Breaking News:

Pembahasan Tiga Raperda DPRD Babel, Begini Saran dari Ditjen Otda Kemendagri

DPRD Bangka Belitung (Babel) sedang membahas rancangan peraturan daerah (raperda) lewat panitia khusus (pansus) yang akan segera melakukan finalisasi.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Kasubdit Wilayah I Direktorat Produk Hukum Daerah Ditjen Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri RI, Slamet Endarto. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangka Belitung (Babel) sedang membahas tiga rancangan peraturan daerah (raperda) lewat panitia khusus (pansus) yang akan segera melakukan finalisasi.

Adapun tiga raperda ini meliputi raperda tentan Pemberdayaan Pesantren, raperda tentang Penyelenggaraan Kearsipan dan raperda Bangunan Berciri Khas Serumpun Sebalai.

Namun, dalam rapat konsultasi dan kordinasi, Kasubdit Wilayah I Direktorat Produk Hukum Daerah Ditjen Otonomi Daerah (Otda) Kementerian Dalam Negeri RI, Slamet Endarto memberikan beberapa saran untuk raperda tersebut.

"Kami di sini diikutsertakan membahas tiga raperda, terkait yang kita bahas pertama, yang namanya pesantren pasti ada pendelagasian UU 18 Tahun 2019, bahwa mengenai kewenangan itu absolut, tapi bisa diberikan ke gubernur tetapi jangan sampai menyalahkan aturan itu," ujar Endarto, Selasa (22/9/2021).

Dalam pembahasan terkait dana hibah yang sudah diatur dalam permendagri, Dia menyarankan agar ada dua raperda dijadikan satu dan judul diperbaiki untuk raperda pemberdayaan pesantren.

"Terkait dengan kearsipan, ada beberapa hal menarik, kearsipan memang kerap dipandang sebelah mata. Padahal kearsipan itu luar biasa, penyelenggaraan pemerintah harus ada," katanya.

Dia meminta kearsipam menjadi hal yang perlu menjadi perhatian, pasalnya kearsipan itu bukan hanya menyimpan saja tetapi merawat dan diamankan.

"Jangan sampai masyarakat tidak tahu riwayat provinsi Bangka Belitung, jangan sampai melupakan sejarah, kehilangan arsip adalah kehilangan jati diri," katanya.

Sementara, Dia juga mengapresiasi terkait raperda Bangunan Berciri Khas Serumpun Sebalai.

"Saya bilang ruang lingkup pembahasan harus lokus, agar tidak lari kemana-mana. Saya dari pusat saya sangat apresiasi, karena itu budaya kita, jangan sampai budaya itu hilang atau tidak terekam jejaknya, jangan sampai budaya itu hilang karena tidak terekam jejaknya. Itu ada beberapa, ini sudah dalam pembahasan berikutnya," kata Endarto.

Diakuinya, semua raperda sudah selesai terkait pemahaman, tetapi penyusunan masih proses.

"Nanti ada fasilitasi, itu hanya cukup melalui e-perda, untuk efektivitas dan efisiensi terkait fasilitasi. Cukup klik e-perda, trackingnya jelas," katanya. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved