Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Haru Wulandari Bocah Pemulung, Rela Mulung bersama Adik Demi Beli Kuota Internet untuk Belajar

Mata Pelangi (4) berbinar-binar dan tak sabar ingin membuka parsel berisi cokelat, susu, dan makanan anak‑anak yang diberikan Ketua PKK Bangka.

Penulis: edwardi | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Edwardi
Bayu, ASN Sekretariat DPRD Bangka memberikan bantuan beras dan paket sembako kepada Wulandari dan adiknya, Pelangi 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Mata Pelangi (4) berbinar-binar dan tak sabar ingin membuka parsel berisi cokelat, susu, dan makanan anak‑anak yang diberikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bangka, Yusmiati Mulkan, Sabtu (21/8/2021) pagi.

Pelangi juga terdengar mengajak kakaknya Wulandari (11) masuk ke dalam rumah mereka untuk membuka ponsel baru pemberian Bupati Bangka Mulkan dan rombongan. "Kakak Wulan, yuk kita coba buka HP-nya, Pelangi mau nonton di HP baru," kata Pelangi.

"Terima kasih, Pak Bupati dan bapak yang kasih handphone. Wulan janji akan belajar lebih giat," kata Wulan, sapaan akrab Wulandari, yang bercita-cita menjadi dokter.

Wulan merupakan siswi kelas 5 sekolah dasar negeri di Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Baca juga: Netizen Nyinyir Soal Rumah Wulandari, Faktanya Ngontrak, Pemilik Hanya Minta Bayar Token Saja

Baca juga: Siap-siap Diseret Balik ke Indonesia, Ayu Ting Ting Resmi Polisikan Haters, Ini Isi Hujatannya

Wulan tak seberuntung anak‑anak lain seusianya. Dia harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pemulung.

Hampir setiap hari, Wulan sambil membonceng adik perempuannya, Pelangi, menggunakan sepeda menyusuri Jalan Jenderal Sudirman Sungailiat hingga ke arah kompleks perkantoran Pemkab Bangka.

Ia mencari dan mengumpulkan barang‑barang bekas, seperti botol air mineral, buku, dan barang bekas lainnya dari rumah ke rumah warga ataupun dari tempat sampah ke tempat sampah lainnya yang ditemui di sepanjang jalan.

Kendati demikian, Wulan tak lupa untuk menuntut ilmu demi masa depannya

Ia tetap rajin belajar walaupun saat ini sekolahnya menerapkan pembelajaran daring karena pembelajaran tatap muka dihentikan sementara akibat tingginya kasus Covid‑19 di Kabupaten Bangka.

Namun, dalam pembelajaran daring, Wulan terkendala ponselnya yang sering eror. Ponsel itu merupakan ponsel bekas yang dibeli seharga Rp200.000.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved