Warga Pangkalpinang Diminta Waspada, DBD Mengintai di Tengah Pandemi Covid-19
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang dr. Masagus M Hakim meminta masyarakat Kota Pangkalpinang untuk waspada terhadap penyakit DBD.
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: M Ismunadi
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang dr. Masagus M Hakim meminta masyarakat Kota Pangkalpinang untuk waspada terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah pandemi covid-19.
Diakui Hakim kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) memang ada peningkatan. Berdasarkan data dari awak tahun hingga saat ini sudah ada 103 kasus DBD di Pangkalpinang.
Dan lima kasus di antaranya tidak bisa diselamatkan atau meninggal dunia.
"Jadi memang selain harus waspada dengan covid-19 masyarakat juga kita minta untuk waspada dengan DBD apalagi dicuaca seperti ini, potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti saat musim peralihan ini biasanya meningkatkan. Dimana sumber virus dangue itu biasanya berkembang pada kubangan air," ujar Hakim kepada Bangkapos.com, Senin (6/12/2021).
Baca juga: Inilah Suku Oni, Kelompok Manusia Kerdil Tinggal di Hutan Indonesia, Mau Keluar Jika Dipancing Ini
Dengan meningkatnya tren DBB ditengah curah hujan yang meningkat, pihaknya meminta masyarakat untuk tetap waspada namun tetap tanpa mengabaikan protokol kesehatan covid-19.
Pencegahan, kata Hakim, bisa dilakukan oleh masyarakat dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing.
"Masyarakat bisa melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan menjalankan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, yang bertugas untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di rumahnya masing-masing," sebutnya.
Menurutnya, semua rumah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan anggota keluarganya.
"Jangan dikira nyamuk Aedes aegypti lebih senang bersarang di tempat kotor atau tidak terawat. Nyamuk ini justru lebih senang bersarang di air bersih yang dibiarkan tergenang," jelasnya.
"Oleh karenanya, mengeringkan genangan air, menutup dan menguras penampungan air bersih, serta mengubur barang bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk merupakan langkah utama pencegahan DBD," tambahnya.
Hakim mengatakan, penularan DBD dapat terjadi ketika Anda terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Saat itulah virus dengue masuk ke dalam tubuh. Sekitar 4–7 hari setelah terinfeksi virus dengue.
"Penderita bisa mengalami gejala DBD seperti Demam tinggi mencapai suhu 40° Celsius atau lebih, muncul ruam merah di kulit, mual, muntah, gejala DBD yang dialami tergolong ringan sehingga sering kali disalahartikan sebagai gejala flu biasa namun kita tetap diminta waspada," sebutnya.
Dia menambahkan, hingga kini belum ada vaksin untuk mencegah demam berdarah.
Satu-satunya cara mencegah demam berdarah adalah dengan menghindari gigitan nyamuk DBD.
"Yang bisa kita lakukan hanya dengan cegah demam berdarah dengan 3M yaitu menguras, menutup dan mengubur. Jangan biarkan bak atau ember terbuka lalu dibiarkan begitu saja, nanti akan ada jentik nyamuk disana," tambah Hakim. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20211206_masagus-m-hakim-kepala-dinas-kesehatan-pangkalpinang.jpg)