Breaking News:

Human Interest Story

Pak De 21 Tahun Ambil Upah Petik TBS Kelapa Sawit  

Profesi sebagai buruh pemetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidaklah mudah untuk dilakoni, sebab membutuhkan tenaga, keahlian atau ketrampilan

Penulis: edwardi | Editor: Fery Laskari
bangkapos.com
Buruh Petik TBS kelapa sawit rakyat, Pak De Ngadimin. (Bangkapos.com/Edwardi) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Profesi sebagai buruh pemetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidaklah mudah untuk dilakoni, sebab membutuhkan tenaga, keahlian atau ketrampilan dan pengalaman yang mumpuni. Pasalnya pekerjaan ini memiliki risiko yang cukup besar, apalagi saat memanen TBS kelapa sawit di pohon yang sudah tinggi, bahkan bisa mencapai belasan meter.

Risiko yang dihadapi seperti tertimpa TBS kelapa sawit, tertimpa dahan, mata kelilipan kemasukan kotoran, bahkan yang paling parah tertimpa mata egrek atau arit atau parang lingkungan yang terlepas dari ikatannya.

Meskipun pekerjaan ini berisiko tinggi, namun bagi buruh pemetik TBS kelapa sawit yang sudah profesional semua risiko ini bisa dihadapi karena sudah memiliki keahlian khusus, sehingga kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.

Seorang buruh pemetik TBS kelapa sawit yang sudah puluhan tahun menekuni profesi ini, yakni Pak Ngadimin, Warga Dusun Bokor Desa Air Duren Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka. Di usianya yang sudah 73 tahun, namun Pak De Ngadimin masih tetap kuat untuk bekerja keras menjadi buruh pemetik TBS kelapa sawit mengambil upah dari kebun ke kebun petani kelapa sawit rakyat.

"Saya mulai profesi jadi pemetik TBS kelapa sawit ini sejak tahun 2000 hingga saat ini jadi sudah sekitar 21 tahunan. Saat itu sangat sulit mencari teman atau tenaga lainnya untuk menjadi pemetik TBS kelapa sawit, karena banyak orang yang belum bisa atau mengerti cara memanennya, dan juga dibayar sangat murah hanya Rp25 per tandan TBS bukan per kg kelapa sawit, sebab harga kelapa sawit saat itu juga murah hanya Rp400-500 per kg. Kita juga harus mengangkat lagi TBS itu ke mobil dan tidak diupah," kata Pak De.

Ia sendiri belajar memanen TBS kelapa sawit yang baik dan benar dari asisten perkebunan (Askeb) perusahaan perkebunan kelapa sawit.

"Waktu itu saya masih bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit, setelah perusahaan itu dijual kami ikut kena PHK, lalu saya memulai usaha sendiri menjadi buruh pemetik TBS kelapa sawit di kebun-kebun rakyat yang membutuhkan jasa ini," ujar Pak De.

Selain memiliki ketrampilan khusus memanen TBS kelapa sawit, juga bisa melakukan jasa patokan lahan untuk menanam sawit agar barisannya tumbuh rapi, memilih bibit sawit yang baik, meroning atau membersihkan dahan sawit, teknik cara memupuk kebun kelapa sawit dan keahlian lainnya.

"Alhamdulillah untuk kebun-kebun rakyat yang ada di Bokor, Pohin dan desa lainnya sudah ratusan hektare yang meminta jasa saya untuk menanam dan memanen ya," ujar Pak De.

Diungkapkannya pada saat panen raya kelapa sawit untuk satu hektare bisa dapat 8-10 ton TBS kelapa sawit, namun saat ini musim ngetrek sehingga hasil panen jauh berkurang, paling hanya dapat 2 ton TBS kelapa sawit saja.

"Saya dapat upah Rp150.000 per ton TBS kelapa sawit, kalau hanya dapat 2 ton berarti hanya dapat Rp300.000, saat ini musim sawit ngetrek satu bulan dapatlah Rp1-2 jutaan, Alhamdulillah lah masih ada yang bisa dikerjakan," tambah Pak De.

Pak De Ngadimin mengaku sangat senang dan berharap apabila Apkasindo Kabupaten Bangka bisa mengusulkan ke pemerintah pusat agar para buruh pemetik TBS kelapa sawit ini dimasukkan dalam program  jaminan sosial tenaga kerja atau saat ini BPJS ketenagakerjaan dan juga diasuransikan.

"Semoga di masa tua atau saat tidak mampu lagi bekerja,  kita masih memiliki uang tabungan untuk menyambung hidup ke depannya," harap Pak De.

Pak De mengaku meskipun sudah berusia 73 tahun masih memiliki tubuh yang kuat untuk bekerja berat.

"Alhamdulillah kalau saya ini kata dokter sakitnya asam urat saja, untuk jantung, paru-paru, ginjal, tekanan darah masih normal semuanya, mungkin karena hampir setiap hari tubuh saya dipenuhi keringat karena bekerja, Alhamdulillah masih tetap sehat walafiat," ujar Pak De. (Bangkapos.com/Edwardi)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved