Jumat, 10 April 2026

Tribunners

Bahasa Inggris, Bahasa Dunia Atau Hanya Rutinitas di Sekolah?

Posisi Indonesia sendiri bahkan kalah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura yang berada di peringkat 10

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Sunawal, S.Pd. - Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Kelapa Kampit 

"Penempatan bahasa Inggris sebagai bagian penting dari kehidupan individu harus dijadikan sebagai langkah awal membawa kemajuan dalam peradaban bernegara."

ABAD ke-17 dalam bingkai sejarah persebaran bangsa Eropa, Inggris memulai fase baru dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Bagaimana tidak, Inggris menjadi salah satu bangsa Eropa yang mencatatkan diri sebagai bangsa dengan penguasaan (kolonialisme-red) terbanyak dibandingkan dengan bangsa Eropa lainnya. Bahkan tidak ada suatu benua yang kawasannya tidak dikuasai oleh Inggris. Hal itulah yang membuat Inggris mendapat julukan sebagai negara "The Sun Never Set" yang berarti bahwa di mana pun matahari bersinar, di situlah terdapat kekuasaan Inggris.

Kolonialisasi yang dilakukan Inggris ini, kemudian berpengaruh besar terhadap perkembangan budaya, sistem pemerintahan, ekonomi, bahkan bahasa. Tidak sedikit bangsa di luar Eropa yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam keseharian masyarakatnya. Kekokohan bahasa Inggris kemudian kembali diperkuat ketika berakhirnya perang dunia ke-2, yaitu dengan dibentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di mana Inggris menjadi salah satu dari lima negara pemegang hak veto yang secara tidak langsung menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa komunikasi utama di forum-forum PBB.

Penetapan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa wajib di PBB kemudian membawa dampak pada persebaran penggunaan dan pembelajaran bahasa Inggris di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia secara formal bahkan telah diperkenalkan sejak dari bangku sekolah dasar hingga bangku universitas. Akan tetapi, pengenalan bahasa Inggris bahkan sejak dini tidak membawa dampak yang signifikan bagi perkembangan literasi atau kemampuan berbahasa Inggris di Indonesia.

Dilansir dari wartaekonomi.co.id (18 November 2020) kemampuan bahasa Inggris di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Berdasarkan EF English Proficiency Index edisi tahun 2020 atau kecakapan bahasa Inggris 2,2 juta orang bukan penutur asli bahasa Inggris dari 100 negara dan wilayah, Indonesia menduduki peringkat ke-74 bersama Bahrain dan Maroko. Posisi pertama diduduki oleh Belanda yang disusul Denmark dan Finlandia.

Posisi Indonesia sendiri bahkan kalah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura yang berada di peringkat 10, Filipina di peringkat 27 dan Malaysia di peringkat 30. Temuan lain dari data tersebut, di seluruh dunia orang-orang berusia 26-30 tahun memiliki kecakapan bahasa Inggris tertinggi. Namun orang dewasa yang berusia di atas 40 tahun memperoleh nilai lebih baik dibandingkan orang-orang berusia 18-20 tahun.

Berdasarkan pada data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan bahasa Inggris di Indonesia sangatlah rendah. Terdapat beberapa faktor yang kemudian menjadi penyebab hal tersebut.

Pertama, dalam dunia pendidikan pemerataan pendidikan tidak bisa diabaikan. Sekolah-sekolah yang terletak di kota, baik swasta maupun negeri, memiliki fasilitas yang mendukung dan lengkap. Bahkan dalam proses pembelajaran di luar sekolah sekalipun para siswa di kota dapat dengan mudah mengikuti kursus bahasa Inggris baik dengan guru lokal maupun penutur asli (native speaker). Hal tersebut berbanding terbalik dengan sekolah yang terdapat di desa. Siswa-siswa di sekolah desa hanya mendapat pengetahuan bahasa Inggris hanya dari sekolah. Itu pun terbatas hanya pada penggunaan buku pelajaran saja.

Kedua, kurikulum dan metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Peranan kurikulum dirasa penting karena para pendidik atau guru dalam membuat sebuah metode harus berdasar hal tersebut. Sedangkan untuk metode pembelajaran sendiri harus dikuasai oleh pendidik dengan melihat kondisi kelas dan kemampuan yang dimiliki siswa. Sangat tidak mungkin kemudian memaksakan sebuah metode pembelajaran digunakan kepada seluruh siswa. Sedangkan siswa sendiri memiliki keunikan dan keahlian yang berbeda tiap individu.

Ketiga, penempatan dan kesadaran berbahasa Inggris. Mencermati posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a foreign language) adalah penyebab utama mengapa kemampuan berbahasa Inggris anak-anak rendah. Bahasa Inggris atau pendidikan bahasa Inggris hanya ditempatkan pada posisi "kewajiban" atau rutinitas di sekolah, bukan sebagai akses untuk pengembangan diri dalam berbahasa.

Selain itu, sekolah atau institusi pendidikan kurang menekankan pada penting dan esensi dari bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini kemudian membuat bahasa Inggris hanya dipelajari sebatas teori saja. Berbanding terbalik dengan konsep belajar suatu bahasa: listening (mendengarkan), speaking (berbicara), reading (membaca), writing (menulis).

Dari permasalahan di atas kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat tiga poin yang perlu diperhatikan dalam langkah memperbaiki dan membangkitkan kemampuan dan pembelajaran bahasa Inggris.

Pertama, selama pemerataan akses dan kualitas pendidikan belum merata, selama itu pula pengetahuan atau pembelajaran bahasa Inggris tidak akan tercapai maksimal.

Kedua, pemahaman guru/pendidik terhadap kemampuan berbahasa siswa dan penerapan metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran bahasa Inggris sendiri padahal tidak hanya terbatas pada penggunaan buku pelajaran. Banyak media yang dapat digunakan seperti film, musik, dan lain-lain.

Ketiga, perlunya penerapan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata seperti halnya penggunaan bahasa Inggris di Kampung Inggris, Jepara. Hal tersebut kemudian memancing bahkan memaksa individu untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai sebuah kebiasaan.

Keempat, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan harus merancang kurikulum yang tepat dengan melihat kondisi di tiap-tiap daerah karena kebutuhan dan kualitas siswa dan sekolah berbeda. Selain itu, kualitas seorang guru menjadi ujung tombak dari tercapainya kualitas dan target yang ingin dicapai. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved