Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners

Akankah Bahasa Daerah Tergerus?

Jadi bahasa melayu Belitung mirip dengan bahasa yang digunakan di Malaysia, Kepulauan Riau, dan Pontianak.

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Suwarni, S.Pd. - Guru SMPN 5 Tanjungpandan, Belitung 

DALAM Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, pasal 32 ayat (2) disebutkan bahwa Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Bahasa daerah/bahasa ibu seseorang berbeda tentunya, bergantung dari mana asal orang tuanya. Bahasa daerah/ibu yang dibahas di sini adalah bahasa melayu Belitung, bahasa yang digunakan oleh sebagian besar warganya.

Seorang ayah dari Lahat (bahasa ibunya melayu Lahat) dan seorang ibu dari OKU Timur (bahasa ibunya bahasa Komering) karena tinggal di Belitung, otomatis bahasa ibu yang digunakan si anak adalah bahasa melayu Belitung. Ayah dan ibu si anak tidak menggunakan bahasa daerah masing-masing karena tidak nyambung bahasanya. Tetapi, karena tinggal di Belitung makanya bahasa yang digunakan oleh si anak di keluarga adalah bahasa melayu Belitung. Inilah salah satu penyebab tergerusnya bahasa melayu Belitung.

Menurut belitungsenja.com bahwa bahasa melayu di daerah Belitung, memang mirip dengan bahasa melayu yang digunakan oleh mayoritas masyarakat, akan tetapi banyak juga istilah-istilah khas yang tidak akan ditemukan dalam bahasa Malaysia.

Anehnya bahasa melayu Belitung (menggunakan e pepet contoh: betul) sendiri bila dibandingkan dengan bahasa yang mayoritas digunakan pulau tetangganya yaitu Pulau Bangka (menggunakan contoh e non pepet contoh: metal, Jerman) justru berlainan dialeknya. Walaupun banyak istilah kata yang sama artinya (berbanding terbalik dengan bahasa Malaysia yang mirip dialek tetapi beda istilah).

Ada pula dialek melayu yang dipakai di Singkep (daerah Kepulauan Riau) dan Pontianak yang memiliki dialek dan istilah kata yang sama dengan melayu Belitung. Jadi bahasa melayu Belitung mirip dengan bahasa yang digunakan di Malaysia, Kepulauan Riau, dan Pontianak.

Faktor-faktor yang menyebabkan bahasa melayu Belitung mengalami sedikit kemunduran tau tergerus penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, ini dikarenakan beberapa hal yaitu:

1. Penutur bahasa melayu Belitung asli, banyak yang sudah tiada dan anak-anaknya tak banyak tahu lagi kosakata bahasa melayu Belitung.

2. Banyaknya pendatang yang tinggal dan menetap di Belitung, yang tidak begitu paham dengan bahasa melayu Belitung.

3. Perkawinan dengan suku selain suku melayu Belitung menyebabkan menurunnya pengguna bahasa melayu Belitung.

4. Anak-anak generasi milenial yang tidak begitu paham dengan bahasa melayu Belitung menyebabkan kehilangan banyak kosakata bahasa melayu Belitung.

5. Adanya campuran kosakata bahasa melayu Belitung dengan bahasa pendatang.

Adanya beberapa faktor tersebut, bukan tidak mungkin, bahasa melayu Belitung akan mengalami kepunahan atau bahasa Melayu kian tergerus zaman. Jika dibiarkan tanpa upaya dari pihak-pihak atau lembaga yang berwenang maka bahasa melayu Belitung tinggal kenangan saja.

Upaya-upaya yang bisa dilakukan agar bahasa melayu Belitung dapat bertahan di zaman milenial atau dapat lestari seperti semboyan yang dikemukakan oleh Kantor Bahasa yaitu "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing," akan terwujud jika semua bersinergi untuk melakukannya.

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, beberapa cara mencegah kepunahan bahasa daerah, yaitu:

1. Menerbitkan bacaan atau majalah dengan bahasa daerah setempat.
2. Menggunakan bahasa daerah pada saat di rumah.
3. Menyelenggarakan acara-acara yang dapat melestarikan bahasa daerah, seperti karya tulis, drama, puisi, dan lainnya.
4. Bahasa daerah menjadi bagian dari muatan lokal di sekolah.
5. Orang tua mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya untuk berkomunikasi.

Berdasarkan upaya pencegahan kepunahan bahasa daerah tersebut, komunitas "Tim Sagusabu Belitung" ikut berkontribusi untuk mencegah kepunahan bahasa melayu Belitung. Penulis yang merupakan anggota Tim Sagusabu Belitung telah menulis beberapa buku berbahasa Belitung yaitu:

1. Bujang Kecit Kebanggaan Ayah (Antologi Cerpen Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.
2. Pintar Dak Ngajar Budo Dak Nurut (Antologi Peribahasa Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.
3. Balik Malai (Antologi Peribahasa Belitong) yang ditulis oleh Tim Sagusabu Belitung.

Selain itu, di Harian Pos Belitung, sebelum tanggal 23 Mei 2021 di setiap hari Minggu harian ini ada rubrik "Ngenjungak" (cerita bahasa Belitung) yang sebenarnya untuk mempertahankan kosakata Belitung dalam cerita. Namun sayang setelah tanggal 23 Mei 2021, harian Pos Belitung tidak terbit lagi di hari Minggu.

Ada beberapa acara yang juga untuk melestarikan bahasa melayu Belitung, pada acara-acara tertentu di antaranya yaitu "Berebut Lawang" (Pantun bersaut bahasa Belitung, ketika pengantin pria diantar ke rumah mempelai wanita, di setiap palang pintu yang dilewati harus berpantun dan harus memberikan sejumlah uang untuk melewati setiap pintunya) dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Belitung (biasanya ada lomba menyanyikan lagu-lagu daerah pada saat perayaan Kemerdekaan Indonesia sebelum pandemi terjadi).

Masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan sebelum masa pandemi yang bertujuan mempertahankan penggunaan bahasa melayu Belitung. Upaya lain untuk mempertahankan bahasa melayu Belitung agar tetap bertahan yaitu:

1. Mengajarkan bahasa melayu Belitung kepada anak didik, dimulai dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan menengah.
2. Menggiatkan acara bercerita/mendongeng dengan cerita Belitung dan berbahasa Belitung. (Sebelum pandemi juga diadakan setiap tahun oleh SMPN 2 Tanjungpandan dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah atau dies natalis).
3. Menjadi pelajaran tambahan bagi siswa SMP sebagai pelajaran mulok atau pelajaran bahasa daerah (melayu Belitung) pada jurusan bahasa di sekolah menengah (SMA atau SMK Pariwisata).
4. Penggunaan sehari berbahasa daerah melayu Belitung ketika hari menggunakan pakaian adat Belitung sehingga terjadi harmonisasi antara bahasa daerah (melayu Belitung) dan pakaian adat yang digunakan.

Dengan melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap kepunahan bahasa daerah maka bahasa daerah (melayu Belitung) bisa dipertahankan dan tidak akan tergerus oleh zaman. Mudah-mudahan bahasa melayu Belitung akan tetap eksis sejalan dengan majunya bahasa Indonesia. Maka jargon Kantor Bahasa melalui Kemendikbud yaitu "Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing" akan terwujud.

Semoga kita bisa mempertahankan keberadaan bahasa melayu Belitung dengan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari di rumah masing-masing. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved