Breaking News:

Tribunners

Ageisme

Perilaku ageisme bisa tumbuh di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Tentu persoalan moral ini perlu diwaspadai

Editor: suhendri
Ageisme
ISTIMEWA
Martin da Silva, Pr - Pengajar di SMAK Seminari Mario John Boen Pangkalpinang

KITA telah berada di tahun 2022. Pada tahun yang baru ini perlu diwaspadai perilaku ageisme pada peserta didik. Memprihatinkan bila sekolah lebih berkonsentrasi pada persoalan perundungan, radikalisme, intoleransi, dan learning loss.

Mengapa? Karena perilaku ageisme yang diartikan sebagai diskriminasi usia memberi ketidaknyamanan peserta didik untuk mengembangkan karakter yang baik. Sebab, peserta didik mendapat stereotip negatif, prasangka yang menakutkan dan mengalami diskriminasi baik secara fisik maupun secara psikis.

Perilaku ageisme bisa tumbuh di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Tentu persoalan moral ini perlu diwaspadai orang tua dan para pendidik di sekolah.

Ageisme di Keluarga

Intensitas perjumpaan peserta didik di keluarga jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah. Mereka lebih banyak di rumah bersama orang tua dibandingkan dengan sekolah. Pendidik yang mengajari mereka selalu berganti-ganti, sedangkan orang tua dan keluarga tidak pernah diganti. Dalam kondisi demikian, ageisme tanpa disadari tumbuh subur di lingkungan keluarga.

Seperti apa ageisme tumbuh di keluarga? Perilaku ageisme tumbuh dalam kondisi di mana orang tua membangun prasangka bahwa anaknya tidak mampu melaksanakan tugas yang diberikan di sekolah. Dengan demikian, tugas tersebut dikerjakan oleh orang tuanya.

Ageisme juga tumbuh kala orang tua takut anaknya gagal menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh pendidik atau orang lain. Ageisme juga tumbuh ketika orang tua berkarakter permisif, yaitu orang tua yang sangat mencintai anaknya tetapi tidak memberikan panduan dan arahan yang jelas kepada anaknya sehingga sang anak merasa dicintai namun tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab.

Ageisme juga tumbuh ketika anggota keluarga yang lebih tua meremehkan anggota keluarga lainnya lebih muda sehingga kepercayaan tidak diberikan sepenuhnya kepada keluarga yang lebih muda. Tindak ageisme yang paling membahayakan di keluarga adalah orang tua yang merasa khawatir dan ragu akan masa depan anaknya sehingga menentukan masa depan anaknya. Anak dijadikan seperti boneka. Anak menjalankan semua karena keinginan dan diarahkan oleh orang tuanya. Anak seperti boneka hidup atau robot.

Tindak ageisme dalam keluarga tersebut menghambat pertumbuhan karakter peserta didik untuk menjadi lebih baik. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki harga diri rendah, kurang mampu berempati, apatis, kurang mengontrol diri dan memiliki rasa bersalah yang deskriptif. Akibat yang paling fatal adalah anak memiliki pengetahuan moral minim, kesadaran moral rendah, dan ragu mengambil tindakan moral yang baik dan benar.

Ageisme di Sekolah

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved