Breaking News:

Tribunners

Kostratani dan Transformasi Informasi Berbasis Teknologi

Kostratani sebagai pusat pembelajaran untuk peningkatan kapasitas SDM pertanian berperan dalam fasilitasi pembelajaran dan percontohan

Editor: suhendri
Kostratani dan Transformasi Informasi Berbasis Teknologi
ISTIMEWA
Hairil Anwar, S.P. - Pranata Humas Ahli Muda Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

KOSTRATANI atau Komando Strategis Pembangunan Pertanian resmi diluncurkan dua tahun lalu. Program yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) itu merupakan inovasi baru Kementerian Pertanian dalam rangka menciptakan pusat data dan informasi pertanian. Selain data dan informasi, kostratani juga dijadikan sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian, pusat pembelajaran, pusat konsultasi agribisnis serta pusat pengembangan jejaring kemitraan.

Banyak pihak yang mengapresiasi gagasan Mentan tersebut, termasuk Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Luhut menyebut kostratani merupakan gagasan cemerlang yang masuk kategori maju, mandiri, dan modern. Untuk diketahui, maju, mandiri, dan modern merupakan visi Kementerian Pertanian tahun 2020-2024 sebagai penjabaran dan dukungan terhadap visi Presiden dan Wakil Presiden RI tahun 2020 - 2024: "Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong".

Kostratani bermarkas di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) yang ada di kecamatan. Sistem kerja kostratani berjenjang terdiri atas Komando Strategis Pembangunan Pertanian Daerah (Kostrada) yang berkedudukan di kabupaten dan Komando Strategis Pembangunan Pertanian Wilayah (Kostrawil) untuk tingkat provinsi sebagai pembina. Sedangkan untuk tingkat pusat dinamai Komando Strategis Pembangunan Pertanian Nasional (Kostratanas) yang berkedudukan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian sebagai pengendali dan monitoring.

Dalam hierarki kostratani, BPP berperan sebagai sekretariat atau markas gerakan. Sebagai pusat gerakan kegiatan pembangunan pertanian di kecamatan, tentu peran BPP mesti dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi informasi. Pasalnya peran BPP sangat menentukan keberhasilan pembangunan pertanian melalui gerakan bersama, koordinasi, dan sinergisitas dengan berbagai pihak terkait dalam rangka pembangunan pertanian di kecamatan.

Sebagai pusat berbagai gerakan pembangunan pertanian, kostratani dituntut untuk selalu memperbarui data dan informasi lapangan. Dikutip dari http://kalteng.litbang.pertanian.go.id, kostratani berperan dan terlibat dalam perencanaan pembangunan pertanian di kecamatan serta percepatan pelaksanaan kegiatan meliputi calon penerima calon lokasi (CPCL)/eRDKK, gerakan percepatan tanam, peningkatan populasi ternak, gerakan pengendalian hama terpadu, distribusi saprodi, asuransi usaha tani padi (AUTP)/asuransi usaha ternak sapi (AUTS) serta kredit usaha rakyat (KUR).

Kostratani sebagai pusat pembelajaran untuk peningkatan kapasitas SDM pertanian berperan dalam fasilitasi pembelajaran dan percontohan. Kostratani sebagai pusat konsultasi agribisnis merupakan tempat para pelaku utama dan pelaku usaha berkonsultasi terkait on farm dan off farm meliputi budi daya, hama penyakit tanaman, panen, dan pasca-panen serta pemasaran pada komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

Dengan peran yang besar tersebut, kostratani mesti kuat. Tak saja dari sisi sumber daya manusia (SDM), perangkat kerja juga harus didukung pula. Karena itu Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melengkapi sejumlah peralatan pendukung kostratani, meliputi personal computer/PC, jaringan internet, TV, webcam, kabel HDMI dan drone untuk pemetaan. Perangkat peralatan tersebut ditempatkan pada agriculture war room (AWR) sebagai pusat kendali gerakan pembangunan pertanian.

Ditargetkan 5.646 kelembagaan BPP bertransformasi ke kostratani yang berbasis IT (information and technology) dan terkoneksi dengan kostratanas di tingkat pusat. Karena itu ada banyak harapan yang dibebankan kepada kostratani dalam menggerakkan kegiatan pertanian di tingkat desa dan kecamatan. Kostratani menjadi tumpuan dalam berbagai gerakan pembangunan pertanian, termasuk perencanaan hingga eksekusi lapangan.

Menjadikan BPP yang berkedudukan di kecamatan sebagai markas kostratani merupakan gagasan yang tepat. Pasalnya, kecamatan merupakan ujung tombak pembangunan di negeri ini. Dari sana aktivitas bermula dan di sana pula gerakan dimulai.

Karena itu tidak berlebihan ketika Mentan SYL mengatakan bahwa kekuatan Indonesia Raya ada di kecamatan karena kecamatan disebut SYL menjadi ujung tombak dalam koordinasi pemerintahan di tingkat paling bawah atau tingkat desa dan kelurahan. Kecamatan kata SYL adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat yang dapat menjawab harapan masyarakat secara langsung.

Karena itu dalam pedoman operasional kostratani tingkat kecamatan yang diterbitkan Kementerian Pertanian, camat ditunjuk sebagai komandan kostratani. Sedangkan koordinator BPP atau penyuluh pertanian yang kompeten dijadikan pelaksana harian komando lapangan.

Sementara itu, kepala desa dan lurah menjadi anggota bersama Penyuluh Pertanian, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), petugas Pengendali Hama Penyakit (PHP), Pengawas Benih Tanaman (PBT), Petugas Inseminasi Buatan (IB), Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Bibit Ternak (Wasbitnak), pengawas Mutu Pakan (Wastukan), petugas Pertanian Kecamatan/Mantri Tani, serta petugas lainnya yang terkait. Peran camat sebagai komandan kostratani tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan sinergisitas program dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di tingkat kecamatan. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved