Breaking News:

Jadi Penopang Ekonomi Babel, Gubernur Harap HKTI Turut Berkontribusi Memajukan Sektor Pertanian

Semakin menggeliatnya pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Bangka Belitung (Babel)

Penulis: Iklan Bangkapos | Editor: nurhayati
Diskominfo Babel
Gubernur Erzaldi Rosman 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Semakin menggeliatnya pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dewasa ini, tak terlepas dari kebijakan Pemprov Bangka Belitung untuk memperkuat sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan.

Imbasnya sejak tahun 2017 hingga saat ini, kontribusi tiga sektor itu terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) Bangka Belitung terus memberikan sumbangsih yang cukup besar.

Ketiga sektor tersebut, saat ini menyumbangkan kontribusi sebesar 21 persen, sementara sektor pertambangan 22 persen.

Dengan selisih hanya 1 digit, jikapun harga timah turun, tidak akan membuat gejolak perekonomian serta tingkat inflasi yang terlalu signifikan.

Apabila pada tahun 2016 kebawah, inflasi Bangka Belitung sangat tinggi, namun mulai tahun 2017 hingga sekarang, tingkat inflasi mulai stabil di bawah nasional dan pertumbuhan ekonomi selalu stabil.

Hal itu dikatakan Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman saat memberikan sambutan pada acara Musyawarah Provinsi ke-2 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DPD Babel yang berlokasi di Hotel Santika, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (27/11).

"Kenapa saya sampaikan ini, karena saya harap dengan menggeliatnya 3 sektor tersebut yang berpengaruh pada NTP (Nilai Tukar Petani) harus senantiasa dipertahankan bahkan ditingkatkan, untuk itu saya melihat peran HKTI dalam hal ini sangat besar," ungkap Erzaldi.

Dia meminta kepada jajaran pengurus terbaru HKTI Babel, untuk dapat berkontribusi serta membuat langkah-langkah strategis di sektor pertanian.

Tidak hanya pendampingan cara bercocok tanam yang baik, namun memberi masukan terhadap prospek di sektor pertanian karena tantangan ke depan yang semakin kompleks.

"Seperti kondisi saat ini, disaat harga komoditi naik, ada permasalahan harga pupuk kimia yang semakin mahal diakibatkan suplai bahan pokok pembuatan pupuk masih impor. Di sini peran HKTI dapat memberikan masukan kepada para petani untuk mulai beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved