Kondisi Muara Jelitik Semakin Dangkal, Nelayan Pesimistis Alur Airkantung Normal
Satu unit ekskavator mini terlihat sedang mengeruk pasir yang berada di bawah air Muara Airkantung, Jelitik, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Selasa.
Penulis: Ajie Gusti Prabowo |
SUNGAILIAT, BANGKA POS - Satu unit ekskavator mini terlihat sedang mengeruk pasir yang berada di bawah air Muara Airkantung, Jelitik, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Selasa (7/12) sore. Pasir hasil kerukan ini, lalu ditumpukan di tepi muara. Tak terlintas kapal nelayan yang melintas karena kondisi dangkalnya muara ini.
Sulaiman (48), nelayan setempat, merasa pengerukan tersebut hanya sia-sia. "Percuma, ngabisin bensin aja. Kalau ada air pasang, pasirnya juga jatuh lagi ke laut," ucap Sulaiman.
Diakuinya, ekskavator yang tengah bekerja tersebut, merupakan sumbangan dari Pemprov Babel, beberapa waktu lalu. Menurutnya, tindakan pengerukan tersebut tidak ada bedanya seperti yang dilakukan PT Pulomas, sebelum akhirnya izin operasionalnya dicabut Pemprov Babel.
Pihaknya tak mempermasalahkan perusahaan mana yang mengerjakan pengerukan muara tersebut. "Kalau memang ada timahnya ambil-ambil saja sampai habis pun kami enggak peduli. Yang penting habis itu kerjakan muara ini supaya kami bisa lewat," tegas Sulaiman.
Dirinya mendapatkan informasi sudah ada perusahaan yang ingin mengerjakan pengerukan muara tersebut menggunakan kapal isap. "Ada kemarin perusahaannya, tapi entah gimana kelanjutannya sampai sekarang belum ada tindakan," ucapnya.
Menurutnya, perusahaan yang sampai saat ini belum diketahui namanya tersebut, menjanjikan akan menuntaskan pengerjaan muara dalam kurun waktu dua bulan saja. "Tapi kalau hanya cuma janji saja kami enggak terima, pasti akan diusir nelayan," ujarnya.
Belasan tahun
Sulaiman menceritakan permasalahan penyempitan muara Airkantung sudah terjadi belasan tahun lebih. Bahkan, sejumlah nelayan mengaku sudah mempersiapkan diri setiap akhir tahun karena tidak bisa melaut. "Biasanya paling parah itu sekitar bulan Desember dan Januari inilah, karena ombak lagi tinggi-tingginya," tutur Sulaiman.
Dengan begitu, akses nelayan satu-satunya tersebut macet sehingga menyebabkan nelayan tidak bisa melaut. "Enggak ada yang berani melintas, kalau ada pun biasanya pagi-pagi, pas air pasang. Itupun kalau sudah jam 11 ke atas sudah enggak bisa lewat lagi," tambahnya.
Hal tersebutlah yang kemudian membuat sejumlah nelayan terpaksa memarkirkan perahunya di luar muara. "Soalnya kalau maksa masuk pas ngelawan arus yang besar, selain kandas kapal-kapal itu bisa pecah dan hancur," ujarnya.
Diakuinya, setiap tahun pasti ada kapal nelayan yang hancur dan pecah akibat terjangan ombak. "Tahun ini kalau enggak salah sudah ada enam kapal yang pecah dan salah satunya ada yang punya teman saya juga," jelas Sulaiman.
Bupati Bangka, Mulkan mengaku tidak mempermasalahkan siapapun yang hendak melakukan pengerukan di Muara Airkantung tersebut. Dirinya hanya meminta agar segala sesuatunya dilakukan sesuai dengan aturan, prosedur dan ketentuan serta payung hukum yang berlaku.
"Kami selaku pemerintah daerah pasti mendukung, karena yang terpenting saat ini adalah nilai manfaat yang didapatkan dari pengerukan di muara tersebut," ujar Mulkan. (u2)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20211207-muara.jpg)