Breaking News:

Tribunners

Remaja dan Sindrom FOMO

Laporan data statistik (2020) mencatat adiksi pengguna media sosial di kalangan remaja seluruh Indonesia menduduki peringkat kedua yaitu 30,3 persen

Editor: suhendri
Remaja dan Sindrom FOMO
ISTIMEWA
Candralini, S.Pd. - Guru Matematika SMA Negeri 1 Sijuk

DEWASA ini, kebutuhan akan gadget sangat mendominasi. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, semuanya tak ada yang tidak mengenal dan membutuhkan gadget, khususnya ponsel. Dan pola interaksi dengan ponsel yang mendominasi hampir 24 jam dalam sehari sangat memengaruhi pola pikir dan cara memandang permasalahan dalam hidup.

Teknologi komunikasi kini memberikan kemudahan kita untuk mengaksesnya lewat gadget. Gadget adalah elektronik yang gampang dibawa dan memiliki fungsi khusus, misalnya berbagi informasi, berbisnis, melihat berita yang viral, berkomunikasi dan lainnya. Kini gadget menjadi alat yang mudah, efisien, cepat dan praktis dalam melakukan aktivitas sehari-hari dalam satu kali jentikan jari. Fitur-fitur yang melengkapi gadget saat ini seperti WhatsApp, Line, Facebook, Twitter, Telegram, TikTok hingga game online makin meningkatkan minat kita terhadap gadget.

Tidak bisa dimungkiri, kita sangat terbantu dengan adanya teknologi ponsel pintar di era abad 21 ini. Kita bisa menjangkau semua yang kita inginkan dalam sekali jentikan jari. Semua wilayah di pelosok dunia mana pun bisa kita jelajahi dan lihat melalui ponsel pintar, tanpa harus beranjak dari tempat duduk kita.

Kondisi selama pandemi Covid-19 yang mengharuskan anak sekarang, khususnya dari pelajar hingga mahasiswa, mengakses pembelajaran di rumah. Dengan demikian, interaksi dengan gadget makin intens dan tidak bisa dibatasi.

Penggunaan media sosial sebagai sarana hiburan untuk mengusir kejenuhan mau tidak mau terpapar penggunaan gadget ini. Oleh karena keterikatan dengan gadget, mereka rentan mengalami gangguan yang dinamakan sindrom FOMO (Fear of Missing Out) hingga adiksi gadget yang lebih kronis.

FOMO menurut DR Andrew Przybylski dalam Oxford English Dictionary mengatakan defInisinya secara spesifik: " The apprehension when others might be having rewarding experiences from which one is absent", yang dalam bahasa sederhananya adalah sebuah fenomena di mana kita merasa khawatir jika orang lain mendapatkan sesuatu yang tidak kita dapatkan dalam hidup.

Menurut Merriam (webster Dictionary) FOMO adalah: "Fear of not being included in something (such as in interesting or enjoyable in activity), that others are experiencing, yang dapat diartikan dalam definisi sederhana yaitu merasa takut dan khawatir ketika kita tidak terlibat dalam kesenangan dan aktivitas orang lain.

Secara sederhana FOMO dapat diartikan sebagai perasaan cemas dan khawatir yang terjadi terus- menerus ketika orang lain mengalami hal yang menyenangkan dan kita tidak terlibat dan berada di situ.

Laporan data statistik (2020) mencatat adiksi pengguna media sosial di kalangan remaja seluruh Indonesia menduduki peringkat kedua yaitu 30,3 persen. Di mana pengguna laki-laki berumur 18-24 tahun dan perempuan masing-masing adalah 16,1 persen dan 14,2 persen. Bisa dilihat usia yang menduduki peringkat kedua dari data di atas adalah kalangan pelajar dan mahasiswa yang seharusnya lebih fokus pada pendidikan dan karya.

Penelitian di Amerika membuktikan ada sebanyak 24 persen remaja yang menghabiskan waktunya 8-12 jam setiap harinya. Jika dibandingkan dengan pengguna di Indonesia maka hasilnya tentu akan lebih mencengangkan.

Namun, sindrom FOMO ini tidak hanya menyerang satu gender atau satu tingkatan usia remaja saja. Semua kalangan sangat mungkin terjangkit sindrom FOMO. Di mana dalam tipe-tipe manusia yang terdapat dalam tes Enneagram yang dikembangkan pada tahun 1950 oleh Oscar Ichazo dan Claudio Naranjo, terdapat sembilan tipe kepribadian, yaitu tipe perfeksionis, tipe penolong, tipe pengejar prestasi, tipe romantis, tipe pengamat, tipe pencemas, tipe petualang, tipe pejuang, dan tipe pendamai.

Di antara kesembilan tipe tersebut yang paling rentan terserang sindrom FOMO adalah tipe perfeksionis, tipe romantis, dan tipe pencemas.

* Tipe perfeksionis
Manusia tipe ini cenderung memiliki standar tinggi dalam hidup, tipe ini juga selalu ingin melakukan sesuatu yang terbaik tanpa kesalahan. Celaka jika hal ini dia bandingkan dengan kehidupan di dunia maya yang cenderung terlihat sempurna melampaui standar dan kualitas hidupnya, maka akan menimbulkan kecemasan yang berlebihan.

* Tipe romantis
Tipe romantis sering kali tenggelam dalam perasaannya sendiri, sensitif, perasa, sering menarik diri dari pergaulan. Orang dengan tipe romantis berpendapat ketinggalan dalam hal fesyen, info liburan dan hal-hal berkelas lainnya adalah sangatlah menyakitkan dan dia meyakini di luar sana ada tempat di mana orang -orang berkelas yang menerimanya sepenuhnya. Ia menganggap mereka yang tidak menikmati hidup dengan glamor tidaklah menarik dan sangat membosankan sehingga orang dengan tipe ini cenderung menghindari orang -orang yang sederhana dan tidak punya tantangan hidup. Dan pelariannya untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang glamor adalah dengan menenggelamkan diri dalam dunia sosial media.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved