Berita Bangka Barat
Belajar Daring Tak Efektif, Fenomena Pelajar Beralih TI Terjadi, Banyak Anak Terancam Putus Sekolah
Sistem pembelajaran daring atau online akibat pandemi Covid-19 yang sempat diberlakukan di sekolah membuat sejumlah dampak negatif bagi para pelajar
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: nurhayati
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sistem pembelajaran daring atau online akibat pandemi Covid-19 yang sempat diberlakukan di sekolah membuat sejumlah dampak negatif bagi para pelajar, hingga memunculkan fenomena anak yang berstatus pelajar mencari waktu dengan bekerja di Tambang Inkonvensional (TI).
Kondisi ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat, Rukiman terkait angka putus sekolah yang terjadi akibat dampak pandemi Covid-19.
"Daring yang di rumah ini jaringan masih susah, gawai belum tentu ada, orang tua susah mendampingi jadi banyak kendala. Apalagi sekarang musim banyak TI, jadi kalau anak daring khawatir pada ke sana," kata Rukiman, Senin (17/01/2021).
Sulitnya pengawasan terhadap para pelajar, diakui Rukiman memang menjadi permasalahan namun pihaknya berharap peran aktif orang tua.
"Itu jelas lah, karena pandemi kelemahan daring yang dikhawatirkan ya ini tadi anak tanpa orang tua yang tidak selalu mendampingi khawatir anak larinya ke sana (TI). Semua anak yang jaman pandemi keenakan, kami tarik kembali diharapkan semuanya berada di sekolah," jelasnya.
Baca juga: Ratusan Warga Airgegas Minta Hukum Berat Pelaku Pencabulan 3 Bocah di Bangka Selatan
Baca juga: Tiga Ribu Orang Babel Tak Masuk Kategori Miskin Lagi, Ini Penyebabnya
Instruksi kepada para kepala sekolah pun sudah dilakukan, mengingat pentingnya peran sekolah dalam melakukan berbagai bimbingan terhadap para pelajar.
"Sudah kami imbau selama pandemi dia keenakan di TI itu, jangan sampai putus harus diajak baik itu lewat orang tua atau gurunya untuk ke sekolah," kata Rukiman.
Sementara itu untuk jumlah siswa yang putus sekolah selama pandemi Covid-19, Rukiman tidak menjelaskan secara gamblang namun mengakui ada siswa yang putus sekolah selama pandemi.
"Akibat pandemi tapi gak banyak, sekitar satu atau dua orang saja. Itu pasti ada tapi ini di seluruh kabupaten Bangka Barat, jadi bukan di setiap sekolah," ucapnya.
Baca juga: PNS Pemprov Babel Keluhkan Persoalan Gaji Belum Cair, Bakuda Berikan Penjelasan
Baca juga: Pertahankan Kepatuhan Standar Pelayanan Publik, Pemkab Bangka Terima Penghargaan dari Ombudsman
Mengantisipasi anak putus sekolah sejumlah layanan sekolah seperti di bidang konseling akan dimaksimalkan, agar para siswa mendapatkan pemahaman dalam dunia pendidikan.
"Kita ketat, artinya ini tugas bimbingan konseling, bimbingan karir, bimbingan penyuluhan inilah gunanya mereka. Jadi ketika anak itu sedang mengalami hal seperti itu, merupakan tugas guru-guru itu. Lalu kalau akhirnya anak ini tetap tidak mau kembali sekolah, kami ada pendidikan kesetaraan. Namun paket bukan jadi solusi, karena diharapkan semua ada di sekolah reguler," ungkapnya.
(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220117-rukiman.jpg)