Breaking News:

Ini yang Terjadi Jika Kamu Telat Vaksin Kedua, Berbahayakah?

Vaksin covid-19 yang diberikan di Indonesia wajib sebanyak dua kali. Namun bagaimana jika dosis kedua terlewatkan karena lupa? ini penjelasannya

Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Evan Saputra
Shutterstock
Ilustrasi vaksin Covid-19. 

BANGKAPOS.COM - Suntikan kedua dari vaksin dosis kedua sangat penting untuk mencapai kekebalan penuh terhadap COVID-19.

Penelitian oleh CDC menunjukkan dosis tunggal vaksin Pfizer berkisar antara 60% hingga 80% efektif melawan COVID-19. Sedangkan penelitian akan dosis kedua menghasilkan efektifitas sebanyak 90% melawan COVID-19.

Kekebalan penuh sangat penting untuk melindungi setiap orang dan komunitas dari penyebaran virus.

Baca juga: Ayah Ajak 2 Anaknya Menginap di Hotel, Istri Bilang Hilang Ternyata Anaknya Tewas Dibunuh Suami

Namun bagaimana kalanya ketika sesorang tidak bisa mendapatkan vaksin kedua sesuai jadwal yang telah ditetapkan?

Beberapa alasan yang menyebabkan seseorang terlambat untuk mendapatkan vaksin kedua adalah seperti baru saja terpapar COVID-19, sedang dalam kondisi yang tidak sehat saat , ketersediaan vaksin belum ada, sampai berhalangan hadir akibat ada urusan atau lupa.

Lantas, apa yang harus dilakukan bila terlambat mendapatkan vaksin COVID-19 kedua? Simak ulasan selengkapnya di sini.

Jadwalkan Dosis Kedua Secepatnya

Menurut dokter perawatan kritis dan paru, Joseph Khabbaza, MD, orang yang terlambat mendapatkan vaksin COVID-19 kedua sebaiknya menjadwalkan ulang vaksinasi mereka untuk mendapatkan dosis kedua sesegera mungkin. Tidak peduli seberapa lama keterlambatannya, kamu baru dianggap sudah vaksinasi COVID-19 penuh apabila sudah disuntik dua dosis. 

Baca juga: Kisah Cinta Pak Tarno dan Pramugari, Terungkap Alasan Pak Tarno Tak Mau Orang Tahu Istri Mudanya

Perlu diketahui, jarak waktu pemberian vaksin COVID-19 antara dosis pertama dengan dosis kedua berbeda-beda, tergantung jenisnya:

Sinovac: 2–4 minggu.
Sinopharm: 3–4 minggu.
AstraZeneca: 8–12 minggu.
Moderna: 3–6 minggu
Pfizer: 3 minggu.

Namun, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa keterlambatan hingga 42 hari antara dua dosis masih diperbolehkan ketika tingkat urgensinya lebih penting.

Dilansir dari Oxford University, ternyata dosis kedua yang tertunda justru berpotensi meningkatkan respons imun tubuh.

Hasil penelitian di Oxford University itu menunjukkan bahwa penundaan hingga 45 minggu antara dosis pertama dan dosis kedua bisa justru dapat meningkatkan respons imun setelah mendapatkan dosis kedua.

Baca juga: Bocoran Soal SKD, TIU, TKP CPNS 2021, Pelajari Jika Ingin Lulus

Selain itu, pemberian booster ketiga setelah lebih dari 6 bulan juga menunjukkan adanya peningkatan antibodi. Kondisi Ini akan menghasilkan sistem imun yang kuat untuk melindungi tubuh dari virus SARS-CoV-2. (Bangkapos.com./Nur Ramadhaningtyas)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved