Kamis, 23 April 2026

Advertorial

Cinta Dengan Wastra Indonesia, Nina Ingin Kain Cual Mendunia

Di Provinsi Bangka Belitung misalnya, terdapat kain tradisional yang disebut kain tenun cual yang kaya akan motif dan makna filosofis.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Nina Sarjulianto Pemilik Rumah Produksi Tenun Cual bersama Ketua Dekranasda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Melati Erzaldi saat peresmian rumah produksi tenun cual, Rabu (6/10/2021) siang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Keanekaragaman tekstil di seluruh Indonesia memang mengagumkan.

Setiap daerah memiliki berbagai macam kain yang menjadi kebudayaan dan ciri khas masing-masing

Di Provinsi Bangka Belitung misalnya, terdapat kain tradisional yang disebut kain tenun cual yang kaya akan motif dan makna filosofis.

Sehingga banyak orang yang ingin melestarikan kain khas Bangka Belitung ini agar tidak punah karena perkembangan zaman.

Nina Sarjulianto Pemilik Rumah Produksi Tenun Cual menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Galeri Destiani bercerita bagaimana, ia bisa membuka rumah produksi.

Seperti yang diketahui hari ini, Rumah Produksi kain cualnya telah diresmikan oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bangka Belitung, Melati Erzaldi.

Baca juga: Dekranasda Bangka Belitung Ajak Masyarakat Kenakan Kain Tenun Cual, Hingga Pelaku UMKM Melek Digital

Baca juga: Resmikan Rumah Produksi Tenun, Ketua Dekranasda Bangka Belitung Sebut Kain Tenun Cual Hampir Punah  

Nina mengaku mendirikan rumah produksi tersebut lantaran kecintaannya terhadap wastra Indonesia. Dimana saat berada di suatu daerah Nina selalu mencari kekayaan kain khasnya seperti apa.

Wastra sendiri merupakan kain tradisional yang syarat makna dan budaya nusantara.

Kala itu pada tahun 2000, Nina yang baru pindah ke Bangka Belitung sering diajak oleh para penggiat Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Pangkalpinang untuk memberdayakan masyarakat.

Saat itu ia diajak untuk mengunjungi Bangka Barat, bermula dari itu ia mulai kenal dengan keindahan kain tenun Cual.

“Ini bermula dari kecintaan dan kekaguman saya akan wastra kain di seluruh nusantara. Pada tahun 2000 saya mendampingi suami saya tugas di sini. Ketika saya berada di Muntok saya melihat keindahan kain cual,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (6/10/2021).

Nina berujar, alasan lain ia ingin mendirikan Rumah Produksi Tenun Cual ATBM ini sebab ingin melestarikan dan mengembangkan kain tradisional yang sudah sejak abad 17 ada di Bangka Belitung.

Selain itu, motif kain cual yang kaya akan motif dan makna filosofis serta pembuatannya menggunakan perpaduan teknik tenun songket dan ikat membuatnya semakin tertarik.

“Ini merupakan bagaimana cara saya melestarikan dan mengembangkan setelah berkonsultasi dengan budayawan Bangka Belitung,” ungkap Nina.

Pada awalnya, Nina yang juga seorang pembatik telah mengembangkan beberapa kain cual dalam bentuk batik dan tenun.

Setelah itu, baru-baru ini dia kembali berinovasi dan memutuskan untuk memproduksi massal dengan menggunakan ATBM.

“Saat ini dalam bentuk ATBM, karena ini lebih mudah jika dibandingkan bentuk songket. Maka dari itu kami mengembangkannya,” sebutnya.

Baca juga: Melati Ajak Kenali Proses Pembuatan Tenun Cual Khas Babel

Baca juga: Cual Muntok Karya Kelompok Tenun Bunda Cempaka Tak Kalah Mempesona, Merah Hati Jadi Ciri Khas

Setidaknya, sejak tahun 2000 berkecimpung di bisnis kain cual, Nina sudah menciptakan beberapa motif. Pertama motif lebah pelawan atau lebah madu pelawan dan motif bunga ketuyut atau kantong semar.

Bahkan kedua motif tersebut sudah dipatenkan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Motif tersebut sudah ada sertifikat merek dagang dengan Hak Kekayaan Intelektual (Haki-red),” ungkap Nina.

Ketua Dekranasda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Melati Erzaldi saat melihat proses pembuatan kain tenun cual di rumah produksi tenun Galeri Destiani, Rabu (6/10/2021) siang.
Ketua Dekranasda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Melati Erzaldi saat melihat proses pembuatan kain tenun cual di rumah produksi tenun Galeri Destiani, Rabu (6/10/2021) siang. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Kembangkan dalam Bentuk Sarung

Menurut Nina Sarjulianto, saat ini dirinya juga tengah mengembangkan beberapa variasi kain cual dengan memakai bahan katun hingga sutra.

Malahan dengan menggunakan teknik yang berbeda seperti rajut dan sulam.

“Jadi variasinya bisa banyak sekali. Kita juga saat ini sedang membuat sarung untuk salat, karena itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas,” ujar istri Sarjulianto ini.

Sedangkan untuk pasar kain cual miliknya, dia berujar, kini telah sampai ke kancah nasional. Malahan beberapa instansi pemerintah, kementerian maupun lembaga sudah banyak yang menggunakan kain cualnya untuk aktivitas sehari-hari.

Untuk itu, Nina betul-betul mengutamakan kualitas produknya dan jahitan. Sebab menurutnya, kain sederhana jika dijahit dengan bagus akan menjadi keren.

Sebaliknya jika kain mahal dijahit tidak sempurna maka akan hancur. Oleh sebab itu, harus banyak detail yang harus dipelajari baik itu jahitan, kualitas produk dan pemasarannya.

“Kita nanti juga akan buat segmennya, misalnya khusus anak sekolah yang bisa dijangkau, kemudian menengah ke atas hingga premium,” ungkap dia.

Pengerajin kain tenun cual
Pengerajin kain tenun cual (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Hasilkan Belasan Meter Kain Tenun Cual Per hari

Nina mengatakan, dalam sehari rumah produksinya dapat menghasilkan sekitar 14 meter kain tenun cual per harinya.

“Kita ada tujuh orang pegawai, per orang setiap hari biasanya sekitar dua meter,” kata Nina.

Ia mengungkapkan, rumah produksi kain cualnya sendiri kini sudah memiliki 20 unit ATBM. Untuk pekerjanya Nina akan memberdayakan anak-anak milenial hingga masyarakat sekitar yang siap untuk menjadi penerus sebagai pengrajin kain tenun cual.

Dengan begitu, dia ingin menjadikan masyarakat Kecamatan Pangkalan Baru dan Kecamatan  Girimaya menjadi masyarakat dengan ikon tenun ATBM.

“Ke depan kita juga akan memberdayakan masyarakat sekitar. Untuk saat ini kita masih hire anak-anak milenial yang masih kuliah. Jadi saya tanamkan untuk cinta kepada kain cual,” kata  Nina.

Walaupun demikian, Nina menargetkan untuk kembali memperbesar rumah produksinya dengan 100 unit ATBM. Dimana nantinya masyarakat yang sudah dilatih nantinya akan dipinjami ATBM untuk dibawa pulang. Sehingga mereka bisa bekerja di rumah.

“Maka dari itu saya meminta dukungan dari pemerintah untuk membuka jembatan ekspor. Membangun itu lebih mudah daripada mempertahankan, seperti SDM, alat maupun semangat. Kalau nantinya masyarakat sudah diberdayakan pasti nanti akan (Banyak kain cual) menumpuk,” harap Nina.

Oleh karenanya, Nina tidak lupa mengajak masyarakat Bangka Belitung untuk gemar menggunakan kain cual. Sebab bagi dia, kalau bukan masyarakat siapa lagi yang akan meneruskan budaya-budaya yang ditinggalkan para leluhur.

“Kenapa harus beli di luar kalau kita sendiri bisa produksi sendiri. Kita juga harus bangga dengan kain cual produksi Bangka Belitung,” ungkap Nina. 

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved