Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Dua Nakes Pejuang Kemanusiaan Selama Pandemi, Sempat Dimarah Pasien Kini Dapat Penghargaan

Eni Susilawati (54) dan Nurlida (40) tak kuasa menahan rasa bahagianya, tatkala menerima pin emas dan piagam penghargaan dari Wali Kota Pangkalpinang,

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Fery Laskari
bangkapos.com
Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil saat menyematkan pin emas kepada Eni Susilawati para pejuang pejuang kemanusiaan penanganan Covid-19 yang selama 18 bulan terakhir berjibaku melawan pandemi Covid-19, di Halaman Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Jumat (17/9/2021). (Bangkapos.com/Cepi Marlianto) 

Menurutnya, vaksinasi sendiri adalah proses penyuntikan mikroorganisme yang sudah dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh manusia dengan tujuan agar tubuh mengenali mikroorganisme tersebut dan membentuk kekebalan tubuh untuk melawannya jika suatu saat menginfeksi sehingga tidak menyebabkan penyakit.

 Dalam proses penyuntikan hal yang paling penting adalah harus sesuai dengan lokasi suntikan yang dituju.

Dijelaskan dia, Ada macam-macam lokasi penyuntikan, mulai  subcutan, intracutan, intravena, dan intramuskular.

Protokol penyuntikan vaksin corona masuk dalam kategori intramuskular atau injeksi yang dilakukan ke dalam otot tubuh. Dalam injeksi intramuskular tidak ada aturan baku mengenai lengan mana yang harus disuntik.

“Mau lengan kanan maupun kiri itu tidak masalah, yang penting mengenai intramuskular atau tepat pada sasaran. Tetapi kebanyakan dilakukan pada tangan kiri agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ungkap Eni yang juga sebagai pegawai Puskesmas Melintang.

Sempat dimarahi pasien

Sementara itu hal senada juga dikatakan Nurlida, seorang tenaga kesehatan surveilans Puskesmas Gerunggang. Ia juga tak menyangka akan mendapatkan penghargaan dari Pemkot Pangkalpinang sebagai petugas surveilans teraktif.

Alhamdulillah saya bersyukur sekali kepada Allah. Terus terang saya tidak menyangka sangat terharu atas apresiasi dari pemerintah Kota pangkalpinang, semua lintas sektoral yang terkait saya merasa bahagia sangat bersyukur sekali kepada Allah atas kesempatan ini,” ujarnya sembari menyeka air matanya.

Selama menjadi petugas surveilans, Nurlida mengaku banyak asam garam yang dia dapatkan. Mulai merasa senang karena dapat membantu masyarakat hingga dimarahi pasien Covid-19 yang tak ingin dirawat.

Bahkan hal itu terjadi baru beberapa bulan yang lalu ketika kasus Covid-19 di Pangkalpinang sedang tinggi-tingginya dan bertepatan saat Kapolda Bangka Belitung, Irjen (Pol) Anang Syarif Hidayat meninjau pasien isolasi mandiri.

“Kita dimarah-marah pasien itu pernah. Namun setelah diberikan pengertian pasien tersebut paham. Kata mereka Covid-19 kok kayak teroris saja. Saat itu memang kita tidak mengabari pasien. Mungkin pasien tersebut terkejut saja karena banyak rombongan dan menghebohkan tetangga,” ujar Nurlida seraya menirukan omongan pasien.

Tak sampai disitu,  rasa takut akan terpapar tak ayal sempat ia rasakan karena harus berinteraksi dengan para pasien Korona. Akan tetapi hal tersebut tidak dihiraukan karena yang terpenting dapat membantu masyarakat.

Bahkan dia rela mendatangi pasien saat tengah malam karena mengalami sesak napas dan itu yang membuat semua petugas kesehatan merasa was-was.

“Kalau kita sudah menerima telepon pasien sesak napas itu kita takut. Tapi kebanyakan pasien yang sesak napas itu karena panik dan stress jadi timbullah sesak napas. Sebab, pikiran kita bisa menimbulkan rasa cemas dan rasa takut,” kata dia.

Halaman
123
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved