Breaking News:

Advertorial

Cegah Stunting di Bangka Belitung, Melati Erzaldi Dorong Pemberian Makanan Tambahan

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Melati Erzaldi melakukan monitoring dan evaluasi.

Penulis: iklan bangkapos | Editor: nurhayati
BANGKAPOS/Rizky Irianda Pahlevy
Ketua TP PKK Babel, Melati Erzaldi sosialisasikan pemberian makanan tambahan (PMT) di Desa Dendang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat, Selasa (30/11) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Melati Erzaldi melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi bagi anak guna mencegah terjadinya kasus stunting di Bangka Belitung.

Pada tahun 2020 Pemerintah prov. Kepulauan Bangka Belitung (Babel) telah melaunching Gerakan Si Centing (Siap Cegah Stunting).

Melalui program Si Centing ini, Pemprov. Babel bekerja sama dengan TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, salah satunya dengan membuat program pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal yang sehat dan bergizi sekaligus mengajarkan kepada orang tua tentang potensi makanan bergizi di daerahnya.

Kegiatan ini dilakukan bersama Dinas Sosial dan Pemberdayaan Desa Provinsi Bangka Belitung (Babel) di Desa Dendang dan Desa Tugang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat, Selasa (30/11/2021).

"Kegiatan PMT ini dilakukan hampir setiap tahun, kebetulan memang kita menganggarkan itu untuk menekan angka stunting di Bangka Belitung. Walaupun anggaran kita direfucosing, tapi kita selalu memfokuskan ke kegiatan PMT ini, walaupun anggarannya tidak terlalu besar lagi," kata Melati Erzaldi.

Diketahui stunting merupakan kondisi anak mengalami gangguan pertumbuhan yang menyebabkan tubuhnya lebih pendek, dan memiliki kekurangan nutrisi dari usia seumurannya.

"Usaha kita untuk memberikan edukasi kepada ibu, bagaiamana memberikan makanan bergizi dan nutrisi agar anak tidak stunting. Ini juga bekerja sama dengan PKK, posyandu untuk mengelola makanan yang bergizi ini," kata Melati Erzaldi.

Diungkapkannya, walaupun kasus stunting masih berada di bawah persentase nasional, pihaknya tetap berharap Bangka Belitung ke depan nihil stunting.

"Bangka Barat adalah salah satu yang mendapatkan perhatian, karena beberapa kasus stunting terdeteksi di Bangka Barat. Tapi sekarang juga ada beberapa kasus di kabtupaten lain, walaupun tidak besar," imbuh Melati Erzaldi.

Diakuinya, masih adanya kasus stunting dikarenakan beberapa faktor, seperti pernikahan dini yang masih terus terjadi.

"Jadi pernikahan usia anak ini salah satu pencetus stunting. Karena anak-anak belum bisa terlalu bertanggung jawab, bagaimana bisa makan yang bergizi untuk anak dalam kandungan. Lalu menurut data, kesiapan rahim dari seorang ibu yang muda juga mempengaruhi tingkat perkembangan anak," jelas Melati.

Diungkapkannya, untuk makanan bergizi diantaranya brokoli, bayam, pisang, alpukat, jeruk dan lainnya. Diharapkan kader dan masyarakat saling bahu-membahu menurunkan angka stunting ini.

"Bisa mengedukasi kader belajar juga dan memberikan edukasi para ibu untuk bisa mengelola makanan tidak perlu mahal. Hal ini karena makanan bergizi bisa kita dapatkan di sekitar kita, jangan ada lagi kasus stunting di Bangka Belitung," harapnya.

Sementara itu Bidan Desa Dendang, Lela mengatakan kasus stunting saat ini masih tinggi, bahkan seluruh dusun terdapat kasus stunting.

"Kalau Desa Dendang agak lumayan di atas target WHO 18 persen, kita karena luas desanya. Jadi ada Dusun Dendang, Delik, Ganjan dan Juru, jadi semua dusun ini ada kasus stunting," kata Lela.

Ditambahkannya, pola asuh dan pendidikan terkait pengetahuan makanan yang bergizi, menjadi faktor penyumbang kasus stunting di Desa Dendang.

"Banyak faktor dari pola asuh, lalu penduduk selama kehamilan ibunya kurang gizi. Pola asuh, banyak ibu yang bekerja, lalu anaknya ditinggal ke neneknya. Pengetahuan makanan bergizi juga kurang, ini juga masuk faktor kenapa ada stunting," jelasnya.

Walaupun masih ada kasus stunting, Lela bersama kader-kader posyandu terus berperan aktif dalam mensosialisasikan bahaya dan mencegah terjadinya stunting.

"Kader ini aktif setiap bulan ada penimbangan bayi dan balita setiap tanggal 12, nanti hasil penimbangan kita serahkan ke petugas gizi di puskesmas, nanti nereka yang menentukan stunting atau tidak. Harapan kita mudah-mudahan berkurang angka stunting, karena banyak efeknya untuk ke depan," kata Lela.

(Adv/riz/edw)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved