Kamis, 28 Mei 2026

WhatsApp

Cukup Pakai Nomor Ponsel, Begini Cara Sadap WhatsApp Paling Ampuh Bermodal Google

Kali ini, ada sebuah trik untuk menyadap WhatsApp dengan mudah dan tanpa ribet, yang dibutuhkan hanya nomor

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Nextren
Cara sadap WhatsApp 

BANGKAPOS.COM-Pengen menyadap WhatsApp suami atau istri untuk mencegah perselingkuhan.

Cukup bermodalkan nomor telepon anda bisa melakukannya.

WhatsApp merupkan aplikasi kirim pesan paling populer saat ini.

Hampir semua orang menggunakan aplikasi ini untuk melakukan kirim pesan, telefon, hingga panggilan video.

Namun, tahukah Anda karena popularitasnya yang tinggi banyak cara dan trik untuk menyadap aplikasi satu ini.

Mungkin Anda sudah sering tahu trik menyadap WhatsApp menggunakan situs WhatsApp Web, atau aplikasi lainnya.

Tetapi mungkin Anda belum tahu trik satu ini.

Baca juga: Aturan Terbaru Naik Pesawat untuk Lion Air, Sriwijaya Air Hingga Garuda Indonesia di September 2021

Kali ini, ada sebuah trik untuk menyadap WhatsApp dengan mudah dan tanpa ribet, yang dibutuhkan hanya nomor telepon.

Sisanya alat yang kita butuhkan adalah browser, seperti Google Chrome atau Mozilla Firefox.

Namun, sebelum Anda menggunakan cara ini alangkah baiknya Anda mempertimbangkannya, karena tentu saja melakukan penyadapan adalah sesuatu yang ilegal.

Dengan kata lain, jika Anda ingin melakukannya memang dilakukan pada korban yang tepat.

Misal Anda menaruh curiga pada seseorang, misal pacar, atau orang terdekat Anda.

Cara ini juga tidak menggunakan scan barkode seperti yang dilakukan dengan situs WhatsApp Web, karena yang Anda butuhkan hanyalah browser dan membukan Google.

Oke, langsung saja kita masuk ke cara sadap WhatsApp berikut ini.

Pertama, yang perlu Anda lakukan adalah infinitespy.com, website ini mewajibkan Anda log in dengan akun Google.

Baca juga: Bikin Kamu Tajir Melintir, 5 Uang Kertas Termahal di Indonesia Selembar Bisa Tembus Rp 1,5 Miliar

Kedua, Anda akan dianjurkan memasukkan nomor yang akan Anda pantau.

Setelah selesai Anda akan melihat dua grafik yang memperlihatkan aktivitas nomor yang ingin kamu intai.

Grafik tersebut menunjukkan lamanaya status online di WhatsApp serta berapa lama distribusi masuk ke aplikasi.

Lalu, ada session yang merangkum Time Spent, dan Log In Distribution pengguna yang bisa Anda download secara gratis.

File yang diunduh dalam bentuk tabel Exel persis seperti tampilan session.

Bagi pengguna baru, Infinitespy memberikan free trial dua hari, sisanya Anda diwajibkan untuk membayar.

Biayanya sekitar 0,971 dollar AS, atu sekitar Rp14 ribu saja.

Namun, kekurangannya Anda tidak bisa melihat langsung isi chat dan pesan dari korban yang Anda sadap.

Baca juga: 10 Orang Janda Tertipu Luar Dalam, Terpedaya Pria Pengangguran hingga Diajak Berhubungan Suami Istri

Jika Anda menginginkannya, Anda tetap harus menggunakan trik scan barcode di WhatsApp Web, kemudian log in dengan akun korban.

1.000 Karyawan Penyortir Chat WhatsApp

Aplikasi perpesanan instan paling populer, WhatsApp selama ini selalu mengampanyekan privasi sebagai salah satu unggulan produknya.

Fitur enkripsi dari ujung ke ujung (end to end encryption) selalu digaungkan untuk meyakinkan pengguna bahwa pesan yang dikirimkan lewat aplikasi WhatsApp aman.

Aman yang dimaksud adalah pesan hanya bisa dilihat oleh pengirim dan penerima saja.

Tidak ada pihak ketiga, termasuk WhatsApp, yang bisa mengintip isi pesan.

Namun belakangan ini, masalah privasi WhatsApp mendapat kritikan keras.

Kritik terbaru datang dari sebuah laporan organisasi jurnalisme investigasi non-profit, Pro Publica.

Dalam laporannya, disebutkan bahwa bahwa WhatsApp memiliki sekitar 1.000 tenaga kerja kontrak yang tersebar di Austin, Texas, Dublin, dan Singapura.

Ribuan tenaga kerja itu bertugas untuk menyaring konten pengguna dan hal inilah yang dianggap dapat melanggar privasi pengguna.

Pro Publica menggambarkan, para pekerja kontrak duduk di depan komputer dan menjalankan software khusus dari Facebook untuk menyaring aliran chat pribadi, gambar, dan video.

Namun, konten yang disaring bukanlah konten umum yang dikunci dengan enkripsi, melainkan konten yang dilaporkan pengguna karena dianggap tidak pantas.

Sekadar informasi, pengguna WhatsApp memang bisa melaporan pesan di grup maupun chat pribadi ke WhatsApp.

Jika dilaporkan, lima pesan terakhir di ruang obrolan akan diteruskan ke tim WhatsApp. Kemudian, pesan akan disaring oleh sistem kecerdasan buatan perusahaan.

Para pekerja kontrak ini akan memberikan penilaian untuk konten yang dilaporkan, bisa tentang penipuan, spam, pornografi, potensi terorisme, dan sebagainya. Biasanya, penilaian dilakukan dalam waktu kurang dari semenit.

Menurut Pro Publica, adanya ribuan pekerja yang menyaring isi pesan WhatsApp justru melanggar privasi pengguna, meskipun pesan yang diperiksa adalah pesan yang dilaporkan.

Tahun lalu, kabarnya ada banyak moderator yang bekerja untuk WhatsApp menyampaikan keluhan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat.

Keluhan yang disampaikan di antaranya, penggunaan kontraktor luar, teknolgi kecerdasan buatan (AI), informasi akun untuk memeriksa pesan, gambar, dan video pengguna.

Tuduhan ini diklaim menjadi bukti bahwa WahtsApp tidak seserius itu soal privasi pengguna.

Namun, pihak SEC tidak melakukan tindakan publik untuk aduan tersebut.

WhatsApp juga dinilai lebih banyak mengumpulkan metadata yang tidak terenkripsi dari penggunanya, dibanding pesaingnya, seperti Signal.

Metadata itu bisa digunakan untuk kasus hukum.

Misalnya, membantu jaksa menangani kasus besar saat mantan pegawai Departemen Keuangan Maerika Serikat, Natalie May Edward membocorkan dokumen rahasia ke salah satu media online dan membeberkan bagaimana uang-uang kotor mengalir ke bank-bank AS.

Menurut CEO WhatsApp, Will Catchcart, batasan antara privasi pengguna dan penegak hukum bukanlah persoalan besar.

Pendapat ini bertolak belakang dengan CEO Telegram, Pavel Durov, yang menolak menyerahkan kunci enkripsi pengguna untuk berbagi data dengan pengawas komunikasi Rusia.

"Saya pikir, kami sangat bisa memiliki keamanan dan keselamatan bagi orang-orang melalui enkripsi dari ujung ke ujung, sekaligus bekerja sama dengan penegak hukum untuk menyelesaikan kejahatan," kata Catchcart.

Cara kerja penyaring konten WhatsApp

Sekilas, dari deksripsi tugasnya, para pekerja kontrak ini mirip dengan moderator konten.

Jasa moderator konten kerap digunakan perusahaan teknologi untuk menyaring konten negatif atau yang tidak sesuai dengan kebijakan konten platform mereka.

Tujuannya adalah menciptakan platform yang lebih kondusif.

Akan tetapi, Direktur Komunikasi WhatsApp, Carl Woof, menolak sebutan "moderator konten" untuk ribuan pekerja itu.

"Kami biasanya tidak menyebut mereka dengan itu (konten moderator) untuk WhatsApp," kata Woog.

Menurut Woog, perusahaannya berusaha membangun platform yang fokus ke privasi pengguna sekaligus mencegah penyalahgunaan. Karena hal itu pula, WhatsApp tidak memiliki laporan berapa konten yang "ditindak".

Hal ini berbeda dengan Instagram dan Facebook yang mengaku memiliki 1.500 moderator konten untuk menyaring informasi dan konten yang hilir mudik di kedua platform itu.

Secara berkala mereka mempublikasikan laporan transparansi berapa banyak akun dan konten yang ditertibkan.

Hal itu dimungkinkan karena Facebook dan Instagram tidak dilidungi fitur enkripsi dari ujung ke ujung seperti WhatsApp.

Berdasarkan pengakuan 29 moderator dan mantan moderator, pengalaman menjadi "moderator konten" WhatsApp di Austin mirip dengan tugas sebagai moderator konten Facebook atau Instagram.

Sebagian dari mereka berusia 20-30 tahun dan dipekerjakan oleh Accenture, perusahaan besar yang cukup dikenal mempekerjakan moderator konten oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa.

Disebutkan, ribuan penyaring konten WhatsApp berasal dari Accenture. Cara kerja mereka disebut sedikit berbeda dengan moderator konten Instagram dan Facebook karena pesan WhatsApp terenkripsi dari ujung ke ujung.

Sistem AI tidak bisa otomatis memindai isi chat, gambar, dan video, sebagaimana di Facebook dan Instagram. Penyaring konten baru bisa meninjau konten setelah pengguna melaporkan akun.

Data yang sudah tidak lagi terenkripsi itu akan dikumpulkan WhatsApp dan kemudian akan dibandingkan dengan metadata informasi akun (nama, foto profil, nomor telepon, pesan status, bahasa, ID ponsel dll) dan pola chat yang dinilai mencurigakan.

Sebagai contoh, salah satu pola yang disebut mencurigakan misalnya saat akun baru yang mengirimkan chat dengan volume tinggi.

Akun tersebut biasanya akan dinilai sebagai spammer.

Mereka juga akan mencocokan akun Facebook dan Instagram terkait, penggunaan terakhir aplikasi, serta riwayat pelaggaran sebelumnya.

Setelah menilai, mereka punya tiga opsi, pertama tidak melakukan apapun, membuat pengguna menunggu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, atau langsung memblokir akun.

Mereka memeriksa konten dan memasukannya ke dalam berbagai kategori, seperti spam, pelaku kejahatan sipil (termasuk ujaran kebencian politik dan disinformasi), ancaman terorisme global, gambar eksploitasi anak, dan pornografi anak.

Ada pula kategori yang berkorelasi dengan bisnis, seperti prevalensi peniruan identitas bisnis, kemungkinan pelanggar kebijakan perdagangan, dan verifikasi bisnis.

Respons WhatsApp dan Facebook

WhatsApp segera menglarifikasi ihwal isu privasi ini. Dirangkum KompasTekno dari XDA Developers, Rabu (8/9/2021), WhatsApp mengatakan bahwa mereka membatasi data yang dikumpulkan dari pengguna sekaligus menyediakan alat yang memberi keselamatan penggunanya.

"Kami membangun WhatsApp dengan cara membatasi yang kami kumpulkan sambil menyediakan alat untuk mencegah spam, menyelidiki ancaman, dan melarang mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan, termasuk berdasarkan laporan pengguna yang kami terima," kata perwakilan WhatsApp.

WhatsApp berdalih bahwa pengguna sudah paham, apabila mereka membuat laporan ke WhatsApp, platform akan menerima konten yang dikirim pengguna.

Facebook juga mengklarifikasi laporan bahwa mediator konten, hanya bisa membaca isi pesan Messenger yang dilaporkan oleh pengguna.

Kepada 9toMac, Facebook menjelaskan bahwa ketika pengguna melaporan pesan ke WhatsApp, mereka otomatis akan meneruskannya ke Facebook.

Dari sinilah, moderator bisa meninjau isi pesan yang dilaporkan.

Facebook menegaskan mereka tidak bisa melihat pesan lain yang tidak dilaporkan oleh pengguna.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved