Breaking News:

Berita Kriminal

Kasus Sabu Dalam Nasi Goreng, Terdakwa Ajukan PK  

Tim Kuasa Hukum Terdakwa Rudi Haryanto alias Rere, mengajukan peninjauan kembali (PK) terkait putusan peng

Penulis: Antoni Ramli | Editor: Fery Laskari
bangkapos.com
Sidang pengajuan PK terdakwa Rere di Pengadilan Negeri PHI / Tipikor Negeri Kelas 1A, Pangkalpinang, Kamis (14/10/2021). (Bangkapos .com/Anthoni Ramli) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tim Kuasa Hukum Terdakwa Rudi Haryanto alias Rere, mengajukan peninjauan kembali (PK) terkait putusan pengadilan tingkat pertama, Pengadilan Negeri Pangkalpinang, yang memvonis Rere selama enam tahun penjara.

Sementara, di tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Provinsi Bangka Belitung, hukuman Rere dipangkas menjadi 5 tahun. Namun putusan tersebut tak lantas membuat Rere dan kuasa hukumnya puas.

Pada Kamis (14/10/2021) Tim Kuasa Hukum Terdakwa Rere, mengajukan upaya hukum PK melalui, Pengadilan Negeri PHI/Tipikor Negeri Kelas 1A, Pangkalpinang.

Sidang pengajuan PK terdakwa Rere dipimpin Ketua Majelis Efendi, didampingi dua hakim anggota, PH dari Kantor Hukum Tukijan dan JPU Kejari Pangkalpinang Efendi.

Tukijan, menilai kliennya Rere, hanyalah korban penyalahgunaan narkoba. Ia menyebut kliennya juga hanya pemakai bukan pengedar.

"Maunya kami putusan itu di bawah 4 tahun, karena klien kami Rere ini pemakai, bukan pengedar,"kata Tukijan di Pengadilan Negeri PHI / Tipikor Negeri kelas 1A, Pangkalpinang.

Tukijan juga menilai, ada kekhilapan serta kekeliruan hakim tidak memerintahkan penuntut umum menghadirkan Saksi Tri Surya Jaya, selaku pengantar nasi goreng yang berisi sabu ke Rutan Polres Pangkalpinang yang diperintahkan Saksi Nando Prasetyo (terdakwa).

"Kekhilapan dan kekeliruan hakim juga terlihat ketika penuntut umum tidak menghadirkan Saksi Tri Surya Jaya, selaku pengantar bungkusan  nasi goreng ke rutan Polres Pangkalpinang, sebagai saksi di persidangan, padahal pada pertama penangkapan dilakukan kepada Tri Surya Jaya,"kata Tukijan.

Sementara, dalam kesimpulan jaksa penuntut umum pada poin kelima, berbunyi bahwa terdakwa hanya berdalih sebagai pengguna saja saat ditangkap.

"Namun terdakwa tidak bisa membuktikan, bahwa terdakwa sebagai pecandu karena terdakwa tidak melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya ke rumah sakit atau pusat rehabilitasi medis yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapatkan pengobatan sebagaimana diatur dalam undang undang nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika,"kata Efendi.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved