Breaking News:

Horizzon

Idang Rasjidi Meninggalkan Rasa Bangga untuk Bangka Belitung

Idang tentu bukan berharap bahwa ia adalah musisi atau seniman terakhir yang lahir dari Bangka Belitung

Idang Rasjidi Meninggalkan Rasa Bangga untuk Bangka Belitung
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP

KEPERGIAN seseorang pasti meninggalkan duka mendalam. Seperti kabar yang datang Sabtu (4/12) tengah malam yang menyebut bahwa Idang Rasjidi, pianis kenamaan Indonesia berpulang ke alam keabadian.

Indonesia berduka. Musisi bergenre jazz ini akhirnya menyerah setelah berjibaku melawan penyakit komplikasi yang menderanya. Chaidar Idang Rasjidi, maestro piano kelahiran Pangkalpinang, Bangka Belitung, 26 April 1958 itu mengembuskan napas terakhir dalam perawatan di sebuah Rumah Sakit Azra Bogor, Jawa Barat.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah lama tersebut tampaknya pas untuk mengenang seorang Idang Rasjidi.

Selama berkarier, Idang Rasjidi selalu membawa tanah kelahirannya ke depan publik jazz tanah air maupun dunia, Idang juga selalu mengaku sebagai Anak Lanun Aseli Bangka.

Standing Idang Rasjidi inilah yang sedikit banyak memberi warna lain bagi Bangka Belitung, selain sebagai provinsi yang identik dengan timah. Idang mengatakan kepada publik jazz bahwa Bangka Belitung juga memiliki seorang legenda musik jazz.

Besar dan berkarier utama di Jakarta, selalu dinantikan di Belanda dan Eropa, selalu dinantikan publik jazz Malaysia serta membumi di Jogja bersama Ngayogjazz, Idang tetap tak lupa dengan tanah kelahirannya di Pangkalpinang. Ia sesekali pulang ke Pangkalpinang dan terakhir ia pulang sekitar sebulan sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.

Di saat fisiknya tak lagi bugar, di atas kursi roda, Idang masih ngotot untuk kembali berbuat untuk Bangka Belitung. Idang berniat membuat sebuah film yang mengisahkan tentang Bangka Belitung, tanah kelahirannya.

Seorang kolega yang akrab dan selalu mendampingi Idang bercerita, Idang ingin mengabadikan rasa cintanya kepada tanah Bangka Belitung dalam film tersebut. Beberapa scene sudah diambil gambarnya, meski akhirnya harus terhenti karena kondisi kesehatan Idang Rasjidi.

Dalam film itulah Idang ingin bercerita bagaimana Idang kecil lahir di daerah yang sangat menjunjung tinggi pluralisme. Idang ingin berkisah tentang tanah kelahiran yang sangat ia cintai dan selalu dibawa ke mana pun ia pergi.

Kepada kolega-kolega dekatnya, Idang ingin dalam film yang tak sempat dituntaskan ini agar semua orang Bangka Belitung menjaga Bumi Serumpun Sebalai ini supaya tidak terpuruk, dalam hal apa pun.

Idang ingin mengatakan kepada dunia bahwa dari Bumi Serumpun Sebalai yang kaya dengan mineral ini juga mampu menciptakan simponi berkelas yang diakui dunia.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved