Breaking News:

Militer dan Kepolisian

Siap Hadapi China, Filipina Borong Rudal BrahMos India, Inilah Kemampuan Mengerikan Rudal Tersebut

Ketegangan di Laut Cina Selatan meningkat tahun lalu, dengan Manila dan Beijing saling menuduh terjadi pelanggaran teritorial

Editor: Iwan Satriawan
Wikipedia
Rudal jelajah BrahMos 

BANGKAPOS.COM-Negeri Jiran Filipina setuju membeli sistem rudal anti-kapal dari India.

Pembelian sistem rudal ini untuk menopang sistem keamanannya dalam menghadapi peningkatan agresi China di Laut China Selatan.

AFP melaporkan, militer Manila adalah salah satu pasukan dengan perlengkapan yang paling buruk di Asia, sebelum pendahulu Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Benigno Aquino, memulai program modernisasi sederhana pada 2012

Meski demikian, perlengkapan militernya masih belum bisa menandingi negara adidaya tetangganya, China.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana memberikan sedikit rincian tentang kontrak senilai hampir 375 juta dollar AS (Rp 5,3 triliun) yang diberikan kepada BrahMos Aerospace untuk, memasok sistem rudal anti-kapal berbasis pantai ke Angkatan Laut Filipina.

BrahMos - perusahaan patungan antara India dan Rusia - telah mengembangkan rudal jelajah yang menurut kementerian pertahanan India adalah yang tercepat di dunia.

Baca juga: Pangkat Terendah Saja Gajinya Rp 23 Juta, Inilah Daftar Gaji yang Diterima Tentara Amerika Serikat

Filipina akan menjadi negara pertama yang membelinya.

Kementerian pertahanan India menolak berkomentar menurut laporan AFP.

Kesepakatan itu mencakup pelatihan untuk operator dan pengelola serta dukungan logistik, kata Lorenzana di Facebook di mana ia mengunggah salinan "Pemberitahuan Penghargaan".

Duterte telah berusaha memperoleh sistem rudal untuk militer Filipina di bawah program modernisasi yang disebut "Cakrawala Kedua".

"Itu bagian dari pertahanan teritorial kami," kata Kolonel Ramon Zagala, juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina.

Sistem itu akan bertindak sebagai pencegahan bagi calon agresor karena "Anda dapat mencapai target dari jauh", katanya kepada AFP.

Baca juga: Pengen Jadi Polwan, Inilah Gaji dan Tunjangan yang Diperoleh dari Pangkat Terendah hingga Tertinggi

Analis militer dan sejarawan Jose Antonio Custodio mengatakan kepada AFP bahwa sistem itu kemungkinan akan ditempatkan di sisi barat pulau utama Luzon atau di pulau Palawan. Tetapi dia mengesampingkan pulau-pulau Spratly karena "kurangnya tempat penyembunyian".

Ketegangan di Laut Cina Selatan meningkat tahun lalu, dengan Manila dan Beijing saling menuduh terjadi pelanggaran teritorial.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved