Berita Sungailiat
Kasihan, Balita Asal Sungailiat Ini Terus Menangis Akibat Sakit Tak Biasa yang Dia Derita
Penderitaan ini dialami Kayla Mahira, Batita 2 tahun 5 bulan itu akibat sakit Pathological Dislocation and Subluxation yang dia idap.
Penulis: Arya Bima Mahendra |
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kayla Mahira terus meringis menahan sakit di tubuhnya. Penderitaan ini dialami Batita 2 tahun 5 bulan itu akibat sakit Pathological Dislocation and Subluxation yang dia idap.
Kondisi tersebut membuatnya Buah hati pasangan Aripin (30) dan Mentari (28), warga Kelurahan Sri Menanti, Sungailiat, Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tidak bisa berjalan karena adanya gangguan pada engsel paha kanan.
Saat ini, Kayla sedang menjalani rawat jalan dan rutin mengkonsumsi obat-obatan seperti vitamin untuk tulang dan lain sebagainya.
Meski demikian, secepat mungkin Kayla harus sesegera mungkin menjalani operasi agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.
Ibu Kayla, Mentari menyebutkan bahwa saat ini dirinya membutuhkan biaya operasi ke RSUP Cipto Mangunkusumo yang berada di Jakarta.
Ia mengaku dirinya membutuhkan banyak biaya operasi untuk anak perempuannya tersebut.
"Walaupun sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, tapi kan biasanya ada obat-obatan yang harus dibeli, belum lagi biaya makan minum selama perawatan di sana," kata Mentari saat disambangi Bangkapos.com di kediamannya, Senin (6/9/2021).
Menurutnya biaya seperti tiket pesawat, swab PCR serta untuk keperluan selama perawatan di sana pasti memerlukan banyak uang.
"Saya dengar cerita dari tetangga, kalau orang dioperasi itu perawatannya bisa sampai berbulan-bulan. Dari mana lah kami dapat uangnya, sedangkan suami saya juga otomatis harus ikut ke sana (Jakarta) dan tidak bisa berkerja," jelas Mentari dengan raut wajah sedih.
Oleh karena itu, menurutnya setidaknya butuh biaya hingga puluhan juta rupiah agar anaknya bisa melakukan operasi ke Jakarta.
"Saya sebenarnya enggak tau biayanya berapa, tapi dengar cerita tetangga, biasanya kalau operasi bisa makan biaya hingga 30 juta (rupiah) lebih," tuturnya.
Dirinya pun merasa shock jika memang harus mengeluarkan biaya sebegitu banyaknya.
"Suami saya cuma buruh harian, rumah ini pun warisan dari orangtua, mau dapat uang sebanyak itu dari mana," keluhnya.
Kendati demikian, ia sangat bersyukur karena masih banyak tetangga dan kerabatanya yang memberikan bantuan untuk biaya pengobatan anaknya.
Bahkan beberapa warga setempat juga turut menggalang donasi dengan turun ke jalan maupun lewat online melalui kitabisa.com.
"Alhamdulillah selama beberapa minggu ini sudah ada sekitar 15 juta dari hasil donasi orang-orang," jelasnya.
Meski begitu, Mentari mengaku bahwa pihaknya belum ada sama sekali menerima bantuan dari pihak pemerintah setempat.
"Enggak ada sama sekali, bahkan kami juga udah pernah ngajuin proposal bantuan ke Dinas Sosial Kabupaten Bangka, tapi sampai saat ini belum ada respon," imbuhnya.
Dia menyebutkan bahwa sebenarnya dirinya juga tidak mau mengharapkan donasi, namun situasi yang dinilai sudah terlalu berat ini tidak mampu ia dan keluarganya hadapi sendirian.

Apalagi, selama beberapa bulan ini, uangnya telah habis untuk biaya berobat anaknya tersebut.
"Dari umur 1,8 tahun anakku ini sakitnya dan sampai umur 2,5 tahun sekarang terus kami obati," ujarnya.
Mentari menyebutkan penyakit anaknya tersebut bermula saat bangun tidur di pagi hari.
Saat itu, anaknya mengaku kesakitakan sambil menangis memegang paha sebelah kanannya.
Padahal sebelumnya, tidak ada riwayat terjatuh ataupun tertimpa benda-benda berat.
Sejak saat itulah, keceriaan balita dua tahun tersebut semakin hilang.
"Anakku dulu ceria, bahkan ada videonya dulu waktu masih sehat dan jalan kesana kemari. Sekarang dia jadi rewel karena menahan sakit dan susah tidur," kata Mentari sambil menahan tangis.
Mentari mengungkapkan bahwa saat ini kondisi anaknya sudah tidak dapat berjalan lagi dan harus ngesot jika hendak kesana kemari.
"Enggak bisa jalan, sakit katanya. Kalau berdiri saja harus ada pegangannya, itupun kaki kanannya sambil jinjit," sambungnya.
Dirinya mengaku sudah tidak mau menunda-nunda operasi anaknya, karena dirinya sudah tidak tega melihat anaknya menahan sakit setiap harinya.
Oleh karena itu, ia berharap ada dermawan yang mau membantu biaya pengobatan anaknya tersebut.
"Kami pun malu sebenarnya minta bantuan orang lain, tapi mau gimana lagi," imbuhnya.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)