Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Gandeng Pengrajin Lokal, Suriadi Kenalkan Resam ke Tingkat Nasional Melalui Medsos

Kopiah resam hanya bisa ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, oleh karenanya kerap dijadikan sebagai oleh-oleh bagi yang berkunjung

Penulis: Cepi Marlianto | Editor: khamelia
(Ist Humas PT Timah Tbk)
Para pengrajin kopiah di Bangka Barat saat membuat kopiah resam 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Warnanya merah kecokelat-cokelatan Berfungsi sebagai penutup kepala bagi kaum pria. Ada yang kaku, ada juga yang elastis.

Ya, itulah kopiah resam. Kopiah khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang terbuat dari serat pohon resam.

Kopiah resam hanya bisa ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, oleh karenanya kerap dijadikan sebagai oleh-oleh bagi yang berkunjung ke Bumi Serumpun Sebalai.

Biasanya kopiah resam  digunakan masyarakat dalam berbagai kegiatan seperti  beribadah, kegiatan adat dan masyarakat, serta acara-acara penting.

Membuat kopiah resam merupakan warisan turun temurun, di Desa Dendang, Kabupaten Bangka Barat misalnya yang terkenal sebagai produsen kopiah resam.

Atisah (65) satu di antara pengrajin kopiah resam mengatakan sejak dirinya masih kecil sudah memiliki keterampilan membuat kopiah resam dari orang tuanya, bahkan dulu kopiah resam menjadi alat transaksi yang ditukar dengan kain dan barang lainnya.

Tak terhitung sudah ribuan mungkin dirinya membuat kopiah resam dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mereka menjajakan kopiah resam di halaman rumah mereka, namun sayangnya memang peminatnya tak terlalu banyak.

Padahal, mereka telah mengkreasikan tumbuhan resam menjadi berbagai bentuk, tidak hanya kopiah resam namun juga gelang, cincin, konektor hijab, masker, topi dan lainnya. Selain itu, mereka juga telah membuat berbagai motif di kopiah resam sehingga tampilannya tidak lagi polos.

“Kami ini bisa buat banyak, tapi penjualannya susah. Dari dulu itulah masalahnya,” katanya, Jumat (17/12/2021).

Tak hanya Atisah persoalan pemasaran juga dirasakan para pengrajin kopiah resam di Desa Dendang.

Terkadang bisa berbulan-bulan kopiah resam yang mereka buat belum juga terjual. Padahal mereka membutuhkan biaya untuk memproduksi kopiah resam.

Melihat permasalahan ini, Suriadi pemuda Desa Dendang mulai memikirkan cara untuk memasarkan produk kerajinan berbahan resam ini.

Saat ini kata Suriadi ada 100 lebih pengrajin resam di desa mereka, memang kebanyakan sudah usia lanjut, namun juga masih ada generasi muda.

“Saya lihat potensinya bagus, makanya saya coba beli hasil kerajinan mereka lalu saya promosikan dan jual ke luar. Dengan saya beli, mereka bisa berputar modalnya untuk beli bahan baku, beli jarum dan lainnya,” ujar Suriadi.

Halaman
12
Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved