Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Aksi Balap Liar Multi Faktor, Pengamat Publik: Sanksi Tilang dan Penahanan Sudah Tepat

Dosen Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, Dwi Haryadi mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan aksi balap liar di Babel kian marak.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: nurhayati
IST
Dr Dwi Haryadi Dekan Hukum Universitas Bangka Belitung. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dosen Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, Dwi Haryadi mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan aksi balap liar di Bangka Belitung kian marak.

Diantaranya seperti kurangnya kontrol dari orang tua, solidaritas pertemanan yang keliru, upaya menunjukkan eksistensi hingga agar terlihat gaul dan membuat aksi viral.

Selain itu minimnya sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk menyalurkan bakat dan minat remaja turut memperparah aksi balap liar. Sehingga mereka nekat menggunakan jalan yang sepi untuk balapan.

“Ditambah masa pandemi ini cukup lama dibatasi dalam berbagai aktivitas, saat Covid-19 mulai melandai dengan kebosanan yang ada kemudian dilampiaskan pada kegiatan yang sayangnya bisa membahayakan dirinya maupun orang lain. Jadi kreatifitas yang salah tempat,” kata dia kepada Bangkapos.com, Kamis (14/10/2021) petang.

Baca juga: Aksi Balap Liar di Taman Dealova Ditertibkan, Masyarakat Hingga Pengunjung Mengaku Senang

Baca juga: Polres Pangkalpinang Tindak Tegas 40 Motor Balap Liar Ditilang Sebulan, Pemilik Harus Bawa Orang Tua

Untuk memperkecil peluang balap liar di jalanan, Dwi Haryadi menuturkan ada beberapa cara preventif yang dapat dilakukan.

Pasalnya pelaku balap liar didominasi oleh  kalangan pelajar atau mahasiswa yang tentunya dapat dibina kedepannya.

Upaya tersebut seperti, sosialisasi peraturan lalu lintas di sekolah maupun kampus khususnya terkait balap liar yang dilarang dan membahayakan. 

Kemudian orang tua harus lebih aktif mengawasi apa kegiatan anaknya di luar rumah dengan membatasi jam bermain di luar sesuai waktu yang layak, terutama pada malam hari yang sering jadi waktu balapan liar.

“Idealnya anak berkendara jika sudah memenuhi syarat dan memiliki Surat Izin Mengemudi atau SIM. Disini peran orang tua sangat penting, karena kesibukan kemudian kita dengan mudah memberikan fasilitas kendaraan kepada anak yang secara usia dan psikologi terbilang labil. Lalu kontrol dari sekolah juga penting untuk pembinaan,” jelas Dwi.

Disisi lain, menurutnya, kontrol dari lingkungan sekitar khususnya yang ada di daerah balap liar untuk menegur juga sangat diperlukan. Apalagi jika aksi tersebut masih terus berlanjut ada baiknya masyarakat melaporkan ke pihak yang berwajib.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved