:berita) yang dibutuhkan publik. Informasi terkait perkembangan kasus covid-19 harian adalah satu di antara sekian banyak berita yang harus disajikan.
Sekali lagi, data harian itu menjadi rutinitas belaka. Soal angka-angka yang ada di dalamnya, tak lagi menjadi sesuatu yang menjadi pusat perhatian. Barangkali kondisi ini sama dengan apa yang dirasakan masyarakat. Mereka sudah malas untuk melihat angka-angka yang disajikan oleh media.
Namun tak salah jika kali ini, kita coba ingatkan tentang angka-angka yang ada di dalamnya. Data yang diterima menunjukkan, tanggal 8 Agustus 2021, kasus baru Covid-19 secara nasional tercatat ada 26.415 kasus. Sementara itu kasus yang dinyatakan sembuh terdata sebanyak 48.508 kasus.
Dalam data nasional, kita juga tahu bahwa pada 8 Agustus, tercatat ada 1.498 orang yang dinyatakan meninggal dunia dan dikaitkan dengan Covid-19. Lebih ekstrem lagi, data tersebut mengatakan bahwa per 8 Agustus 2021 ada 1.498 kematian yang disebabkan oleh Covid-19.
Satu lagi informasi yang dijelaskan dalam data milik Kementerian Kesehatan tersebut adalah jumlah spesimen atau sampel yang tercatat sejumlah 166.764 spesimen yang dilakukan pengetesan.
Setiap hari, kita juga menerima perkembangan kasus Covid-19 secara lokal. Kita bisa tahu bagaimana peta kasus ini per kabupaten, berapa jumlah penambahan kasus, berapa yang sembuh termasuk berapa orang yang meninggal dan disebut sebagai akibat dari Covid-19. Barangkali yang perlu kita garis bawahi dari data per 8 Agustus 2021 adalah jumlah kematian di seluruh Bangka Belitung yang tercatat 30 kematian.
Kita harus akui, terkait dengan Covid-19 ini kita sepertinya benar-benar sibuk dengan data statistik. Bahkan jika tidak berlebihan menilai, selama ini kita lebih sibuk membuat angka statistik dibanding menyelesaikan pandemi ini.
Angka-angka statistik tersebut seakan menghipnotis kita semua bahwa Covid-19 adalah sesuatu yang harus mendapat prioritas. Langkah memproduksi angka-angka tersebut seakan merampas nalar berpikir kita. Angka-angka tersebut membuat kita menjadi canggung untuk bertanya tentang hal-hal yang sesungguhnya elementar dan substantif terkait dengan Covid-19.
Secara sadar, kita tahu bahwa kasus Covid-19 didominasi oleh orang yang tidak memunculkan gejala atau gejala sangat ringan. Sementara itu, kasus-kasus kematian yang muncul hampir pasti diikuti dengan komorbid dan atau usia renta.
Namun karena doktrin angka-angka yang diproduksi setiap hari, kita seperti tak punya ruang untuk bertanya, lalu sebenarnya penyebab kematian mereka itu apa? Meski kita juga tahu, setiap kasus kematian yang muncul tidak pernah dilakukan autopsi.
Dan lagi-lagi, itu dilakukan karena klaim bahwa Covid-19 yang sangat berbahaya, mudah menular sekaligus mematikan. Lagi-lagi, kita semua didoktrin dan dipaksa menerima kebenaran dari satu sudut pandang saja.
Pernahkah kita juga punya keleluasaan untuk bertanya di forum ilmiah tentang penuhnya rumah sakit belakangan ini yang tak bisa dimungkiri bersamaan dengan masifnya vaksinasi?
Pernahkah kita membuat sebuah hipotesis sederhana bahwa banyaknya orang memenuhi rumah sakit disebabkan karena makin banyak orang yang divaksin? Pertanyaan ilmiah ini tentu harus dijawab secara ilmiah, dibuktikan, dikaji, dan diteliti dengan serius.
Namun lagi-lagi, belum utuh kekuatan untuk mendiskusikan puzzle kecil dari fakta di lapangan ini, langsung muncul sintesis -- untung sudah divaksin sehingga mereka yang sakit tidak berakibat pada kematian.
Ruang diskusi dan nalar berpikir kita sepertinya dikebiri pada sebuah dogma yang harus selalu benar. Dan ironisnya, produksi angka-angka itu juga sudah merampas sisi kemanusiaan kita. Angka-angka itu telah menciptakan ketakutan yang amat sehingga makin mengerdilkan akal sehat kita.
Ketakutan yang melanda kita semua makin membuat akal sehat kita seolah beku. Diakui atau tidak, alasan ketakutan ini pun telah mampu menciptakan jarak umat dengan Tuhannya.
Daya nalar kita seperti dibuat benar-benar mati dan menerima Covid-19 dari A sampai Z. Pernahkah kita menggugat apakah vaksin benar-benar efektif mengatasi pandemi ini? Oke, barangkali kalimat ini lebih layak dilontarkan oleh virolog atau orang yang expert di bidangnya.
Tetapi bukankah kita juga diberi doktrin bahwa virus ini terus bermutasi? Sementara kita juga tahu bahwa vaksin ini diteliti dari varian awal dari virus ini muncul. Boleh dong orang awam bertanya, memang vaksin ini efektif? Toh buktinya, banyak yang sudah divaksin namun tetap kena?
Sejak awal kita tahu bahwa kasus ini didominasi oleh orang yang tidak memunculkan gejala atau gejala ringan. Artinya, populasi kita secara umum bisa bertahan dari virus yang konon berasal dari Wuhan China ini. Tetapi kenapa, regulasi dan kebijakan untuk mengatasi ini seolah dibuat general.
Saat akal sehat kita diberi keleluasaan untuk mendominasi perilaku, maka bukankah sebaiknya antisipasi terhadap virus ini hanya kepada mereka yang berisiko? Sementara untuk populasi secara umum patut kita abaikan?
Artinya jika secara umum penyakit ini tidak menimbulkan efek yang mengkhawatirkan, dan hanya berbahaya untuk mereka yang punya penyakit bawaan, maka kebijakan yang muncul akan lebih efektif untuk mereka yang berisiko tinggi.
Sayangnya, lagi-lagi tak ada ruang diskusi soal ini. Akal sehat kita sudah dibekukan dengan angka-angka statistik dan virus ketakutan yang dikirim sejak awal sebelum virus aslinya datang.
Virus ini ada. Sebagian besar yang terpapar virus ini biasa saja, sebagian dari itu menimbulkan gejala ringan. Namun ada beberapa kasus dengan persentase kecil berakibat pada kematian.
Itulah faktanya, virus ini ada dan tak perlu diperdebatkan. Tetapi memperdebatkan soal cara menghadapinya adalah sebuah langkah yang harus dilakukan, agar tak lagi ada kematian sia-sia di peradaban kita. Jika akal sehat kita kembali menjadi pengendali dari peradaban ini, maka akan lebih banyak yang bisa diselamatkan dibanding saat ketakutan yang berkuasa atas kita semua. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)