Breaking News:

Opini

Sampah Makanan dan Bahaya Lingkungan

Sampah makanan atau sampah pangan sendiri diartikan sebagai hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok pangan,

Editor: Agus Nuryadhyn
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
ilustrasi- Tumpukan Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam Kota Pangkalpinang. 

Jika produksi sampah per kapita penduduk Indonesia 0,7 kg sehari, kita membuang makanan sebanyak 0,35 kg.

Artinya, setiap makan orang Indonesia tak pernah tandas.

Dan banyaknya makanan berlebih yang menjadi sampah (Majalah Forest Digest, Januari Maret 2021).

Baca juga: Video Viral Penghulu Tanyakan Pengantin Wanita Tugas Istri, Jawabannya Pengantin Bikin Gelak Tewa

Garda Pangan semacam bank makanan. Nasabahnya adalah para produsen makanan seperti restoran, toko roti, hotel, warung makan, acara pernikahan.

Para "nasabah" ini menyetorkan makanan berlebih lalu para sukarelawan Garda Pangan menyalurkannya kepada pemulung, orang miskin, mereka yang tinggal di pinggir kali.

Tentu saja sebelum disalurkan, makanan berlebih yang masih layak konsumsi tersebut dikemas ulang.

Garda Pangan menjadi semacam pusat koordinasi penyaluran makanan berlebih yang berpotensi terbuang dan menjadi sampah.

Pada dasarnya ada beberapa kegiatan di Garda Pangan. Pertama adalah food rescue, atau menyelamatkan makanan berlebih yang akan menjadi sampah.

Para sukarelawan Garda Pangan menjemput makanan berlebih itu kepada "mitra".

Kedua, gleaning (memungut). Program ini adalah mengumpulkan sisa sisa panen para petani yang sengaja ditinggalkan di lahan, padahal hasil pertanian itu masih layak dimakan.

Petani biasanya meninggalkan buah atau sayuran yang ditanamnya di lahan, karena dari segi kualitas kurang baik atau tidak memenuhi standar pasar karena bentuknya aneh, terlalu matang, ukurannya tak standar.

Banyak petani yang tak menjualnya karena harganya jatuh, ketimbang menambah ongkos untuk distribusi, mereka membiarkan hasil tani itu di lahan mereka.

Para sukarelawan Garda Pangan lalu datang ke lahan lahan pertanian itu kemudian memilah dan menyalurkannya kepada masyarakat.

Gleaning tak hanya di petani, juga di penjual. Buah atau sayuran yang tidak terjual diambil kemudian dijual lagi dengan harga miring.

Cara ini memberi dua keuntungan: masyarakat mendapat harga murah dan petani serta penjual tetap mendapatkan penghasilan. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved