Breaking News:

1,5 Tahun Menangani Pasien Covid-19, dr Farhan: Harus Bahagia, Jangan Stres Agar Imunitas Terjaga

Perlu diwaspadai ketika ada pasien yang sangat tergantung dengan oksigen, ini perlu menjadi perhatian. Jangan sampai sakit, apalagi oksigen terbatas

Editor: rusmiadi
(Bangkapos.com)
Dokter anestesi dan intervensi nyeri di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr Farhan Ali Rahman saat Dialog Ruang Tengah (Bangkapos.com) 

BANGKAPOS.COM - Tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Bangka Belitung (Babel) hingga saat ini masih berjibaku, berusaha semampunya menyelamatkan nyawa pasiennya agar bisa sembuh.

Tak terkecuali dr Farhan Ali Rahman, Sp.An, FIPM, Dokter Anestesi dan Intervensi Nyeri di RSUD Dr (HC) Ir Soekarno, Babel, yang sudah hampir 1,5 tahun menangani pasien bergejala yang terpapar Covid-19.

Ia pun bersyukur karena dirinya tetap sehat dan belum pernah terpapar Covid-19. Menurut Farhan, hal yang dilakukannya selama ini menaati protokol kesehatan akan melindungi diri dari paparan Covid 19. Yang terpenting kata dia, di tengah pandemi ini harus bahagia, jangan stres agar imunitas tubuh terjaga.

Mulai pertama kali menangani pasien Covid-19, saat itu dirinya kontak langsung dengan pasien Covid-19 kritis, lalu berlanjut hingga saat ini turut membantu menangani pasien Covid-19.

“Alhamdulillah hampir 1,5 tahun menangani belum pernah terpapar Covid 19. Insyaallah kalau kita taat protokol kesehatan, itu akan melindungi dari paparan Covid 19. Yang terpenting, di tengah pandemi Covid 19 ini harus bahagia, jangan stres agar imunitas terjaga,” ujarnya, Jumat (13/8/2021).

Kondisi saat ini menurut Farhan, pengingkatankan kasus terjadi setiap hari, meskipun Babel tidak mendapat rapor merah dari presiden terkait lonjakan kasus, seperti terjadi di lima provinsi di Indonesia.

Baca juga: RSUD Marsidi Akan Nonaktifkan Satu Ruang Isolasi, BOR Pasien Covid-19 Tren Alami Penurunan

Baca juga: Ini Biang Kerok Biaya Tes PCR di Indonesia Mahalnya Minta Ampun, Beda di India Cuma Rp96 Ribu

Baca juga: Bangka Belitung Siapkan 89 Lokasi Vaksinasi, Dukungan TNI Polri Maksimal Herd Immunity Tercapai

Hingga Jumat (13/8/2021), Farhan menjelaskan ada 6.518 orang yang dirawat atau terpapar saat ini, angka kematian per hari kemarin 25 orang, sehingga sudah 900-an orang yang meninggal karena Covid 19.

“Jangan berpikir di-covid-kan oleh nakes (tenaga kesehatan) karena itu berdasarkan hasil PCR (hasil tes reaksi rantai polimerase--red). Kendala kita juga memang karena isolasi mandiri dan menentukan kapan ke rumah sakit, itu tidak mudah. Bahkan, ada yang takut hingga kondisi terlambat jadi menyebabkan kematian,” tuturnya.

Dari pengalaman penanganan Covid-19, pernah terjadi suatu kasus, BOR (bed occupancy rate) atau keterisian tempat tidur cukup besar, hampir 86 persen, terbesar se Indonesia, namun ini tentu dapat dipahami persentase awal 10 jadi 20 orang, maka itu dipersentasekan 100 persentase, dari peningkatan signifikan.

Misalnya, RSUP provinsi, ada 100 tempat tidur, 75 khusus gejala sedang dan 25 untuk orang bergejala berat. Dari 25 yang bergejala berat, bed itu dahulu ada celah kosong, tetapi sekarang penuh terus.

Dahulu yang bed 75 hanya terisi 20 atau 30 bed sekarang malah 60 bed terisi, bahkan ini terjadi di rumah sakit lain juga. Maka ada penambangan bed saat ini untuk mengantisipasi hal ini.

“Kita memang belum terjadi lumpuh, misalnya pasien banyak tetapi nakes dikit, belum ada kejadian itu. Syukurnya, kalau ada antrean penuh itu tetap berjalan urutan, tidak sampai seperti di Jawa yang harus dirawat di UGD berhari hari, kita masih bisa menangani, bahkan sekarang ada isolasi terpadu,” ujarnya.

Baca juga: Satu Hari Setelah Gubernur Bangka Belitung Ditelpon Jokowi, Hari Ini Bantuan dari Presiden Tiba

Baca juga: Berita Terbaru PPKM Jawa Bali, Diperpanjang atau Tidak? Ini Hasil Evaluasi Terbaru Presiden Jokowi

Oksigen Jadi Perhatian
Permasalahan ketersedian oksigen saat ini, menurutya, karena di Babel belum ada yang memproduksi oksigen. Yang ada saat ini mengubah konsentrat likuid menjadi oksigen. Namun tingkat kecukupan yang dibutuhkan oleh masyarakat itu tidak terpenuhi.

Untuk RSUP rata rata sehari butuh 240 tabung oksigen, satu tabung itu mengandung 6.000 liter. Kalau pas pasien full, oksigen nyala hanya mampu hidup 1 jam, paling cepat 40 menit, kemudian habis.

Perlu diwaspadai ketika ada pasien yang sangat tergantung dengan oksigen, ini perlu menjadi perhatian. Walaupun, bisa ditangani baik, tetapi kalau bisa jangan sampai sakit, apalagi oksigen terbatas.

“Alat bukan masalah besar. Dahulu ventilator terbatas, sekarang beli dan itu juga dukungan Pak Jokowi, kami dapat beberapa bantuan alat pernapasan, sekarang sudah terpenuhi, tetapi enggak bisa jalan karena keterbatasan oksigen tadi, empat saja alat dipakai itu sudah boros banget,” katanya.

Ketersediaan oksigen sangat dibutuhkan saat ini, ia berharap ada pihak yang bersedia memproduksi oksigen di Babel, sehingga tidak lagi tergantung suplai dari luar.

Untuk mengatasi segala kendala dalam penanganan pandemi Covid 19 ini perlu peran bersama, turun ke jalan, baik pemerintah dan masyarakat, bahkan pelaku usaha agar sama sama patuh aturan yang menjadi solusi bersama dan protokol kesehatan harus diterapkan seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan. (*)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved