Breaking News:

Berita Sungailiat

Kejaksaan Lindungi Hak Perempuan dan Anak, Kejari Bangka Barat Ingin Ada Perhatian Seluruh Pihak

Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Barat menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: nurhayati
Dok/Kejaksaan Bangka Barat
Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Barat menggelar sosialisasi, sebagai upaya mewujudkan ketahanan keluarga di BMI Park, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (31/10/2021) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Barat menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Sosialisasi ini, sebagai upaya mewujudkan ketahanan keluarga di BMI Park, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat.

Kasubsi Intelijen Kejari Bangka Barat M. Syaran Jafizhan, menjadi narasumber yang mewakili Kajari Bangka Barat, Helena Octavianne.

Kegiatan sosialisasi tersebut juga diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bangka Barat yang bekerja sama dengan Kejari Bangka Barat dan Pengadilan Agama Mentok.

"Kegiatan sosialisasi tersebut berkaitan erat dengan program Jaksa Peduli Anak yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi, untuk menjaga dan melindungi perempuan dan anak yang dianggap lemah dan rentan untuk menjadi korban kekerasan," jelas Helena Octavianne, Minggu (31/10/2021).

Helena mengungkapkan sosialisasi ini mengenai aturan hukum tentang pencegahan KDRT dan tentang perlindungan anak menjadi undang-undang yang mengatur tentang perempuan dan anak sebagai korban tindak pidana.

"Ini bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan perpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera," jelasnya.

Diketahui perlindungan anak terkait erat dengan lima pilar yakni, orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah daerah dan negara. 

"Jumlah perkara perlindungan anak di Kecamatan Parittiga cukup tinggi, bila dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bangka Barat. Salah satu faktor yang melandasi adalah faktor krisis ekonomi dan keimanan terutama pada masa pandemi covid-19, saat ini banyak orang tua yang terlalu sibuk bekerja," katanya.

Selain itu juga untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, diperlukan peran aktif dari keluarga terutama orang tua.

Helena mengatakan keluarga mempunyai andil yang besar dalam mengenalkan prinsip-prinsip keimanan, sebagai dasar untuk menjalani kehidupan sebagai bentuk pengawasan terhadap perilaku anak dan sebagai pencontohan karakter bagi anak.

"Orang tua harus menjadi role model yang baik bagi anak-anak mereka, dengan harapan agar anak-anak dapat bertingkah laku yang baik dan sopan. Serta mematuhi aturan hukum yang berlaku sehingga dapat mengurangi risiko, terjadinya perbuatan tercela dan kekerasan terhadap perempuan dan anak," ungkapnya.

Helena berharap adanya partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, para guru untuk melindungi hak-hak dari perempuan dan anak.

"Sehingga dapat mengurangi angka pernikahan dini, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, perbuatan asusila di luar pernikahan, dan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bangka Barat yang saat ini telah meraih predikat Kabupaten Layak Anak dengan terwujudnya ketahanan keluarga," ucapnya. (Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved