Breaking News:

bangka pos hari ini

Wisata Religi dan Belajar Sejarah Belitung

Cerahnya cahaya mentari menjelang siang, Sabtu (25/9) sembari menikmati lanskap barisan perbukitan. Menapaki satu per

Posbelitung/Disa Aryandi
Berwisata ke Gunung Lilangan Desa Ibul, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Sabtu (25/9). 

BANGKAPOS.COM - Cerahnya cahaya mentari menjelang siang, Sabtu (25/9/2021) sembari menikmati lanskap barisan perbukitan. Menapaki satu per satu ratusan anak tangga menanjak ke puncak bukit Gunung Lilangan.

Meski nafas ngos-ngosan, namun perjalanan menuju puncak terasa santai sembari mendengar penuturan sejarah dan obrolan ringan dengan warga setempat.

Dari Tanjungpandan, butuh waktu sekitar 30 menit berkendara dengan mobil menuju ke Desa Ibul, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Setibanya di persimpangan jalan menuju ke objek wisata ini, terdapat gapura dan pelang kayu bertuliskan

Situs Makam Raja Badau Gunung Lilangan Desa Ibul.

Akses jalanan aspal lalu berganti dengan jalanan tanah merah. Dari sini, kami dipandu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cakar Besi yakni Yonas, Mursita, dan Purwanto yang akan memandu perjalanan ke Gunung Lilangan.

Baca juga: Babel Unggulkan Danau Pading, Disparbudpora Peringati Hari Pariwisata Dunia 2021

Meski sempat khawatir karena kesulitan pada satu titik jalanan yang cukup sulit dilalui, tapi rupanya bisa terlewati dan sampailah di bawah Gunung Lilangan. Meski disebut sebagai gunung, sebenarnya spot ini setinggi bukit dengan ketinggian sekitar 110 meter.

Agar bisa mencapai ke puncak yang terdapat makam raja Badau, pengunjung harus menapaki 402 anak tangga. Terdapat gazebo tempat pemberhentian agar bisa sejenak beristirahat. Di sepanjang perjalanan keramahan dan penuturan sejarah serta tradisi warga sekitar membuat perjalanan terasa menyenangkan.

"Wisata di sini memang minat khusus untuk berziarah dan belajar sejarah, karena inilah raja-raja pertama di Belitung, yang dulunya membasmi lanun," kata Yonas.

Mencapai puncak bukit, Yonas menunjukkan beberapa makam yang terdapat makam kayu milik keluarga Kerajaan Badau. Di bagian paling atas terdapat gazebo serta pelang penanda cagar budaya. Tak jauh dari situ, terdapat makam enam Raja Badau beserta nama-namanya.

Ada beberapa tradisi dan kepercayaan warga setempat, seperti tidak diperbolehkan mengambil foto dan video di area makam raja.

Baca juga: Bisa Berprestasi Hingga Berpenghasilan

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved