Tribunners
Akankah Bahasa Daerah Tergerus?
Jadi bahasa melayu Belitung mirip dengan bahasa yang digunakan di Malaysia, Kepulauan Riau, dan Pontianak.
Berdasarkan upaya pencegahan kepunahan bahasa daerah tersebut, komunitas "Tim Sagusabu Belitung" ikut berkontribusi untuk mencegah kepunahan bahasa melayu Belitung. Penulis yang merupakan anggota Tim Sagusabu Belitung telah menulis beberapa buku berbahasa Belitung yaitu:
1. Bujang Kecit Kebanggaan Ayah (Antologi Cerpen Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.
2. Pintar Dak Ngajar Budo Dak Nurut (Antologi Peribahasa Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.
3. Balik Malai (Antologi Peribahasa Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.
Selain itu, di Harian Pos Belitung, sebelum tanggal 23 Mei 2021 di setiap hari Minggu harian ini ada rubrik "Ngenjungak" (cerita bahasa Belitung) yang sebenarnya untuk mempertahankan kosakata Belitung dalam cerita. Namun sayang setelah tanggal 23 Mei 2021, harian Pos Belitung tidak terbit lagi di hari Minggu.
Ada beberapa acara yang juga untuk melestarikan bahasa melayu Belitung, pada acara-acara tertentu di antaranya yaitu "Berebut Lawang" (Pantun bersaut bahasa Belitung, ketika pengantin pria diantar ke rumah mempelai wanita, di setiap palang pintu yang dilewati harus berpantun dan harus memberikan sejumlah uang untuk melewati setiap pintunya) dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Belitung (biasanya ada lomba menyanyikan lagu-lagu daerah pada saat perayaan Kemerdekaan Indonesia sebelum pandemi terjadi).
Masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan sebelum masa pandemi yang bertujuan mempertahankan penggunaan bahasa melayu Belitung. Upaya lain untuk mempertahankan bahasa melayu Belitung agar tetap bertahan yaitu:
1. Mengajarkan bahasa melayu Belitung kepada anak didik, dimulai dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan menengah.
2. Menggiatkan acara bercerita/mendongeng dengan cerita Belitung dan berbahasa Belitung. (Sebelum pandemi juga diadakan setiap tahun oleh SMPN 2 Tanjungpandan dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah atau dies natalis).
3. Menjadi pelajaran tambahan bagi siswa SMP sebagai pelajaran mulok atau pelajaran bahasa daerah (melayu Belitung) pada jurusan bahasa di sekolah menengah (SMA atau SMK Pariwisata).
4. Penggunaan sehari berbahasa daerah melayu Belitung ketika hari menggunakan pakaian adat Belitung sehingga terjadi harmonisasi antara bahasa daerah (melayu Belitung) dan pakaian adat yang digunakan.
Dengan melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap kepunahan bahasa daerah maka bahasa daerah (melayu Belitung) bisa dipertahankan dan tidak akan tergerus oleh zaman. Mudah-mudahan bahasa melayu Belitung akan tetap eksis sejalan dengan majunya bahasa Indonesia. Maka jargon Kantor Bahasa melalui Kemendikbud yaitu "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing" akan terwujud.
Semoga kita bisa mempertahankan keberadaan bahasa melayu Belitung dengan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari di rumah masing-masing. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/suwarni.jpg)