Harga Sawit dan CPO Capai Rekor Tertinggi, Ternyata Ini Penyebabnya
Pasokan CPO yang masih rendah menjadi penyebab utama kenaikan harga CPO dan TBS sawit sepanjang 2021.
BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Petani, pengusaha dan perusahaan bergerak di bidang perkebunan sawit saat ini tengah menikmati hasil.
Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani sedang tingggi-tingginya.
Begitu pun harga minyak sawit alias crude palm oil (CPO) kembali mencetak rekor tertinggi baru.
Pasokan CPO yang masih rendah menjadi penyebab utama kenaikan harga CPO sepanjang 2021.
Pada Jumat (17/9/2021) lalu harga TBS kelapa sawit di tingkat pabrik CPO PT Gemilang Cahaya Mentari (GCM) Kabupaten Bangka kembali naik menjadi Rp2.670 per kg.
Sebelumnya pada tanggal 8 September 2021 lalu harga TBS kelapa sawit Rp2.590 per kg.
"Info dari pabrik PT GCM terhitung tanggal 17 September 2021 harga TBS kelapa sawit adalah Rp2.670/kg," kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Bangka, Jamaludin kepada Bangkapos.com, Jumat (17/09/2021).
Menurutnya, di antara faktor semakin naiknya harga kelapa sawit saat ini, karena banyak pabrik CPO kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kelapa sawit, karena saat ini banyak kebun kelapa sawit sedang musim ngetrek atau berhenti berbuah.
"Musim ngetrek buah kelapa sawit ini jadi hingga 3 bulan ke depan, meskipun harga kelapa sawit semakin bagus, namun hasil panen buah saat ini memang sedikit," ujar Jamaludin.
Menurutnya, meskipun musim ngetrek namun sebagian kebun kelapa sawit yang masih usia produktif tetap masih ada menghasilkan buah.
"Mungkin saat ini hasil panen kelapa sawit hanya berkisar 35-50 persen saja," imbuh Jamaludin.
Terpisah Athung, petani kelapa sawit Kelurahan Lubuk Kelik Kecamatan Sungailiat mengakui saat ini kebun kelapa sawit miliknya juga sedang musim ngetrek.
"Apalagi untuk kelapa sawit yang berusia di atas 10 tahun kebanyakan sedang ngetrek, namun untuk kelapa sawit yang masih usia di bawah 10 tahun tetap masih berbuah dan bisa rutin dipanen," kata Athung.
Ditambahkan untuk harga kelapa sawit di tingkat petani saat ini lumayan tinggi dan bagus.
"Beberapa hari lalu saya ada jual ke pedagang pengepul dibeli seharga Rp2.430 per kg, harga ini sangat bagus dan tinggi, semoga ke depan harganya semakin tinggi," ujar Athung.
Harga CPO Level Tertinggi
Dilansir Kontan.co.id, Selasa (5/10/2021), harga CPO kontrak pengiriman Desember 2021 berada di RM 4.738 per ton, atau naik 3,36% dari hari sebelumnya.
Harga CPO di Bursa Derivatif Malaysia tersebut merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.
Baca juga: Dapat Transferan Rp 900 ribu Sampai Rp 3 Juta, Masukkan NIK KTP dan KK Serta Punya Rekening Bank
Baca juga: Inilah Momen Maria Vania Disentuh Tukul Arwana, Ekspresinya Bikin Gagal Fokus
Baca juga: Video Gisel Enjoy Goyang Bareng 2 Pria Ditonton 4,3 Juta Kali, Goyangan Wijin Disorot
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan, harga CPO naik karena produksi CPO Malaysia tahun ini turun.
"Meningkatnya kasus Covid-19 di Malaysia membuat produksi menjadi terhambat, apalagi pemerintah Malaysia melakukan lockdown yang membuat tenaga kerja asing kesulitan masuk Malaysia," jelas dia.
Di lain sisi, India menurunkan bea impor untuk CPO menjadi 10%-15%.
India juga menurunkan tarif bea masuk produk sawit yang masuk kategori refined menjadi sebesar 37,5% dari sebelumnya 45%.
Ini membuat banyak CPO yang masuk ke India.
"Di India permintaan CPO mulai meningkat karena aktivitas restoran dan hotel sudah mulai beroperasi normal sehingga meningkatkan kebutuhan CPO," terang Ibrahim. Padahal permintaan di China sebagai konsumen terbesar juga masih naik.
Kebutuhan kian membludak karena terjadinya krisis energi di Eropa.
"Sejak Brexit selesai, permintaan dari Eropa meningkat tajam. Bahkan terjadi krisis energi," ujar Ibrahim.
Kenaikan permintaan tidak hanya terjadi di CPO, tapi juga pada minyak kedelai dan produk turunan lainnya.
Ibrahim yakin permintaan CPO akan terus meningkat, terutama di kuartal IV. Penyebabnya, bakalan terjadi cuaca ekstrem.
Tak hanya itu, di kuartal IV akan ada banyak hari besar di China dan India. Menurut Ibrahim, biasanya saat itu, kebutuhan CPO akan meningkat.
Hitungan Ibrahim, harga CPO bisa mencapai level tertinggi di RM 5.100 per ton di tahun ini.
"Membaiknya ekonomi membuat kebutuhan komoditas mengalami peningkatan, padahal pasokan belum pulih," ujar dia.
Ekonom Sebut Harga Komoditas Masih Tetap Tinggi Hingga Akhir 2021
Harga sejumlah komoditas terlihat meroket sepanjang tahun ini.
Hal tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang turut mendorong permintaan terhadap sejumlah komoditas.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, prospek harga komoditas hingga akhir tahun ini masih tetap tinggi.
Baca juga: CEK ATM! Bantuan Rp900 ribu - Rp3 Juta Ini Ditransfer ke Nasabah BRI, BNI, Mandiri, BSI, hingga BTN
Baca juga: Cek NIK Kamu, Bantuan Rp 1 Juta Bisa Masuk ke Nasabah Bank BRI, BNI, BTN, dan Mandiri, Ini Caranya
Pemulihan ekonomi global usai pandemi Covid-19 menjadi salah satu pendorong kenaikan harga saat ini.
Salah satu komoditas yang diuntungkan dengan kondisi saat ini adalah minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO).
Selain permintaan yang naik, terhambatnya produksi CPO di Indonesia dan Malaysia juga mengerek harga komoditas ini.
Akan tetapi, Faisal melihat, kemungkinan normalisasi produksi CPO pada semester II-2021 bisa manahan laju kencang harga CPO ke depannya.
“Sementara untuk batubara, kami masih melihat harganya tetap tinggi di sisa tahun 2021 ini. Tapi ke depan, akan ada risiko harga akan koreksi karena stok batubara domestik China yang perlahan meningkat,” jelas dia kepada Kontan.co.id, Jumat (24/8).
Baca juga: Buruan, Bank BRI Bagi-bagi Pinjaman Rp 50 Juta Tanpa Jaminan, Bebas Biaya Administrasi
Selain itu, jika dilihat secara umum, Faisal bilang, rencana Federal Reserve (The Fed) untuk mengurangi pembelian aset obligasi Amerika Serikat (AS) bisa mengurangi efek spekulasi di pasar keuangan global.
Hal ini berpotensi membuat dolar AS menguat dan aset berisiko seperti komoditas ditinggalkan.
Jika itu terjadi, harga komoditas berpotensi tertekan.
Selain itu, bagi komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS, akan menjadi lebih mahal untuk mata uang lainnya dan akhirnya menyeret permintaan terhadap komoditas tersebut.
Lebih lanjut, Faisyal menyebut, dengan adanya kenaikan harga komoditas tersebut, dampaknya terhadap Penerima Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga akhir tahun 2021 masih berpotensi tumbuh.
Sumber: Bangkapos.com/Edwardi/Kontan.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210909-ilustri-petani-sedang-memanen-sawit.jpg)