Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Dua Nakes Pejuang Kemanusiaan Selama Pandemi, Sempat Dimarah Pasien Kini Dapat Penghargaan

Eni Susilawati (54) dan Nurlida (40) tak kuasa menahan rasa bahagianya, tatkala menerima pin emas dan piagam penghargaan dari Wali Kota Pangkalpinang,

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Fery Laskari
bangkapos.com
Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil saat menyematkan pin emas kepada Eni Susilawati para pejuang pejuang kemanusiaan penanganan Covid-19 yang selama 18 bulan terakhir berjibaku melawan pandemi Covid-19, di Halaman Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Jumat (17/9/2021). (Bangkapos.com/Cepi Marlianto) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Eni Susilawati (54) dan Nurlida (40) tak kuasa menahan rasa bahagianya, tatkala menerima pin emas dan piagam penghargaan Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil, saat peringatan Hari Jadi ke-264 Kota Pangkalpinang, Jumat (17/9/2021).

Mata keduanya seketika tampak langsung berkaca-kaca karena dilanda rasa haru. Bahkan sayup terdengar dari kejauhan mereka mengucapkan kata terima kasih kepada Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil dalam suara yang terbata-bata.

Seperti yang diketahui Eni Susilawati dan Nurlida merupakan para pejuang kemanusiaan dalam penanganan Pandemi Covid-19 selama 18 bulan terakhir.

Eni tak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi vaksinator terbaik tingkat Kota Pangkalpinang dari 166 vaksinator yang ada di ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.

Padahal menurutnya, selama bertugas menjadi vaksinator ia hanya berniat untuk membantu masyarakat agar ketika terpapar Covid-19 gejala yang ditimbulkan tidak berat sehingga menyelamatkan orang dari kematian.

Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka sekali bisa mendapat pin emas hingga penghargaan dari pemerintah Kota Pangkalpinang. Saya kerja tulus dari hati bahkan saya tidak tahu akan mendapat penghargaan,” kata dia kepada Bangkapos.com.

Selama menjadi vaksinator Covid-19 banyak suka duka yang dialami Eni. Mulai melakukan vaksinasi kepada teman sejawat, anggota kepolisian, pedagang, lanjut usia (Lansia) hingga pelajar sudah yang dia vaksinasi selama delapan bulan terakhir ini.

Akan tetapi, ada momen yang tak dapat dilupakan selama menjadi vaksinator sejak 2004 silam. Dimana ada seorang lansia yang sempat menyuap dirinya agar segera melakukan vaksinasi kepada lansia tersebut.

Lantas Eni langsung menolaknya karena itu menyalahi aturan, sebab lansia tersebut tiba-tiba datang langsung kepada dirinya tanpa antre seperti masyarakat lainnya.

Tak ayal karena tolakan tersebut perempuan yang sudah menginjak setengah abad lebih ini langsung dimarahi oleh lansia tersebut dengan kata-kata yang tidak pantas. Sayangnya hal itu tak diambil hati olehnya.

“Pernah mendapat pengalaman disogok oleh masyarakat dengan bayaran Rp100 ribu waktu awal vaksinasi tahap kedua khusus lansia, tetapi saya tolak. Bahkan dibayar Rp1 juta tetap saya menolak karena itu tidak sesuai aturan,” beber Eni.

Sambung Eni, dengan umpatan yang diterima itu justru meningkatkan dirinya untuk meningkatkan kinerjanya untuk memvaksin masyarakat. Tak tanggung-tanggung dalam sehari ia mampu menyuntik sekitar 300 orang dalam sehari.

“Walau dimarahi saya tetap profesional dalam bekerja. Sehari bisa sekitar 300 orang yang saya vaksin,” urainya.

Eni yang sudah sejak tahun 2004 menjadi tenaga vaksinator tak ada perbedaan antara suntikan vaksin Covid-19 dan vaksin lainnya.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved