Breaking News:

Momen Peringatan HUT ke-21, Apkasindo Bangka Perjuangkan Nasib Buruh Petik Sawit

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Bangka bertekad untuk memperjuangkan nasib buruh pemetik panen kelapa sawit.

Penulis: edwardi | Editor: M Ismunadi
Bangkapos.com/Edwardi
Kegiatan panen TBS kelapa sawit rakyat yang dilakukan Pak De Ngadimin bersama Ketua Apkasindo Kabupaten Bangka Jamaludin di Dusun Bokor Desa Air Duren Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka, Selasa (30/11/2021). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Seiring membaiknya harga TBS kelapa sawit saat ini, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Bangka bertekad untuk memperjuangkan nasib buruh pemetik panen kelapa sawit yang keberadaannya sangat dibutuhkan para petani kebun kelapa sawit.

"Dalam momen peringatan HUT ke-21 Apkasindo, maka Apkasindo Kabupaten Bangka bertekad ingin membantu nasib para buruh pemetik panen kelapa sawit rakyat, seperti adanya perlindungan jaminan sosial tenaga kerja dan asuransi kecelakaan bagi para buruh pemetik panen TBS kelapa sawit ini," kata Jamaludin alias Tipek, Ketua Apkasindo Kabupaten Bangka yang ditemui Bangkapos.com di sela-sela kegiatan panen kelapa sawit di Dusun Bokor Desa Air Duren Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka, Selasa (30/11/2021).

Diungkapkannya, saat ini tarif upah buruh pemetik panen TBS kelapa sawit sekitar Rp150-200 per Kg kelapa sawit atau Rp150.000-200.000 per ton TBS kelapa sawit.

"Untuk memanen kelapa sawit yang ukuran pohon sawit sudah tinggi, bahkan lebih dari 10 meter dibutuhkan keahlian tersendiri, apabila pemanen kelapa sawit yang tidak profesional rawan terjadi musibah atau kecelakaan, seperti tertimpa TBS kelapa sawit, tertimpa egrek, tertimpa dahan sawit dan lainnya," ujar Jamaludin.

Baca juga: Daftar Besaran Gaji Pensiun PNS di Indonesia, Janda Pensiun PNS Dapat Segini

Baca juga: Bank BRI Bagikan Pinjaman Rp 50 Juta Tanpa Agunan, Simak Syaratnya, Siapin KTP KK dan Surat Ini

Baca juga: Uang Koin Rp 500 Kekuaran 1991 Bisa Laku Ratusan Ribu Rupiah, Ini Cara Menjualnya

Diakuinya, untuk petani kelapa sawit tidak akan mampu memanen sendiri TBS kelapa sawitnya, paling-paling hanya mampu memanen beberapa pohon saja, karena itu jasa buruh pemetik panen TBS kelapa sawit ini sangatlah dibutuhkan para petani kelapa sawit rakyat.

"Kita minta kepada Ketua DPP Apkasindo dan Ketua Dewan Pembina Apkasindo pusat untuk membicarakan hal ini kepada pemerintah pusat khususnya Menteri Keuangan, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pertanian dan stakeholder terkait lainnya agar bisa membantu biaya jaminan sosial tenaga kerja dan asuransi jiwa atau kecelakaan bagi para buruh pemetik panen TBS kelapa sawit ini," ujar Jamaludin.

Diungkapkannya, biaya untuk membantu asuransi buruh pemetik panen TBS kelapa sawit ini bisa memanfaatkan dana pungutan ekspor CPO yang dikumpulkan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit di pemerintah pusat.

"Setahu saya untuk tahun 2020 lalu dana pungutan ekspor CPO ini mencapai sekitar Rp47 Triliun, memang dana ini sudah dikucurkan untuk kegiatan replanting kebun kelapa sawit rakyat, beasiswa bagi anak petani, pembangunan jalan usaha tani, penelitian B20 B100, seminar dan lainnya," ungkap Jamaludin.

Dicontohkannya, saat ini keberadaan buruh pemetik panen TBS kelapa sawit cukup banyak, seperti di Desa Sempan Pemali dari pendataan ada sekitar 40 orang tenaga buruh pemetik panen TBS kelapa sawit, belum lagi di desa-desa lainnya.

"Saya rasa sudah sewajarnya para buruh pemetik panen TBS kelapa sawit ini mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja  atau masuk BPJS Ketenagakerjaan  dan diasuransi jiwa atau asuransi kecelakaan, karena resiko kerja mereka ini cukup tinggi dan berbahaya serta membutuhkan ketrampilan khusus yang tidak semua orang sanggup melakukannya," imbuh Jamaludin.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved