Breaking News:

Berita Pangkalpinang

PPPK Upaya Sejahterakan Guru di Pangkalpinang

Pemerintah Kota Pangkalpinang telah berupaya meningkatkan kesejahteraan guru honor dengan dijadikan sebagai guru PPPK itu upayanya

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: khamelia
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Eddy Supriadi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Eddy Supriadi mengatakan, seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) merupakan upaya untuk mensejahterakan meningkatkan kualitas guru di ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.

"Pemerintah Kota Pangkalpinang telah berupaya meningkatkan kesejahteraan guru honor dengan dijadikan sebagai guru PPPK itu upayanya," kata dia kepada Bangkapos.com, Kamis (25/11/2021).

Eddy menyebut, berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik) jumlah guru di Kota Pangkalpinang mencapai 1.200 orang. Rinciannya sebanyak 850 orang guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 350 orang guru berstatus honorer dari seluruh sekolah mulai dari Paud/TK, SD dan SMP.

Maka dari itu untuk mensejahterakan 350 guru honorer tersebut, Pemkot Pangkalpinang telah menyediakan kuota PPPK guru bagi 307 orang.

"Untuk kebutuhan guru dari sisi rasio itu cukup. Cuma dari sisi kesejahteraan tadi ini yang masih kekurangan sekitar 350-an guru. Karena status mereka masih berstatus honorer," terang Eddy.

Di samping itu, Kadisdikbud menilai, upah yang diterima guru honorer di Pangkalpinang dengan nominal Rp1.280.000 per bulan lebih dari cukup atau sesuai dengan beban kerja mereka.

Bahkan Eddy mengklaim, upah guru honor di Pangkalpinang dapat dikatakan tertinggi se-Bangka Belitung jika dibandingkan dengan enam kabupaten lainnya.

"Untuk penambahan gaji sekarang ini dengan situasi dan kondisi itu sudah cukup lumayan jika dibandingkan dengan daerah yang lain. Pangkalpinang kalau se-Bangka Belitung itu gaji guru honorer paling tinggi," bebernya.

Oleh karenanya, dia berharap, guru di Pangkalpinang dapat mengembangkan diri mereka sendiri sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap tenaga pendidik. Dimana saat ini masih banyak tenaga kependidikan yang terjebak secara kompetensi, andragogik maupun profesional.

"Padahal secara sosial dan kebudayaan seharusnya sudah harus mulai mereka tingkatkan. Itu untuk membangun pendidikan kedepannya," pungkas Eddy. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved