Breaking News:

Opini

Bangkitnya Ekspor Lada Babel

Setelah pandemi melanda, perekonomian Babel terkontraksi yang menyebabkan laju pertumbuhan keempat lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar

Editor: Agus Nuryadhyn
Bangkapos.com/Edwardi
Contoh lada yang dijual petani. 

Lada putih khas Babel telah bersertifikasi indikasi geografis (IG) dan memiliki tingkat kepedasan yang tinggi antara 5 7 persen. Selain ciri khas tersebut, Babel pernah meraih prestasi sebagai penghasil lada putih terbesar di dunia pada tahun 2014.

Bahkan, Babel dapat mengontrol 37 40 persen pasar lada global (Katadata, 2021).

Hal ini tentunya menunjukkan bahwa lada Babel berpotensi untuk diekspor ke luar negeri, terlebih lagi ekspor komoditas Babel ke luar negeri berhasil menjadi penopang kedua struktur perekonomian dengan peran sebesar 28,86 persen pada TW 1 2021.

Baca juga: Wagub: Jelajah Porang Bangka Belitung Akan Masuk Tataran Dunia, Menjadi Ekspor Unggulan Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Babel yang masih positif pada Januari Maret 2021 (dibandingkan Januari Maret 2020) salah satunya juga didorong oleh kenaikan ekspor antarwilayah (BPS, 2021).

Lada Babel memang merupakan komoditas strategis yang berpotensi untuk diekspor. Namun sayangnya pandemi yang terjadi menyebabkan ekspor lada Babel menurun drastis.

Pandemi yang terjadi telah menutup akses lalu lintas pengiriman barang karena adanya pemberlakuan karantina wilayah (lockdown) yang berlaku di negara importir lada, yang menyebabkan menurunnya permintaan lada dunia (Berita Satu, 2020).

Alhasil, ekspor lada mengalami penurunan drastis setelah satu bulan pandemi terjadi.

Setelah berhasil mengalami kenaikan signifikan pada April 2020, dengan nilai ekspor sebesar US$ 3,14 juta, ekspor lada menurun drastis lebih dari 50 persen pada Mei 2020 yang mencapai US$ 1,34 juta.

Baca juga: Pejabat Dapat Honor Rp 70 Juta dari Kematian Pasien Covid-19, Makin Banyak yang Mati Semakin Besar

Bahkan sebelum pandemi, pada awal tahun 2020, nilai ekspor lada hampir tidak pernah menyentuh angka tersebut. Nilai ekspor lada pada Januari Maret 2020 berkisar antara US$ 1,56 US$2,16 juta (BPS, 2020).

Rempah rempah termasuk lada idealnya masih dibutuhkan di masa pandemi sebagai asupan makanan bergizi untuk menjaga imunitas tubuh.

Ekspor lada Babel yang sebelumnya sempat terpuruk karena menurunnya permintaan lada dunia, pastinya akan bangkit kembali mengingat urgensi lada di tengah pandemi.

Alhasil, terpuruknya ekspor lada Babel mulai mencapai titik cerah pada Juni 2020.

Ekspor lada Babel mulai merangkak naik hingga US$ 1,72 juta. Bahkan, nilai ekspor lada Babel dapat menembus angka US$ 2,57 juta pada Desember 2020.

Pada awal tahun 2021, nilai ekspor lada menurun kembali, namun kembali meningkat menjadi US$ 2,07 juta pada Februari 2021. Fluktuasi naik turunnya ekspor lada kembali berlanjut hingga mencapai US$ 1,84 juta pada Mei 2021 (BPS, 2020).

Namun, posisi terakhir nilai ekspor lada Babel tersebut tidak mengalami penurunan signifikan seperti awal pandemi terjadi.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved