Breaking News:

OPINI - Jahe, Tanaman Biofarmaka yang Menjanjikan Serta Solusi untuk Petani

Di Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, jahe terdefinisi sebagai tanaman biofarmaka yang termasuk ke dalam kelompok tanaman hortikultura.

Editor: Alza Munzi
Istimewa/dokumen pribadi
Mariani Rangkuti, Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Jahe, Tanaman Biofarmaka yang Menjanjikan

Oleh: Mariani Rangkuti, SE

Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

MASYARAKAT Indonesia tentu tak asing lagi dengan rimpang jahe yang dalam bahasa latin bernama Zingiber officinale Rosc.

Tanaman herbal ini bisa dibilang termasuk rempah- rempah yang paling banyak digunakan masyarakat untuk makanan dan minuman.

Perbedaan jahe merah dengan jahe biasa adalah pada rasanya yang lebih kuat.

Jahe merah memiliki rasa pedas yang lebih tajam karena kandungan minyak atsiri, gingerol dan zingeronnya lebih tinggi.

Di Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, jahe terdefinisi sebagai tanaman biofarmaka yang termasuk ke dalam kelompok tanaman hortikultura.

Tanaman hortikultura adalah tanaman yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam seperti sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias, maupun tanaman obat-obatan/tanaman biofarmaka.

Pada tahun 2020, BPS merilis data produksi tanaman biofarmaka Indonesia berupa tanaman jahe, yaitu sebesar 183.52 ribu ton. Naik sebesar 5.24% (9.14 ribu ton) dari tahun 2019.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved