Breaking News:

China Makin Menggila Kuasai Dunia Lewat Jebakan Utang, Barat Diminta Selamatkan Puluhan Negara Ini

Bank-bank milik China meminjamkan lebih banyak ke negara-negara berkembang daripada Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

Editor: Dedy Qurniawan
IST
Ilustrasi Jebakan utang China 

BANGKAPOS.COM - Sejumlah pihak khawatir dengan langkah China memberikan utang dalam jumlah besar ke sejumlah negara.

Hingga ada kesan pihak barat dan Inggris diminta turun untuk menyelematkan.

Ya, pemberian pinjaman oleh China melalui Program Belt and Road Initiative dikhawatirkan banyak pihak termasuk para ahli.

Melalui program ini China telah menggelontorkan miliaran dolar untuk jalan, pelabuhan, rel kereta api, dan jembatan baru di seluruh Asia, Indo-Pasifik, Afrika, dan tetangga dekat Uni Eropa di Balkan Barat.

Melansir express.co.uk (2/12/2021), para kritikus mengklaim Beijing menggunakan proyek infrastruktur untuk menghubungkan negara-negara yang lebih kecil dan lebih miskin ke dalam "diplomasi perangkap utang".

Baca juga: Inilah Suku Oni, Kelompok Manusia Kerdil Tinggal di Hutan Indonesia, Mau Keluar Jika Dipancing Ini

Baca juga: Video Maria Vania Copot Baju untuk Ring Light Challenge, Pesonanya Memukau dalam Cahaya Redup

Sumber mengatakan Beijing sering memperdagangkan investasi di negara-negara tersebut untuk mendapatkan suara di forum global seperti PBB karena mereka akan melakukan "apa pun yang mereka bisa" untuk menghindari kehilangan aset atau pukulan finansial lebih lanjut.

Catatan di PBB menunjukkan bahwa banyak negara yang menerima uang tunai China dalam jumlah besar akan mendukung Beijing dalam pemungutan suara yang seringkali kontroversial.

China telah muncul dalam dekade terakhir sebagai kreditur internasional non-komersial terbesar di dunia.

Bank-bank milik negaranya meminjamkan lebih banyak ke negara-negara berkembang daripada Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

"Jelas bahwa China memperdagangkan investasi untuk beberapa bentuk pengaruh strategis, apakah itu penolakan untuk mengkritik hak asasi manusia atau mendukung Beijing atas Taipei [ibukota Taiwan]," kata Julia Pamilih, dari China Research Group.

Halaman
123
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved