Breaking News:

Tribunners

Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas

Bangunan yang kokoh, ditata dengan desain aksesibilitas yang baik, mudah dilalui oleh jemaah yang menggunakan kursi roda

Editor: suhendri
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Sri Kusmala, A.Ks, M.M - Pekerja Sosial Madya Dinas Sosial dan PMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

RUTINITAS mudik setiap bulan, dari Kota Pangkalpinang menuju Kabupaten Bangka Barat, selalu membuat saya menyempatkan diri untuk singgah di masjid nan indah yang berdiri kokoh di Desa Petaling. Setiap kali saya melaksanakan ibadah di masjid tersebut, ataupun hanya sebatas lewat saja, perasaan terharu dan bangga selalu menyeruak.

Saya sendiri kurang tahu, dan tidak mengenal siapa konsultan dan arsitek pembangunan masjid itu. Namun, perasaaan bangga dan kagum dengan arsitektur pembangunan masjid, membuat saya meyakini, bahwa pembangunan rumah ibadah tersebut dibuat dengan pertimbangan yang sangat bijaksana, dengan mengedepankan pemikiran, bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk melaksanakan ibadah secara berjemaah di rumah ibadah, termasuk penyandang disabilitas.

Bangunan yang kokoh, ditata dengan desain aksesibilitas yang baik, mudah dilalui oleh jemaah yang menggunakan kursi roda, telah dipersiapkan bagi penyandang disabilitas yang ingin melaksanakan ibadah secara berjemaah di masjid.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, bahwa "Penyandang Disabilitas," adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak."

Sedangkan "Aksesibilitas" adalah kemudahan yang disediakan untuk penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan. Pada Bab III tentang "Hak Penyandang Disabilitas", bahwa penyandang disabilitas memiliki hak di bidang "Keagamaan".

Bagian kesepuluh tentang "Hak Keagamaan," disebutkan bahwa hak keagamaan untuk penyandang disabilitas, meliputi hak:

a. Memeluk agama dan kepercayaan masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya;
b. Memperoleh kemudahan akses dalam memanfaatkan tempat peribadatan;
c. Mendapatkan kitab suci dan lektur keagamaan lainnya yang mudah diakses berdasarkan kebutuhannya;
d. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pada saat menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya; dan
e. Berperan aktif dalam organisasi keagamaan.

Pada bagian b (Hak Keagamaan), tertulis bahwa Penyandang Disabilitas memiliki hak untuk memperoleh kemudahan akses dalam memanfaatkan tempat peribadatan. Hal tersebut mewajibkan bahwa seluruh rumah ibadah hendaknya memiliki aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, yang pembangunannya disesuaikan dengan ragam penyandang disabilitas.

Adapun ragam penyandang disabilitas, menurut Undang-Undang Penyandang Disabilitas, meliputi:

1. Penyandang disabilitas fisik
Adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layu atau kaku, paraplegia, cerebral palsy (cp) akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil.
2. Penyandang disabilitas intelektual
Adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain, lambat belajar, disabilitas grahita dan down syndrom.
3. Penyandang disabilitas mental
Adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku.
4. Penyandang disabilitas sensorik
Adalah terganggunya salah satu fungsi dari pancaindra, antara lain, disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atau disabilitas wicara.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved