Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Waspadai! Dua Bencana Ini Kerap Terjadi di Babel Dalam Dua Tahun Terakhir

Masyarakat harus lebih memperhatikan lingkungan dan mewaspadai peluang terjadi bencana yang menyebakan kematian ini.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: El Tjandring
istimewa/Basarnas Pangkalpinang
ILustrasi evakuasi jenazah korban serangan buaya. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mikron Antariksa mengatakan ada dua bencana alam di Bangka Belitung yang kerap terjadi dua tahun terakhir (tahun 2020-2021).

Dua bencana ini disebutkannya bukan karena faktor cuaca tetapi karena faktor kelalaian manusia.

"Dua tahun ini tidak ada bencana alam yang signifikan, hanya saja ada kelalaian manusia yang menyebabkan kematian misalnya longsor karena penambangan dan diterkam buaya, hal ini lah yang mendominasi terjadi pada tahun 2020 dan 2021," ujar Mikron, Rabu (27/10/2021).

Menyikapi kondisi ini, tentu masyarakat harus lebih memperhatikan lingkungan dan mewaspadai peluang terjadi bencana yang menyebakan kematian ini.

Baca juga: Video Baru Gisel dan Wijin di Atas Kasur Disebar, Ujung Baju Tidur Diikat di Perut Saat Bergoyang

Sementara itu untuk bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan karena titik panas dan puting beliung telah terjadi penurunan pada dua tahun terakhir.

Kedati begitu, pihak BPBD provinsi dan kabupaten akan tetap siaga mewaspadai terjadi bencana alam di Bangka Belitung.

Baca juga: Jarang Disorot Istri Mandra Si Doel Anak Sekolahan, Sosoknya Cantik dan Awet Muda

"Terjadi penurunan seperti banjir, biasanya disebabkan oleh dampak kerusakan lingkungan dan pengaruh pasang surut air, tapi kita harus siaga sampai bulan Februari ke depan juga terhadap curah hujan dan pasang air rob di Babel," katanya.

Mengenai hot spot atau titik panas yang berpeluang terjadi kebakaran hutan atau suatu area ikut terjadi penurunan tetapi sempat meningkat pada bulan September 2021.

Baca juga: Dicari! Uang Rp5000 dengan Nomor Seri Tanpa Huruf Langsung Dibayar Rp30 Juta oleh Youtuber Ini

"Kalau hot spot kemarin bulan September sempat meningkat sampai 180 titik, namun terjadi panas tinggi itu, muncul hujan, sontak spot itu hilang, ini semacam anomali cuaca, mungkin bulan Desember, musim hujan tetapi ada panasnya, hal ini patut kita syukuri tetapi wajib diwaspadai karena fenomena cuaca bisa bergejolak," kata Mikron.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved