Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Tak Pandang Status, Guru Honorer di Pangkalpinang Tetap Fokus Didik Siswa

Menjadi tenaga pendidik memang butuh perjuangan yang luar biasa. Seperti halnya yang dirasakan oleh Eni Andriyani seorang guru honorer

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: khamelia
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
Seorang guru di SMP Negeri 2 Pangkalpinang, saat menerangkan materi pembelajaran kepada peserta didiknya, Kamis (25/11/2021) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Menjadi tenaga pendidik memang butuh perjuangan yang luar biasa. Seperti halnya yang dirasakan oleh Eni Andriyani seorang guru honorer di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Saat ditemui disela-sela kegiatannya mengajar di SMP N 2 Pangkalpinang, wanita 34 tahun ini mengaku menjadi guru adalah panggilan jiwa bagi dirinya.

Menyandang status sebagai guru honorer  tak menyurutkan niatnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Bagi dia, melihat anak-anak didiknya yang sukses adalah kebanggaan bagi dirinya.

"Mau Aparatur Sipil Negara (ASN-red) ataupun honorer sama saja bagi saya. Yang penting niatnya kita menjadi guru bukan hanya mendapatkan status sebagai ASN ataupun honorer. Status ini tidak ada perbedaan. Intinya sama untuk mendidik anak-anak juga," kata dia kepada Bangkapos.com, Kamis (25/11/2021).

Mengabdikan diri sebagai guru honorer sejak akhir tahun 2011 Eni sudah banyak makan asam garam di dunia pendidikan.

Mulai dari upah yang hanya dibayar per jam mulai dari Rp300 ribu sampai menemukan murid-murid yang susah diatur hal itu sudah biasa bagi dirinya.

Stres akan tekanan itu pasti, tetapi hal itu Eni atasi dengan tetap ikhlas dan bersyukur menjalani pekerjaannya yang memang dituntut untuk mencerdaskan dan menanamnya moral kepada anak didiknya.

Menjadi seorang guru dia menyebut tak jarang menemui kendala, perbedaan pendapat antara guru dan orangtua sering Eni temui. Terkadang guru ingin mengajarkan sopan santun maupun sikap baik terhadap anak. 

Akan tetapi orangtua belum tentu dapat mendukungnya. Eni menilai hal itu wajar adanya. Sisanya, ia bahagia menjadi seorang guru dan menikmati profesi tersebut dengan setulus hati.

"Ikhlas, bersyukur jalani saja. Rezeki itu tidak kemana-mana. Berapapun rezeki yang kita dapatkan, kita tetap mendidik anak-anak dengan ikhlas. Kalau pengalaman saya berproses, mulai dari level yang berbeda sampai sekarang mendapatkan upah sekitar Rp2,2 juta lebih per bulan," terang Eni.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved