Breaking News:

Horizzon

Posisi Polisi di Kasus Baleno Hangus di Tengah Antrean BBM

Rasanya ada yang aneh sekaligus janggal, seorang yang harus kehilangan mobil karena terbakar justru melarikan diri.

Posisi Polisi di Kasus Baleno Hangus di Tengah Antrean BBM
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr/Pemred BANGKA POS GROUP

JIKA pemiliknya tidak melarikan diri, maka kasus terbakarnya Baleno BN 1587 LK di SPBU Jalan Koba, Senin (13/12/2021) malam lalu, tentu dengan mudah bisa kita lupakan. Sebab, selain tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut juga hanya menimpa mobil dan tidak sampai merambat ke SPBU. Namun, kasus ini menjadi menarik justru ketika pemiliknya melarikan diri dan bahkan menghilang entah ke mana.

Rasanya ada yang aneh sekaligus janggal, seorang yang harus kehilangan mobil karena terbakar justru melarikan diri. Ada sesuatu yang ingin disembunyikan oleh pengendara Baleno BN 1587 LK atas peristiwa tersebut.

Jika kebakaran tersebut murni kecelakaan, maka sesungguhnya tidak ada yang perlu ditakutkan oleh pengendara mobil tersebut. Namun, tindakan menghilang yang dilakukan oleh pengendara Baleno itu justru menyisakan tanda tanya besar.

Sampai polisi mau kerja serius menghadirkan pengemudi Baleno tersebut, maka selama itu polisi juga membiarkan spekulasi yang terjadi di masyarakat terkait dengan apa yang terjadi. Termasuk jika ada sebagian masyarakat yang menduga bahwa pengendara Baleno tersebut sengaja mau membakar mobilnya sebagai bentuk kekecewaan terhadap kelangkaan BBM yang kebetulan tengah terjadi di Bangka.

Dugaan ini bisa masuk akal dan bisa menjawab mengapa pemilik atau pengendara mobil tersebut sampai harus melarikan diri dan sembunyi. Jika motifnya adalah melakukan pembakaran dan modusnya juga jelas sebagaimana spekulasi ini, maka wajar jika yang bersangkutan melarikan diri. Sebab, jika motif dan modus itu benar, maka ancaman hukumannya tentu cukup berat.

Dugaan kedua yang paling masuk akal adalah, Baleno BN 1587 LK itu terbakar di SPBU Jalan Koba saat sedang digunakan untuk mengerit alias membeli SPBU untuk ditampung dan kemudian digunakan untuk kepentingan lain, baik dijual kembali secara eceran atau digunakan untuk industri atau penambangan.

Dugaan ini agak rasional, sebab dari olah TKP awal yang dilakukan, polisi juga menemukan jeriken dan selang tak jauh dari lokasi mobil terbakar. Jeriken dan selang itu layaknya 'infus' yang biasa digunakan untuk memompa keluar isi tangki BBM dari mobil.

Beberapa saksi di lokasi juga menyebutkan, jeriken itu dikeluarkan oleh pengemudi dari kabin depan mobil saat api mulai muncul dari kap mesin. Setelah mengeluarkan jeriken dan slang, pengemudinya langsung menghilang dan tak diketahui rimbanya hingga saat ini.

Selain dua spekulasi tersebut, tentu masih ada banyak kemungkinan lain yang bisa menjelaskan situasi ini. Namun yang justru juga tak kalah menariknya adalah sikap penyidik yang seolah juga membiarkan spekulasi publik menjadi liar terkait dengan sikap mereka yang seolah tidak sensitif dengan situasi yang sedang terjadi di Bangka berbarengan dengan peristiwa terbakarnya Baleno tersebut.

Semua tahu, Baleno BN 1587 LK terbakar di saat publik Bangka Belitung sedang diteror oleh kelangkaan BBM. Hampir seluruh SPBU diwarnai oleh panjangnya antrean mobil dan sepeda motor yang ingin memperoleh minyak.

Bahkan Baleno itu juga terbakar di SPBU yang juga tengah diserbu oleh antrean pengendara mobil dan sepeda motor yang mengular di pintu masuk SPBU. Sementara Baleno ini terbakar saat tengah mengisi BBM dan kemudian berhasil didorong menjauh hingga ke pintu keluar SPBU.

Semoga ini salah. Update terakhir, kasus ini masih ditangani oleh Polsek Pangkalanbaru. Kasus yang memiliki sensitivitas cukup tinggi ini kenapa tidak ditarik oleh jajaran Polres Pangkalpinang atau Polda Babel. Apakah polisi sudah kehilangan sensitivitasnya terhadap publik yang ingin tahu ending dari kasus ini?

Atau polisi kita di Babel tak ingat konsep Presisi yang digagas Jenderal Listyo Sigit yang harus prediktif, responsibilitas, transparan, dan berkeadilan sehingga membiarkan publik berandai-andai dengan kasus Baleno terbakar di SPBU Jalan Koba ini?

Sikap polisi yang cenderung mengulur-ulur waktu penuntasan kasus ini dinilai sebagai sikap yang tidak independen oleh publik. Sikap penyidik yang lambat menuntaskan kasus ini menguatkan dugaan publik bahwa ada oknum-oknum aparat penegak hukum di balik silang sengkarut pengerit yang berkeliaran di SPBU.

Jika ini dibiarkan, maka hal yang paling berbahaya adalah hilangnya kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum yang tidak independen dan sarat kepentingan dalam menangani sebuah perkara.

Dugaan ini bisa jadi salah dan berlebihan. Dan yang pasti, penyidik kepolisian bisa menepis ini dengan menjawab keraguan publik atas integritasnya menangani kasus Baleno terbakar di SPBU Jalan Koba ini.

Terakhir dari berita yang dirilis, penyidik sudah tahu identitas dari pemilik atau pengendara Baleno tersebut. Polisi juga sebatas berharap yang bersangkutan datang untuk menyerahkan diri.

Untuk menjawab keraguan publik, penyidik seyogianya menggunakan kekuatan dan kewenangannya untuk menuntaskan kasus ini. Untuk meyakinkan bahwa polisi serius, tak elok juga jika kasus yang memiliki sensitivitas tinggi ini dibiarkan ditangani oleh unit kerja sekelas Polsek Pangkalanbaru.

Kita percaya, polisi mampu menunjukkan sikap profesional dalam kasus ini. Siapa pun pengemudi atau siapa pun pihak di belakang pengemudi Baleno yang terbakar, maka tanda tanya besar publik Bangka Belitung yang melihat drama Baleno terbakar di saat BBM langka akan terjawab. (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved