Breaking News:

Human Interest Story

Bukan Obat, Berpikir Positif Jadi Kunci Satu Keluarga di Pangkalpinang Sukses Lawan Covid-19

Bukan obat seperti Favipiravir ataupun Ivermectin, melainkan  berpikir positif, tetap semangat hingga mendapatkan dukungan dari keluarga.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Muhamad Trysal (Kanan) saat live streaming Facebook dan YouTube kisah sukses para penyintas melawan Covid-19 bersama Pemimpin Redaksi Bangkapos, Ibnu Taufik Juwariyanto (Kiri), Senin (6/9/2021) malam. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bukan obat seperti Favipiravir ataupun Ivermectin, melainkan  berpikir positif, tetap semangat hingga mendapatkan dukungan dari keluarga hingga teman terdekat menjadi obat yang paling mujarab saat kita sedang terpapar Covid-19.

Pasalnya hampir sebagian besar orang saat terpapar Korona selalu berpikir negatif bahwa penyakit ini berbahaya.

Padahal yang harus dilakukan saat terkena Covid-19,  harus memanajemen pikiran kita agar dapat  mengendalikan penyakit, bukan penyakit yang mengendalikan pikiran kita.

Hal itu yang diungkapkan Muhammad Trysal saat live streaming Facebook dan YouTube kisah sukses para penyintas melawan Covid-19 bersama Pemimpin Redaksi Bangkapos, Ibnu Taufik Juwariyanto, Senin (7/9/2021) malam.

Saat divonis dokter positif Covid-19 pada tanggal 2 Agustus 2021 usai sang kakak yang terlebih dahulu terpapar Korona, Trysal menganggap Covid-19 tak lebih parah dari pada penyakit malaria yang sebelumnya diderita keluarganya.

Baca juga: BARU, Syarat Terbang Menuju ke dan di Provinsi Bangka Belitung Tak Harus Lampirkan Hasil Tes PCR

Baca juga: Ingin Handphone? Ini Harga Vivo September 2021, Terbaru Ada V21 Rom 256 GB, Y1s Turun Harga

Bagaimana tidak, sebab menurut pria 23 tahun ini selama pandemi Covid-19 melanda penyakit ini terlalu dibesar-besarkan oleh media.

Padahal faktanya banyak orang yang bisa sukses melawan Covid-19 dan mereka sembuh, hal inilah yang mendoktrin buruk masyarakat bahwa Covid-19 lebih berbahaya dari penyakit lainnya.

“Media hanya menakut-nakuti, tidak ada yang memberitakan tentang kesembuhan. Yang muncul di media hanya kenaikan kasus, meninggal dunia, tenaga kesehatan kesusahan dan lain sebagainya. Jadi doktrin-doktrin yang kita terima adalah doktrin yang buruk,” ungkap Muhammad Trysal

Tak ayal, dengan doktrin tersebut mereka para penyintas Covid-19 mendapat stigma buruk dari lingkungan sekitar usai terpapar.

Sebenarnya, jika terpapar Korona, kata Trysal, masyarakat harus cerdas dalam menyikapi pandemi, itu ia buktikan saat sang ayah dan kakaknya terpapar Covid-19.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved