Breaking News:

Berita Sungailiat

Wilayah Sungailiat Masuki Fase Kombinasi Pasang, Sebabkan Potensi Banjir Semakin Tinggi

Memasuki musim penghujan ditambah fenomena la nina membuat wilayah Sungailiat, Kabupaten Bangka berpotensi besar terjadinya banjir.

Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: khamelia
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
Gerobak Hancur dan Dagangan Habis Tersapu Banjir, Sebuah Rumah Makan Alami Kerugian Hingga 1,6 Juta 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Memasuki musim penghujan ditambah fenomena la nina membuat wilayah Sungailiat, Kabupaten Bangka berpotensi besar terjadinya banjir.

Diketahui bahwa fenomena la nina adalah fenomena cuaca global yang berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.

"Fenomena la nina adalah fenomena interaksi lautan di bagian timur Indonesia dengan Pasifik Timur," kata Prakirawan senior BMKG Pangkalpinang, Slamet Supriyadi, Kamis (11/11/2021). 

Hal itulah yang kemudian menyebabkan Suhu Muka Laut (SML) menjadi dingin sehingga masa udara yang membawa uap air basah ke wilayah Indonesia.

"Dengan begitu, intensitas hujan di wilayah Indonesia menjadi bertambah atau semakin tinggi," jelas Slamet.

Slamet menuturkan bahwa dalam beberapa hari terakhir wilayah Sungailiat dan Pangkalpinang sedang berada di fase kombinasi pasang yang tinggi.

"Dikhawatirkan hal itu akan menambah intensitas ataupun potensi terjadinya banjir di kedua wilayah tersebut," tuturnya.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah, masyarakat dan stakeholder terkait untuk benar-benar waspada terhadap hal tersebut yang memang kondisinya cukup diperparah dengan adanya fenomena la nina.

Ia menjelaskan, potensi tertinggi terjadinya fenomena la nina adalah di periode bulan November, Desember hingga Januari 2022 mendatang yang mana bulan-bulan tersebut juga merupakan puncak musim penghujan di Bangka Belitung.

Meski demikian, diakuinya bahwa fenomena la nina terhadap Bangka Belitung tidak sebesar seperti dampak yang ditimbulkan di wilayah timur Indonesia.

Selain menambah intensitas hujan, Slamet mengatakan bahwa fenomena la nina juga mengakibatkan munculnya awan-awan penghujan, angin kencang, petir dan menambah tinggi gelombang di lautan serta berpotensi terjadinya puting beliung.

"Tingginya gelombang kalau disertai dengan hujan akan sangat berdampak kepada nelayan-nelayan yang punya kapal/perahu berukuran kecil," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia meminta para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaannya karena akan sangat membahayakan apabila terjadinya gelombang besar.

Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa.

Ia mengatakan bahwa fenomena la nina berpotensi mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk memangkas pohon-pohon yang besar, tinggi dan sudah tua, karena ditakutkan akan roboh dan menimpa bangunan-bangunan milik warga.

"Selain itu, diperlukan juga kegiatan susur sungai untuk melihat hulu-ilir sungai serta drainase-drainase lainnya agar tidak tersumbat oleh sampah," ucap Mikron.

Dengan begitu, resiko terjadinya bencana yang ditimbulkan dari fenomena la nina dapat dicegah ataupun diminimalisir.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved