Breaking News:

Menyikapi Bentuk Intoleransi, Radikalisme, Terorisme Di Indonesia dan Penanggulangannya

masih terlalu banyak celah bagi faham intoleran, radikalisme dan terorisme untuk dapat masuk ke berbagai sektor kenegaraan Indonesia

Penulis: iklan bangkapos | Editor: Fery Laskari
Istimewa
Horas Silaen 
Menyikapi Representasi Bentuk Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme Di Indonesia Beserta Penanggulangannya
Oleh
Horas M Silaen, M.Psi
Menyikapi Representasi Bentuk Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme Di Indonesia Beserta Penanggulangannya Oleh Horas M Silaen, M.Psi (Istimewa)

BANGKAPOS.COM -- Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari banyaknya suku bangsa dan agama yang dapat melahirkan banyaknya budaya. Tentunya upaya dalam mepersatukan Indonesia tersebut sangatlah tidak mudah karena dari setiap sektor wilayah memiliki konsep sub-kultural yang berbeda-beda sehingga secara visi konseptual untuk mencapai cita yang diingkan selalu banyak challenge yang membayanginya. Dimana challenge itu hadir dalam bentuk sikap intoleransi, radikalisme dan terorisme yang timbul dari berbagai pemikiran setiap individu, kelompok masyarakat, bahkan hal itu dapat terkeruhi dari budaya luar yang hadir di tengah masyarakat Indonesia.

Intoleransi merupakan suatu sikap seorang individu yang timbul karena dasar ketidak senangan dengan cara pandang dari pihak lain yang tidak memiliki kesamaan dengan dirinya. Sikap intoleransi dapat diekspresikan melalui berbagai bentuk, seperti gaya komunikasi yang menunjukan tidak saling menghormati dengan cara menjatuhkan atau merendahkan cara pandang seseorang. Secara praktis persoalan intoleransi yang sering terjadi di Indonesia seperti sikap tidak menghormati antar sesama penganut agama, dimana agama satu merendahkan agama lainnya dan hal itu dapat dilakukan secara timbal balik. Intoleransi juga merupakan ciri sikap seseorang individu ataupun kelompok yang mengarah kepada faham radikalisme dan terorisme.

Radikalisme merupakan suatu faham yang timbul karena ingin adanya perubahan untuk memperbaharui suatu sistem kenegaraan dari berbagai aspek, contohnya seperti dari aspek agama, ekonomi, sosial dan politik. Faham radikalisme selalu didasari dengan anggapan bahwa seorang individu ataupun kelompok itu tidak memeproleh keadilan dari pemerintah, rasa kecewa, ataupun akibat pengaruh budaya asing yang dianggap pantas untuk diaplikasikan di negaranya tersebut, Namun, faham ini memiliki jalan yang selalu diekspresikan dalam bentuk intimidasi dan kekerasan. Sehingga faham ini dinilai tidak sesuai dan selalu ditolak oleh berbagai negara.

Begitupun dengan Indonesia yang sangat jelas menolak faham radikalisme ini karena Indonesia telah memiliki falsafah paten yang tidak dapat dirubah karena sudah mengakomodir segala bentuk yang dicita-citakan oleh setiap agama, suku, bangsa yang ada di Indonesia. Tentunya faham radikal yang dibawa otomatis akan tertolak dengan sendirinya.
Sikap radikalisme yang muncul di Indonesia di representasikan oleh organisasi-organisasi tertentu yang selalu menuntut untuk merubah Pancasila, anti terhadap bhineka (keberagaman), anti sistem kenegaraan NKRI, dan anti UUD 1945. Namun dalam mewujudkan cita-cita mereka melakukannya dengan membentuk jaringan oposisi yang selalu bertindak mengancam, membuat kegaduhan dengan menghadirkan isu-isu yang bersifat kebencian terhadap pemerintahan Indonesia sehingga hal itu sangat bersifat kontroversi yang menghadirkan kecaman dari berbagai masyarakat. Bahkan tindak tanduk jalan terakhir yang biasa dilakukan dengan cara meneror sehingga hal ini menjadi benih timbulnya faham terorisme yang akan merusak tata tertib keamanan nasional.

Terorisme merupakan suatu faham yang dipicu karena sikap intoleran dan ujung dari eksekusi faham radikalisme yang tidak tercapai. Terorisme merupakan suatu perbuatan keinginan yang menerapkan metode kekerasan untuk meneror/menakut-nakuti sekelompok masyarakat atau negara secara meluas yang bertujuan untuk mengintimidasi kelompok atau negara tersebut, dimana dalam aksinya selalu menghadirkan banyak.korban Sama halnya dengan radikalisme, faham terorisme muncul karena ada faktor dari rasa kekecewaan atau rasa tidak memperoleh keadilan, atau karena ingin menerapkan sistem yang sesuai dengan keinginan individu atau kelompok tersebut tanpa mempertimbangkan pihak lainnya. Tentunya perbuatan tersebut dinilai bertentangan dengan paradigma kenegaraan Indonesia yakni Pancasila dan UUD 1945. Bentuk aksi terorisme di Indonesia sering terjadi dan hal itu direpresentasikan oleh berbagai organisasi yang ada di Indonesia, seringnya organisasi tersebut bertransformasi mengatasnamakan salah satu agama ataupun salah satu suku yang ada di Indonesia seperti; Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah anshru Tauhid (JAT), Jamaah Anshar Daulah (JAD), Jamaah Islamiyyah (JI), GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Kelompok Kriminal Bersenjat (KKB) di Papua dan lain sebagainya. Aksi yang dilakukan biasanya dengan meledakan bom di tempat peribadatan kelompok lain, tempat umum, wisata, dan melakukan aksi perang melawan instrument keamanan negara seperti Polri dan TNI.

Penanggulang aksi intoleran, radikalisme dan terorisme tentunya sudah ditanggapi secara serius dan sigap oleh Pemerintahan Indonesia dengan menghadirkan lembaga khusus yang berperan melawan aksi-aksi tersebut, lembaga itu dikenal dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Dimana BNPT sekarang memfokuskan upaya penanggulan untuk mencegah faham tersebut ke Perguruan Tinggi, karena biasanya faham tersebut dipandang sering melakukan penetrasi kepada para mahasiswa yang dianggap mudah untuk mnerapkan doktrin-doktrin mengenai sikap dan faham tersebut. Karena hal itu memanfaatkan melalui sikap kritis mahasiswa yang ingin selalu merasa tahu akan sesuatu yang baru, tentunya hal ini sangat rapuh diserang oleh sikap dan faham-faham tersebut. Upaya penanggulangan tersebut dinilai efektif karena dugaan kuat akan hadirnya faham intoleran, radikalisme dan terorisme melalui jalur perguruan tinggi. Tentunya langkah tersebut bersifat preventif untuk menjaga generasi selanjutnya agar tidak terlibat dalam kegiatan yang didasari faham intoleran, radikalisme dan terorisme.
Akan tetapi masih terlalu banyak celah bagi faham intoleran, radikalisme dan terorisme untuk dapat masuk ke berbagai sektor kenegaraan Indonesia, karena faham-faham ini selalu berafiliasi mengatasnamakan HAM (Hak Asasi Manusia) dimana segala bentuk kebebasan berekspresi masih terlalu majemuk/abstrak untuk dispesifikasikan dalam nilai kehidupan bernegara. Tentunya hal ini harus diberikan line up batasan agar dapat menimbulkan pemahaman perbedaan mengenai konsep praktis terhadap paradigma yang dapat diimplementasikan atau tidak dapat diimplementasikan oleh sistem kenegaraan di Indonesia.

Oleh:
Horas M Silaen, M.Psi

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved