Breaking News:

Berita Pangkalpinang

72 Orang Korban Buaya di Bangka Belitung 5 Tahun Terakhir, 22 Meninggal Dunia

BKSDA Sumatera Selatan wilayah Bangka mencatat, sejak 2016 sampai 2021 sudah sebanyak 72 orang menjadi korban keganasan buaya di Babel.

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: El Tjandring
Ist/PPS Alobi Babel
Buaya pemangsa penambang TI di Riausilip, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung yang berhasil ditangkap warga, Sabtu (17/10/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Foundation Bangka Belitung, Langka Sani menyebut, setidaknya dalam rentang kurun waktu lima tahun terakhir sudah puluhan laporan orang menjadi korban serangan buaya.

Berdasarkan data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan wilayah Bangka mencatat, sejak tahun 2016 sampai 2021 sudah sebanyak 72 orang menjadi korban keganasan buaya di Bangka Belitung.

"Untuk data kematian atas serangan buaya yaitu itu sudah 22 orang selama kurun waktu berapa tahun ini. Dalam dua bulan terakhir setidaknya sudah terdapat tiga korban jiwa," kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (20/10/2021).

Langka Sani mengatakan, konflik buaya dan manusia yang sering terjadi di Bangka Belitung bisa dipicu oleh banyak hal. Mulai dari manusia yang masuk ke teritorial buaya ataupun sebaliknya.

Baca juga: Video Gisel Goyang Pargoy 15 Detik di Kolam Renang Bikin Warganet Terngiang-ngiang

Baca juga: Ibu Nekat Ajak Calon Menantu Berhubungan Badan Supaya Pernikahan Putrinya Batal, Berakhir Tragis

Baca juga: Terbaru! Aturan Terbang dari Jakarta dan Pelembang ke Babel Tak Wajib PCR Asal Syarat Ini Terpenuhi

Bahkan yang turut memperparah keadaan adalah kerusakan habitat buaya yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia itu sendiri. Dimana dengan melakukan pertambangan timah inkonvensional yang sampai menjarah daerah aliran sungai sehingga tercemar.

Hal itu juga yang membuat buaya semakin terdesak karena cadangan makanan mereka semakin menipis di habitat aslinya. Lantaran aktivitas perburuan yang mulai marak sekali di Bangka Belitung yang kian memperburuk keadaan sampai terjadi gesekan antara buaya dengan masyarakat.

"Di sini buaya tersebut terdesak karena memang habitat mereka telah rusak akibat ulah kita sendiri manusia. Selama kita melakukan rescue terhadap buaya itu, pasti ada aktivitas tambang ilegal yang memang berada di lokasi," beber Langka Sani.

Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Foundation Bangka Belitung, Langka Sani.
Ketua Yayasan Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi Foundation Bangka Belitung, Langka Sani. ((Bangkapos/Cepi Marlianto))

Berkaca dari hal ini, dia meminta pemerintah setempat untuk segera melakukan langkah strategis dengan mengambil upaya mitigasi dengan cara memasang papan imbauan, bahwasannya lokasi tersebut habitat buaya, di samping terus memberikan edukasi terhadap masyarakat.

Dimana buaya muara atau dengan nama latin Crocodylus porosus juga mempunyai peran penting meskipun sering dianggap sebagai pengganggu, buaya muara itu memiliki fungsi luar biasa dalam sebuah ekosistem sebagai top predator.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved